Oleh: Yasintus Dawi

Pada suatu senja saat langit kian meremang. Bukan seperti senja-senja sebelumnya di mana kuhabiskan waktu untuk menjemput malam pada baranda rumah sembari ditemani secangkir kopi hitam dan beberapa batang rokok. Namun kali ini aku memilih menghantarkan mentari menuju peraduannya pada sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalku. Di taman itu aku biasanya mengakrabkan segala rinduku pada dia yang dulu pernah mengukir makna cinta dalam hidupku.


Di taman itu aku memilih menepih pada sebuah gubuk tua yang letaknya di sudut taman. Gubuk itu masih terawat. Dinding dan atapnya masih berdiri kokoh. Bunga-bunga yang tumbuh berserakan di sekitaran begitu indah, ditata dengan rapih. Sembari menyeruput segelas kopi yang kupesan beberapa saat yang lalu juga ditemani sebatang rokok, aku menikmati kesendirianku. Ya, di gubuk tua ini, kesendirian menjadi satu-satunya cara menghadirkan kisah lama yang masih tersimpan.


Alam tiba-tiba berubah total. Langit yang sedari tadi cerah tiba-tiba menjadi hitam pekat. Cahaya kilat berkelebat cepat. Pekikan halilintar sambung menyambung. Gerimis turun perlahan dan akhirnya berubah menjadi hujan lebat yang membangunkan aku dari dunia hayalku. Sesaat kucoba mengamat-amati sekeliling taman sekedar melihat orang-orang yang beberapa saat lalu masih memaduhkan cinta di antara bunga yang bermekaran. Akh, mereka senasib denganku, kehujanan.


Beberapa saat kemudian hujan kembali redah. Gerimis perlahan menghilang. Aku memutuskan untuk kembali ke rumah sebelum hujan kembali lebat. Awan yang hitam pekat seolah bertanda bahwa sebentar lagi hujan kembali turun dengan deras. Aku melihat beberapa sosok tubuh yang keluar dari persembunyiannya dan berjalan menuju gerbang. Mungkin mereka akan pulang, gumanku.


Tiba-tiba jantungku berdetak kencang. Tidak jauh dari gubuk tempatku berteduh sepasang mata menatapku tajam penuh rasa heran, tak percaya. Aku pun balik menatapnya dengan perasaan yang sama. Dia adalah sesosok wanita yang kukenal begitu baik. Ya,, wanita yang pernah hadir dan mewarnai hari-hariku lima tahun yang lalu. Dia adalah nama yang masih tinggal dalam ingatanku. Dia adalah sosok yang terus mengisi lamunanku, bahkan beberapa saat yang lalu.


Chlaudya, demikian namanya. Ia dilahirkan dalam kecemerlangan cinta dan cahaya keindahan. Kulitnya hitam manis, khas kulit gadis Flores. Tetapi menurutku ia tetap cantik seperti melati bertangkup putih yang mekar di antara rerimbunan perdu. Demikian keelokanya yang bisa aku ibaratkan. Namun semenjak aku pergi meninggalkan kota tercinta ini lima tahun yang lalu untuk menempuh jalan hidup yang kupilih, aku tak lagi mendengar cerita tentangnya. Dia menghilang entah ke mana.


Dengan langkah sedikit ragu aku berjalan menuju sosok yang masih berdiri menunduk di sudut taman itu. “Kamu Chlaudya?” tanyaku dalam nada penuh keyakinan. Dia mengangkat kepala dan memandangku dengan tatapan tak percaya. Belum sempat ia menjawabi pertanyaanku, tiba-tiba saja ia langsung memeluk tubuhku erat. Aku sempat terkejut tetapi kubiarkan saja tubuhnya merebah dalam dekapanku lebih lama lagi. Aroma khas tubuhnya yang sudah lama kulupakan kini kembali tercium.
“Apa kabar Andrw? Tahukah kau jika aku sangat merindukanmu di sini?” katanya dengan suara samar. Aku hanya bisa membisu. Rasanya lidah begitu kaku dan berat untuk menjawab bisikan lembutnya. Hujan engkau datang membawa berkah. Engkau datang menghidupkan kenangan, bisikku dalam hati.


“Chlaudya aku harus kembali sekarang.” Kataku membuka kembali percakapan yang sempat terhenti beberapa saat yang lalu. Perlahan Chlaudya melepaskan pelukannya dari tubuhku. Ia menatap wajahku dengan tatapan manis penuh arti. “Andrw apakah besok kita bisa kembali bertemu di tempat ini?” tanya Chlaudya dengan nada tertahan. “Aku ingin mengajakmu bercerita di tempat ini. Berikan aku sedikit waktu, Andrw. Please,,,” lanjutnya dengan penuh harap. “Tentunya bisa, Chlaudya.” Jawabku singkat. Kami lalu bergegas pergi meninggalkan taman dengan membawa harapan esok akan kembali berjumpa.


Keesokan harinya saat mentari berada di langit barat, aku bergegas menuju taman tempat yang sudah dijanjikan. Dari kejauhan aku melihat Chlaudya duduk bersandar pada sebuah pondok tempat di mana kemarin kami berjumpa. “Selamat sore Chlaudya. Apa kabar sore ini?” tanyaku sambil menyodorkan tangan dan mengecup keningnya dengan sebuah kecupan lembut. Kecupan sudah menjadi kebiasaan kami dulu saat saling jumpa seperti ini. Chlaudya membalasnya dengan senyuman yang paling manis. Lalu ia mengajakku untuk berkeliling taman. Sambil mengenggam erat tanganku ia mengajakku menelusuri lorong demi lorong yang ada di taman itu tanpa terlewati satu pun. Setelah menelusuri semuanya, kami memilih duduk dan beristirahat pada sebuah tempat yang agak terlindung dari pengelihatan orang banyak.


“Andrw, mengapa kamu tidak memberi tahuku tentang keinginan hatimu untuk memilih hidup membiara? Mengapa kau menyembunyikan semua niat dan keinginanmu itu dari padaku? Kau tahu, semenjak engkau pergi dengan tidak meninggalkan pesan apa pun membuatku sangat kecewa dan menderita; aku berusaha untuk bertanya tentangmu pada sahabat-sahabat terdekatmu dan juga kepada orang tuamu. Mereka mengatakan padaku bahwa engkau telah pergi ke sebuah kota. Engkau memilih hidup membiara. Mendengar jawaban penuh bangga dari mereka, hatiku begitu hancur. Segala kekuatan yang ada dalam tubuhku seolah roboh. Bertahun-tahun aku hidup dengan seribu tanya dan ketakpastian. Aku sungguh mencintaimu namun seolah-olah semuanya terasa sia-sia saja,” katanya dengan nada yang tersendak sambil menunduk untuk menyembunyikan air matanya. Ia menangis.


“Chlaudya, saat pertemuan kita yang terakhir di tepi pantai Ria, sebenarnya aku ingin mengutarakan niatku ini. Tetapi aku tidak ingin kamu kecewa dan tersakiti. Memang sudah ku duga jika kamu tidak merestui pilihanku ini.” Jawabku singkat. “Aku lebih terluka lagi saat engkau tega meninggalkan aku tanpa pesan apapun,” jawabnya sambil menatap lurus ke sudut taman dengan air mata berjatuhan seolah tak mampu menahan gejolak yang ada dalam hatinya.
Perlahan aku menarik tubuhnya dan menenggelamkannya dalam dekapanku. “Chlaudya, maafkan aku,” aku mencoba menguatkanya yang sebenarnya aku sendiri tak mampu melihatnya terluka. “Hidup ini memang aneh, Andrw. Kadang aku marah dan cemburu kepada Dia yang telah merampasmu dari pelukanku. Cinta memang tak harus memiliki dan itu benar. Aku tak pernah menyangka bahwa kita akan kembali saling berjumpa dalam keadaan yang berbeda seperti ini,” katanya sambil mengigit bibirnya agar air matanya tak lebih deras lagi mengalir.


“Bertahun-tahun aku menanti dalam ketakpastian dan Tuhan memberiku jawaban seperti yang aku terima saat ini. Dalam hati aku berpikir bahwa Tuhan itu tidak adil.” Ia menyambung lagi tetapi dengan suara yang semakin parau. “Dan aku harus menerima jika memang kita harus berpisah. Mungkin Tuhan lebih membutuhkan cintamu dari pada aku. Tetapi ingat Andrw, jangan pernah memaksaku untuk menggantikan cinta ini. Aku akan tetap mencintaimu dengan caraku sendiri. Aku menerima perpisahan ini karena aku tidak mau egois dengan cinta. Aku sadar begitu banyak orang yang lebih membutuhkan cintamu dari pada aku. Kini aku juga ingin agar engkau mampu membagi cintamu itu untuk mereka. Satu harapku: jangan pernah membuat dia yang telah memanggilmu, bersama mereka yang telah mencintamu, terluka.” katanya sambil menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
Keheningan kembali menguasai. Kini isak tangisnya mengisi ruang di antara kami. Mungkin bunga-bunga yang bermekaran di sana juga menangis dengan caranya sendiri. “Chlaudya, aku yakin jika Tuhan telah mempersiapkan seorang pria yang akan menjadi pendamping hidupmu kelak yang tentunya jauh lebih baik dari pada aku.” Kataku pelan.


Chlaudya tak menjawab, ia sibuk memainkan handponenya seolah-olah tak mau mendengar perkataanku. Kemudian ia menarikan kepalanya dari bahuku. Ia bangkit berdiri lalu berjalan beberapa langkah ke depan, Sepertinya ia tak ingin jika aku mampu membaca gejolak dalam hatinya. Dengan langkah pelan ia kembali mendekatiku dan duduk tepat di sampingku.
“Andrw, memang berat bagiku menerima kenyataan ini. Aku bahkan mengutuk takdir yang telah mempertemukan kita dan memisahkan kita. Aku benci dengan rasa yang kumiliki saat ini. Tetapi aku harus pasrah menerima kenyataan ini dan aku percaya bahwa Dia yang telah memanggilmu adalah Sang Empuhnya cinta. Terima kasih untuk ketulusan dan kebaikanmu. Ingatkan aku selalu dalam setiap doa-doamu,” katanya haru.


“Chlaudya, yakinlah jika aku akan tetap merindukanmu dan mengingat namamu selalu dalam setiap langkahku dalam menapaki ziarah panggilan hidupku ini. Dan jika suatu saat nanti cinta dan rinduku tak terdengar di telingamu lagi percayalah doaku akan setia memeluk jiwamu hingga malam yang menyendiri.” Kataku mencoba menyakinkannya. Chlaudya menatapku lagi dengan senyuman tulus. Dalam senyumannya itu seolah mengisyaratkan bahwa ia telah siap menerima kenyataan ini.
Kami memutuskan untuk berpisah melepas cinta dunia yang telah melekat dan memulainya kembali dengan cinta persaudaraan. Sang mentari mulai tenggelam dan sebentar lagi terlelap dalam peraduanya setelah seharian tanpa lelah menyinari sang bumi. Keadaan sekitar taman mulai gelap. Lampu-lampu taman pun mulai di hidupkan, suara jangkrik di rerumputan taman mulai kedengaran. Aku mengajak Chlaudya untuk meninggalkan taman itu dan pulang dengan membawa perasaan masing-masing.
Bukit Ribang Awal Maret 2020

Mahasiswa STFK Ledalero, Tinggal di Biara Rogasionist Ribang

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here