Oleh Arie Putra

Setiap kali Lau Pe pulang, jalan satu-satunya yang pasti Ia lewati adalah Jalan Kembali. Ada beberapa rumah yang berjejer di kiri kanan Jalan Kembali. Lau Pe hapal betul rumah-rumah itu. Model pintu, letak jendela, serta warna cat setiap rumah, lekat dalam ingatannya. Rumah pertama dari arah timur adalah rumah dengan alamat Jln. Kembali No 1. Penomoran rumah yang lain mengikuti urutan angka selanjutnya.

Sebenarnya, ada jalan-jalan lain yang bisa dilalui Lau Pe, jika ingin pulang. Misalnya, Jalan Pergi yang hanya berjarak dua gang dari Jalan Kembali. Atau Jalan Keluar dan Jalan Masuk yang juga tidak begitu jauh dari Jalan Kembali. Tetapi, Lau Pe, ketika tiba di perempatan, selalu memaksa dua kakinya untuk dipacu ke arah Jalan Kembali. Entah mengapa, memang dalam pikirannya, Ia selalu ingin melewati Jalan Pergi.

Ada kerabat dari kampung yang berdomisili di jalan itu. Selalu ada titipan untuk keluarga di kampung, kalau Ia sempat melintas di jalan itu. Di Jalan Keluar, ada Mei Lin, teman kuliahnya yang menjadi idaman seluruh warga kampus, lantaran cantik dan seksi. Seolah-olah, teman Lau Pe itu merupakan wanita terseksi dan tercantik di seluruh dunia. Akan tetapi, Lau Pe tidak mau pulang melewati jalan itu. Takut dianggap sok cari perhatian si mahasiswi cantik. “Ah, nanti orang bilang apa,” katanya dalam hati.

Liburan kali ini lebih cepat dari biasanya. Kadang, itu menyenangkan untuk Lau Pe dan para mahasiswa kebanyakan. Menurut mereka, lebih baik libur, dari pada duduk di ruang kuliah sambil memelihara perasaan bosan dan memperparah volume kejengkelan terhadap jam dinding di kelas. Saat liburan tiba, semua mahasiswa merayakan kebebasan. Bebas dari kurungan ruang kelas.

Lau Pe, mulai berkemas-kemas di kamar kosnya. Ia merapikan buku-bukunya yang selama ini berserakan di seantero kamar. Beberapa buku yang penting untuk dibawa pulang ke kampung, dipisahkan. Ia mengambil beberapa helai baju dan diisi ke dalam tas ransel. Setelah semuanya selesai diatur, Lau Pe meninggalkan kesunyian kamar itu dan mulai mengayunkan langkah demi langkah untuk pulang. Lau Pe, menggendong ranselnya yang berisi buku dan beberapa helai baju itu, menyusuri Jalan Kembali.

Menyusuri Jalan Kembali, selalu menimbulkan perasaan yang berbeda dibatin Lau Pe. Orang-orang di Jalan Kembali, pasti menghapal perawakannya yang kurus berantakan itu. Lau Pe, memang tipe mahasiswa kelabu. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar untuk membaca. Dunianya hanya berkisar seputar kamar tidur dan kamar mandi. Langkah terjauh akan terpaksa dilakukan jika memang ada alasan yang penting.. Di mata teman-teman kuliahnya, Lau Pe adalah manusia yang sulit. Akan tetapi, Lau Pe menikmati anggapan itu sebagai sebuah cambukan untuk semakin menjadi kelabu.

Lau Pe, mulai memperhatikan rumah-rumah di Jalan Kembali yang sudah mulai renta. Tidak ada perubahan mencolok pada bangunan-bangunan itu. Rumah-rumah itu tetap berdiri diam dan kadang menggambarkan kesepian yang tak terbahasakan. Lau Pe, selalu merasa heran, sebab dalam beberapa kali liburan sebelumnya, Ia jarang bertemu dengan penghuni rumah-rumah itu. Sebelumnya, Ia menyangka bahwa para penghuni rumah-rumah itu mungkin sibuk dengan pekerjaan hariannya. Dan apa pentingnya juga orang-orang itu menunjukkan diri kepada Lau Pe. Akan tetapi, kesunyian suasana di Jalan Kembali kali ini menimbulkan rasa penasaran dibenak Lau Pe.

Lau Pe, mencari ide untuk mengetahui kesunyian rumah-rumah Jalan Kembali itu. Ia menimbang-nimbang dalam akal, entah bagaimana caranya bertemu dengan orang-orang di Jalan kembali itu. Lalu, timbul niat Lau Pe untuk memasuki rumah yang terletak dibalik sebuah tikungan di Jalan Kembali. Di atas pintu, tertempel sebuah papan pendek untuk meletakkan angka alamat rumah itu, Jln. Kembali 07. Lau Pe, mengetuk papan pintu yang ada di hadapannya.

Beberapa ketukan keras Lau Pe, tidak mendatangkan respon apa-apa dari penghuni rumah. Kesunyian seperti memenuhi rumah itu. Lau Pe, mendorong pintu itu dengan pelan. Dua bola mata Lau Pe menyelidik isi rumah lewat celah pintu yang didorong tangan kanannya. Sebelum Lau Pe membuka lebar pintu itu, seperti ada sesuatu yang mendorongnya dari belakang. Tersungkurlah Lau Pe di dalam rumah itu sampai semuanya menjadi gelap.

Lau Pe, berusaha menggapai sesuatu dalam kegelapan rumah itu. Tetapi, Ia tetap tidak berdaya. Ia berteriak meminta bantuan, namun suaranya seperti diserap kegelapan. Pintu yang tadinya dibuka Lau Pe, tidak tampak lagi dalam kegelapan. Ada ruang yang memperlebar sunyi dan gelap di dalam rumah itu. Lau Pe, duduk dalam kegelapan dan hanya tubuhnya sendiri satu-satunya wujud yang Ia kenal di rumah gelap itu.

Beberapa saat kemudian, Lau Pe melihat ada sebintik cahaya yang bersinar redup di kejauhan. Sepintas, Ia mengira bahwa itu pasti kunang-kunang. Lau Pe, berdiri dan berjalan menuju ke sumber cahaya itu. Semakin banyak langkah, Lau Pe diayun menuju cahaya, bintik sinarnya semakin kecil dan menjauh. Namun dengan hati-hati, Lau Pe mengikutinya. Lau Pe melangkah semakin jauh dalam kegelapan itu. Cahaya kecil itu menuntunnya melewati kesunyian dan gelap pekat dihadapannya.

Dari kejauhan, Lau Pe mendengar suara-suara yang berbicara dalam bahasa yang sangat lembut. Telinga Lau Pe menikmati alunan bunyi musik indah yang bergetar dari kejauhan itu. Lau Pe, melangkah semakin jauh melewati kegelapan, sampai pada jarak tertentu cahaya tadi semakin membesar. Setelah cahaya besar itu melenyapkan kegelapan, Lau Pe melihat orang-orang dari masa lalu memenuhi ruang bercahaya itu. Samar-samar, Ia melihat Nius Tam, teman kuliahnya yang meninggal ditabrak mobil dua bulan yang lalu. Saat cahaya itu menyiram seluruh tubuh Lau Pe, sadarlah Ia, bahwa Ia pulang tanpa kembali.

Waktu liburan telah selesai. Sebelum kuliah Sosiologi Agama dimulai, ruangan kelas begitu riuh dipenuhi suara. Masing-masing mahasiswa menceritakan pengalaman liburan mereka. Kursi yang biasa ditempati Lau Pe, masih kosong. Kami semua menduga kalau Lau Pe datang terlambat mengikuti kuliah hari ini. Kami pun tidak menghiraukan ketidakhadiran Lau Pe. Riuh suara itu terhenti saat dosen memasuki ruang kelas. Di tengah keheningan kelas, Mei Lin yang cantik itu tiba-tiba berteriak sambil menudingkan telunjuknya dikursi kosong itu, “hantu, hantu, hantu…”. Semua mahasiswa dalam ruangan kelas itu pun secepat kilat berlari meninggalkan ruangan. Kuliah hari itu pun dibatalkan karena kejadian penampakan hantu itu.

Kabar kehilangan Lau Pe tersiar sampai ke sudut-sudut kampus. Kehilangan Lau Pe, masih menyisakan teka-teki. Ada yang mengira, Lau Pe bunuh diri saat liburan. Ada juga yang mengira, kalau Lau Pe disembunyikan oleh makhluk halus. Untuk mengenang Lau Pe, seluruh kampus sepakat untuk menggati nama Jalan Kembali dengan nama Lau Pe. Nama jalan itu sekarang dikenal dengan Jalan Lau Pe.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here