Derita

Dirajam emosi pilu
Nafasku tertahan
Sirna
Kuatkah aku?
Rasanya Aku telah mati…

Lihatlah

Lihat… Lihatlah, saudara
Sekawanan burung berkicau merindu senja
Kian beterbangan di batas horizon

Lihat… Lihatlah, saudara
Gumpalan-gumpalan awan kelabu
Menari tersapu angin laut
Membawa candu

Coba kau rasakan, saudara
Sejuk angin pembawa rindu
Yang setia menunggu senja
Datang dari peziarahannya

Perihal itu…
Rinduku makin tenggelam dalam laut
Membeku, menanti hangat memecah rindu

Kau Aminku

Tuhan mengahadirkan dirimu dalam langkahku
Menghadirkan bayangmu dalam setiap aminku

Dalam doaku…

Jangan kau tanya, apa doaku

Tatap saja paras ini
Rasakan saja setiap hadirku saat dekatmu
Maknai saja bagaimana cara aku memperlakukanmu

Beberapa malam belakangan
Kau mengadirkan segala mimpi
Hingga detik ini
Bangunku hanya ada rasa rindu

Aku tidak tahu dari mana asalnya
Ya, rasa itu…
Tapi aku tak ingin buru-buru mengucap amin
Karena kau pun miliki doa
Yang hanya akan kau amini sendiri

Sekarang katakanlah padaku…

Apakah aku ada dalam doamu?
Apakah aku yang kau amini?

*Penulis; Mahasiswa STFL Ledalero, tinggal di Biara Scalabrinian Maumere.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here