Oleh Arie Putra

Tahun-tahun yang lewat adalah sejarah yang pandai mengubur luka. Entah untuk apa kita mengenang bimbang yang kadaluwarsa atau merobek sakit yang sembuh?

Tentu saja Ia memiliki alasan, untuk menjadi bagian terbesar dari masa lalunya. Masa lalu yang terjebak dalam anatomi tubuhnya. Ia pernah mencoba membunuh diri saat keputusasaannya terhadap kehidupan memuncak. Akan tetapi, Ia berpikir dua kali. Ia putar ketidakwarasannya itu ke jalur yang lebih terang. Ia menemukan alasan untuk tidak segera menghabiskan nyawanya sendiri dengan silet yang mengancam di atas meja rias.

Ia memandang wajahnya sendiri di cermin, dengan tatapan ketus. Mata itu, bisiknya dalam hati, adalah mata yang Ibu berikan sebagai hadiah untuk menyaksikan dunia yang luas. Dunia ini luas berkat penglihatan matanya. Hidung mancung tipis yang dimilikinya, adalah modal satu-satunya untuk menghirup kehidupan. Sesekali, Ia menggunakannya untuk bertarung dalam kontes kecantikan di Ibu Kota. Ia puas memiliki pipi yang membungkus rahangnya dengan rapi. Melihat pipi yang tak pudar itu, Ia mengingat patung-patung dewi sesembahan orang Yunani Kuno. Kadang, Ia menganggap dirinya sebagai jelmaan dewi yang pernah diceritakan Ibunya menjelang tidur.

Bibirnya penuh dan sensual. Sesekali, Ia menjilat dengan ujung lidahnya, sekadar untuk mencoba sensasi di depan cermin. Bibir itu seperti pagar mahkota yang menghiasi taman gigi putih miliknya yang indah. Dagu miliknya sering diperbandingkan dengan dagu Luna Maya yang bagai gantungan lebah. Alangkah sempurna tubuh yang berdiri di depan cermin itu. Tubuh milik dirinya. Tetapi, siapa dapat menduga ruang dalam jiwa setiap tubuh?

Beberapa kali memang, Lita, mencoba ingin memotong dirinya sendiri. Ia membayangkan dagingnya dipotong-potong, seperti para penjual daging di pasar memotong tubuh babi. Ia membayangkan muka yang cantik itu ditebas dengan parang paling tajam. Membaginya menjadi beberapa bagian. Setelah itu, istri para pejabat memesan daging itu, membawanya ke rumah untuk disiapkan di atas meja jamuan. Setiap ingin menghabisi dirinya, Lita, selalu membayangkan tahap terpahit yang akan dialami daging tubuhnya. Ketika daging-daging itu diceburkan ke dalam lautan minyak panas di kuali. Lita, ingin masuk ke dalam kulkas ketika pikirannya tersesat di atas kuali panas itu. Betapa panasnya minyak itu. Mungkin, Lita, akan menangis. Atau menolak untuk digoreng segaring mungkin. Akan tetapi, daging mana yang bisa menangis dan dapat menarik tangan yang melemparkannya ke dalam kuali. Tubuh, Lita, terguncang. Daging itu kini digerus panas minyak. Nyala kompor gas yang menjilat pantat kuali, membuat daging itu mengering tak berdaya.

Tetapi, Lita, tidak memotong tubuhnya. Setelah membayangkan kelam riwayat daging itu, Ia menyingkirkan jauh silet tajam yang telah disiapkan sebelumnya. Juga baskom hitam yang Ia siapkan untuk menampung darahnya, digeser ke sudut kamar. Manakala perasaan ingin menjual tubuhnya tiba, Ia akan mengumpulkan kembali peralatan itu di dekat papan rias. Saat ini, kesempatan itu belum tiba. Lita, belum berani untuk menjual tubuhnya yang sempurna itu di pasar daging.

Lita, kembali memandang dirinya yang telah telanjang di hadapan cermin. Ia melihat tubuh perempuan itu melekat rapat di cermin itu. Ia seperti sedang mengadakan ritual pengosongan diri yang biasa dilakukan oleh para penyihir yang Ia baca dalam buku Antropologi. Bahwa suku-suku tertentu di daerahnya di zaman dahulu, menelanjangkan dirinya sebelum membunuh salah satu jiwa di malam Jumat. Mereka adalah penyihir yang memiliki kuasa untuk mencabut nyawa anak-anak nakal atau Ibu-ibu hamil yang hendak bersalin.

Lita, menyerap ke dalam bayangan tentang para penyihir itu. Menurut cerita Kakeknya, teman Kakek saat kecil dulu yang bernama, Segu, meninggal dunia karena mengintip penyihir perempuan yang telanjang. Warga kampung mendengar jeritan jiwa, Segu, yang diseret penyihir itu menuju Hutan Tica. Begitu mencekam, hingga warga kampung tidak berani keluar rumah
saat itu. Esok paginya, orang tua Segu menemukan tubuh Segu tak bernyawa. Sementara penyihir perempuan itu yang juga tetangga, Segu, mengeluarkan suara tawa seram dalam nada panjang. Warga menjadi tahu kalau, Jemba, nama perempuan penyihir itu mengambil nyawa, Segu, untuk menjamu arwah-arwah yang konon berdiam di Hutan Tica.

Tubuh telanjang, Lita, mematung di cermin. Tubuh itu seperti calon penyihir cantik yang akan menghabisi nyawa-nyawa bocah yang nakal. Tubuh memang dapat digunakan untuk apa saja, seturut keinginan pemiliknya. Begitu renung, Lita. Tatkala gerombol arwah haus dari Hutan Tica datang, Ia akan mengambil satu nyawa untuk menjamu makan malam mereka. Lita, akan mengambil nyawanya sendiri untuk menjamu arwah yang paling tampan. Lita, tersenyum sejenak merasa lucu dengan pikirannya itu. Tidak ada yang akan mati, karena tidak ada yang mengintip tubuhnya yang telanjang itu, pikir Lita. Satu-satunya tubuh yang melihat tubuh di cermin itu adalah tubuhnya sendiri. Arwah tampan itu akan tidur di kamarnya sepanjang malam. Ia akan menyuruh arwah itu membacakan beberapa bait puisi, Joko Pinorbo, atau sajak-sajak, Sapardi Djoko Damono. Ah, pikiran aneh, dengus Lita.

“Lita, buka pintunya, Nak. Ibu mau masuk.” Pekik Ibunya di balik pintu. Tapi, Lita, tetap menghayati tubuhnya sendiri di cermin. Ia masih membayangkan arwah dari Hutan Tica itu membacakan puisi, Jokpin, untuknya. Puisi berjudul “Di Salon Kecantikan” dibaca dengan sempurna oleh arwah itu. Lita, semakin tersesat di dalam cermin itu. Arwah itu membacakan bait puisi, Jokpin, itu untuknya: “Mata, kau bukan lagi bulan binal yang menyimpan birahi dan misteri” yang membuat, Lita, berubah jadi sendu.

Lita, memang mempunyai beberapa koleksi puisi, Jokpin, dan puisi ini yang paling digemarinya. Suara Ibu Lita, semakin deras meluncur dari balik pintu, disertai dengan gedoran yang cukup kerap dan keras. Lita, selalu mengunci pintu setiap kali Ia ingin membunuh diri. Sehingga Ibu dan anggota keluarga yang lain tak memergokinya.

Jelang beberapa saat kemudian, tiba-tiba daun pintu itu terpental dengan keras membentur dinding kamar. Sejurus, Lita, cepat mengarahkan matanya ke pintu. Ia melihat tubuh Ibunya terguncang dan runtuh ke lantai. Mata Ibunya terbelalak melihat anaknya telanjang di depan cermin. Tubuh telanjang itu melangkah menjauhi cermin. Silet yang melekat di atas meja menerima tangan, Lita. Ember hitam di sudut ruangan itu direngkuh jemari lembut, Lita. Perlengkapan ritual bunuh diri itu telah bersatu di dekat meja rias, Lita. Di depan cermin, tubuh telanjang itu menjamu arwah dari Hutan Tica. Pelan-pelan dalam ritme yang pasti, silet itu digesek-gesek dan ditekan memutuskan beberapa urat dan daging di pergelangan tangan kiri. Ember hitam yang berdiri di samping kaki kiri, Lita, menghirup darah merah dengan lahap. Cipratan terakhir membasahi muka cermin dan wajah tubuh telanjang. Detik-detik selanjutnya menjadi gelap. Dua nyawa diseret ke Hutan Tica. Mungkin dua tubuh akan dibawa ke pasar daging. Mungkin.

Kamar itu menjadi senyap. Cermin memantulkan bayangan kosong. Hanya sisa bait-bait puisi melepaskan diri dari genggaman, Lita. Dua tubuh itu seperti sedang menunggu untuk dimakamkan. Akhirnya, hanya kau dan aku yang tahu dan yang mengintip tubuh telanjang, Lita, sampai kematiannya di depan cermin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here