Perempuan Itu

Lonceng di ujung menara tua kembali bertalu
Menenangkan hati, memanjakan rasa
Tatkala jari-jari bersimpul menyatu
Mata terpejam, membungkus mimpi mencumbu langit

Riuh reda tak selalu sekular
Juga sunyi tak selalu suci
Walau hening semakin bening
Ini perihal rasa yang beriak-riak

Dalam pusaran kolam teduh
Beberapa ingatan mencoba menepi
Mengintip jejak-jejak yang belum memudar

Menggenggam
Di tepian
Lembah-lembah
Di bukit-bukit
Juga pada padang gersang

Dan kedalaman yang teramat dalam
Dia seakan hidup
Saat aku kembali tersenyum

Kaukah itu?

Di Sumur Yakub

Di sumur Yakub…

Ada kasih yang mengembara
Walau lelah menebar cinta
Juga hati yang membagi kasih
Toh… engkau belum juga paham, bukan?

Di sumur Yakub…

Ada hati yang terlanjur membatu
Juga tatapan yang buram
Saat hidup berdiri tegak agar kau lihat
Sayang, selumbar itu masih terlelap di kedua bola matamu

Di sumur Yakub…

Dialog menjadi asing
Sumur itu mendengarnya
Oleh matahari juga bebatuan
Dan tembok-tembok megah bangunan kota
Yang terlanjur menguping

Di sumur Yakub…

Kata-kata sebening embun, sejuk
Juga hati seputih kapas, tulus

Perlahan merobohkan tembok dan benteng di hatimu
Meluluhkan rasa, memelekkan mata

Kau pun hidup
Di sini
Di sumur Yakub

Menjelang

Masa terindahmu di kursi empuk itu kian mendekati usai
Sebab engkau pernah merindu kursi juga detik-detik usaimu
Mungkin ini yang termasuk dalam daftar rindumu itu
Setelah beberapa waktu itu kau buang percuma ke dalam kantongmu

Kursi empukmu meninabobokkan engkau
Saat rentetan rengekan rindu kian menderu
Yang telah lama terbungkus dalam hati yang menanti
Kami tak diciptakan gagap

Cukuplah bagi kami menanti
Sebab mulut kami terlampau kecil meneriakkan rindu sebesar itu
Walau hati ingin berbicara, Tuan

Ah! Tuan…

Engkau bukan Dia yang pernah kami kenal
Engkau Seumpama janji yang terlupakan

Rindu Nahkoda Baru

Teruntuk Tuan Muda…

Penantian kami mungkin sudah tiba di penghujung waktu
Kedatanganmu selalu menjadi kerinduan kami
Juga topik perbincangan kami di sini, di kapal tua ini
Setelah para pendahulumu menabur benih di atas batu karang

Sebelum membawa kami berlabuh bersama kapal tua ini
Kami adalah para penumpang yang sempat bingung
Saat kapal kehilangan arah di tengah pusaran samudera maha luas
Entah di mana dan hendak ke mana
Situasi serba kalut

Teruntuk Tuan Muda…

Datanglah berbekal hati baru
Menggenggam tekad yang melekat pada jiwa
Bawalah kami dan kapal tua ini ke tepian cerah
Pada sandaran yang menjelma rindu jadi berkas-berkas senyum

Sebab kami telah jenuh di tengah ketidakpastian ini
Biar engkau tak serupa pendahulumu itu

Fatamorgana

Tak terhitung jumlahnya
Berapa banyak waktu yang telah kita jejali musim itu
Perjalanan kita tak akan pernah usai menjemput matahari

Pada pinggir jalan itu, kita memungut remah-remah kasih
Juga serpihan-serpihan fatamorgana yang menggugah
Yang tertumpah dari langit juga bintang-bintang yang teramat tinggi

Mungkin karena mereka sedang tidak sadarkan diri
Atau memang sengaja agar kita tetap kekal dalam harap

Sembari terus menengadah
Sebab harapan kami masih teramat panjang
Sepanjang jalan ini…

*Penulis; Mahasiswa semester lima di STFK Ledalero. Saat ini tinggal di Biara Scalabrinian, Maumere dan bergiat dalam Group Sastra Djarum Scalabrini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here