Oleh Yasintus Dawi

Riuh ombak sore itu, menjadi teman terbaik meyaksikan senja yang hendak tenggelam di langit barat. Suasana pantai nampak sepi. Hanya beberapa bocah yang sedang asyik berlari-lari di bibir pantai, seolah tidak menghiraukan gelap yang mulai mengintip.

Aurelya, masih betah dengan kesendiriannya. Pandangannya melayang jauh, jatuh pada ujung lautan yang membentang di depannya. Raut wajahnya enggan tersenyum, meski sekadar membalas sapa senja yang hendak berlalu. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya. Air matanya tiba-tiba menetes, perlahan membasahi pipi mungilnya. Entah apa yang sedang Ia rasakan. Hanya Dia sendiri yang tahu.

Angin malam yang berhembus, perlahan membuat Aurelya bangun dari lamunannya. Ia segera bangkit dari tempat duduknya. Berjalan beberapa langkah ke depan, sebelum langkahnya tiba-tiba terhenti. Rupanya, ada sesuatu yang terus bergejolak di dalam hatinya. Tak sempat Ia sampaikan kepada senja yang berlalu tanpa gaduh. Tiba-tiba, Ia menangis.

“Ahh, Tuhan! Mengapa Engkau harus memanggil mereka begitu cepat? Aku sangat menyanyangi mereka, aku masih membutuhkan mereka!,” teriaknya keras.

Rupanya, Ia kehilangan orang yang sangat dicintainya. Menghantar Ia pada dilematis iman yang selama ini dipegang keluarganya.

Langit malam mulai bertabur bintang, sedang riuh ombak makin kencang. Bocah-bocah yang beberapa saat lalu berlari di bibir pantai, kini tidak terlihat lagi. Aurelya, kembali memilih duduk di atas buliran pasir, sembari memikirkan cara terbaik pasrah untuk semua keadaan, tanpa harus terluka. Cara terbaik merelakan, tanpa harus menangis. Cara terbaik merindukan, tanpa harus berjumpa. Sesekali, Ia menghamburkan pasir ke udara, lalu berteriak sekencang-kencangnya. Ia sungguh tenggelam dalam kenyataan hidup yang menyayat hatinya. Kadang, air matanya lelah mengguyur bumi untuk kisahnya yang pilu. Membuatnya terus merindu dalam kepasrahan.

Sebagai anak sulung dalam keluarga, Aurelya, kerap merasa terbiasa mengahadapi pahitnya kehidupan. Namun, yang tak pernah terlintas dalam benaknya, adalah kehilangan orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Kala itu, tragedi tenggelamnya sebuah kapal yang merenggut nyawa, Ayah, Ibu dan Adiknya bersamaan. Sungguh, hari itu menjadi hari yang kelam baginya. Sebuah tragedi yang menyisakan piluh sepanjang hidupnya. Tak akan Ia lupakan. Hari-hari setelah itu, Ia lalui tanpa kasih dan sayang dari mereka, tanpa belaian manja mereka, tanpa pesan penyejuk hati dari mereka. Ia benar-benar
menjalani sisa hidupnya seorang diri.

Kabar yang Ia terima kalah itu, bagaikan kabar yang menghentikan aliran darahnya. Seolah ada kilat yang menyambar tanpa adanya awan. Jantungnya seperti berhenti memompa darah ke seluruh tubuh. Ia menangis sejadi-jadinya. Kata-kata yang datang untuk menguatkannya, tak mampu menopang jiwanya yang hancur. Kalimat penghiburan dari kerabatnya, tak mampu menghentikan tangisnya yang pecah.

“Ah, Ayah-Ibu, apakah kalian tega meninggalkan aku seorang diri? Apakah kalian ingin melihatku selalu menangis?,” tanyanya dalam hati.

Menjadi anak perempuan yang menjalani hidup seorang diri, membuatnya selalu memikirkan tentang kesuksesan, kemapanan dan kebahagiaan. Kenyataan, yatim piatu membuatnya tidak pernah berhenti memikirkan masa depan. Walau terkadang, hal itu
membuatnya menangis saat malam tiba. Ia masih belum sanggup menerima kenyataan hidup sesulit ini. Perlahan, Ia mulai menjadi wanita tegar, meskipun luka itu masih membekas. Ia pasrahkan semuanya dalam doa, sembari melangitkan nama Ibu, Ayah dan Adiknya di ujungamin dari moganya. Ia menyadari, cinta yang putih bukan hanya lahir dari mata yang menangis, tetapi juga dari hati yang tersobek. Cinta itu bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga mengiklaskan.

Setelah beberapa bulan kepergian keluarganya, Ia mulai mencoba menjadi wanita tegar. Ia berusaha menerima kenyataan, bahwa mereka tak akan pernah kembali ke dalam dekapannya. Mungkin hanya lewat mimpilah, Ia dapat melihat mereka. Mungkin lewat mimpi, Ia mampu melepas rindunya walau sebentar. Rasa rindu yang terlalu, membuatnya duduk diam di hadapan pusara keluarganya itu, sembari berdoa. Di makam itu, segala moganya dipadukan dengan air mata yang terus menetes. Kini, Ia hanyalah wanita rapuh, yang demikian lelah menata langkah. Di hadapan makam itu, segala kalbunya gundah, tapi selalu mendekap rindu yang tak akan berkesudahan. Tatkala Ia menatap tumpukan tanah yang menutup tubuh itu, segalanya tumpah. Air matanya tak mampu membendung semua luka yang terlalu perih. Mereka adalah harta yang paling istimewa dalam hidup, Aurelya. Kini, telah terbujur dalam kesenyapan makam.

Ia mencoba tetap setia pada sang waktu. Sambil menanti senja berganti gelap, gelap berganti fajar, fajar berganti senja dan seterusnya. Di tempat itu, Ia terus merawat nadinya yang kian sesak, terhimpit tanya yang menikam ngilu di dada, sambil setia mengurai letih yang merangkum isak doa-doa dari bibirnya yang gemetar. Hanya sebaris doalah yang mampu menemani sepinya, yang kian meronta. Hatinya benar-benar patah. Segala inginnya berubah menjadi luka yang abadi pada jiwanya.

Kini, Ia mencoba tenang dan belajar menerima, meski hati tetap saja merasakan pedihnya luka. Ia berusaha tetap semangat menikmati hari yang tersisa. Dan jika pada akhirnya, ia hanyalah kisah yang memilih patah dan menyerah, maka tiada artinya segala motivasi pantang menyerah yang mereka lantunkan tiada henti, agar Ia mampu menjadi pribadi yang kuat menjalani pahitnya kehidpan.

Namun, di balik semua lara yang kian gontai menikam dirinya saat itu, Ia tetap percaya jika sebenarnya mereka tidak ingin meninggalkannya seorang diri. Ia yakin, mereka masih sangat menyayanginya. Namun, karena Tuhan memanggil mereka, maka
mereka harus rela meninggalkannaya seorang diri. Tuhan yang menciptakan, Tuhan pulalah yang mengambilnya. Walau sebenarnya, Ia sendiri belum mampu dan siap saat Tuhan mengambil mereka secara tiba-tiba dari hadapanNya. Tetapi, Ia percaya, Tuhan memiliki rencana indah dibalik semuanya itu. Sekalipun dengan kepergian mereka, membuat hatinya tersayat, Ia tetap tegar dan percaya, kehendak Tuhanlah yang terbaik.

Kadang, Ia terdiam dan bertanya dalam hatinya, ”Pernahkah Ayah dan Ibu berpikir, dirinya akan jatuh ke dalam luka yang terlalu perih seperti ini? Pernahkah Ayah dan Ibu berpikir, bagaimana perasaan seorang remaja perempuan yang ditinggalkan begitu saja oleh Ayah dan Ibunya secara bersamaan?.”

Pernah Ia berpikir dan berkata kepada Tuhan, agar Tuhan kembalikan Ayah dan Ibunya. Namun perlahan, Ia menyadari jika cinta Tuhan pada mereka, jauh lebih besar dari rasa cintanya. Kini, Ia hanya mampu memeluk mereka lewat riuhnya lantunan doa, yang selalu Ia ucapkan, menatap mereka lewat bayangan kenangan yang selalu menghiasi pikirannya. Dan Ia hanya mampu menjaga dirinya sendiri, agar mereka tidak merasa kesedih ketika melihat dirinya yang kian rapuh seorang diri.

Puncak Ribang, penghujung September 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here