Ovan Setu, O.Carm

Tujuhpuluh lima tahun yang lalu dan esok tujuhpuluh lima tahun ke depan hingga seribu tahun ke depan serta di hari ini kau bergumam “Indonesia Maju.”

Pagi-pagi sekali, aroma kopi keluar menabarak dinding-dinding halar rumah pangung yang berukuran sedang. Waktu itu, Rian teramat lelah lalu bangun dengan sempoyongan. Ia tidak marah hanya sedikit bergumam “ Akh ibu, selalu saja tahu cara terbaik untuk membangunkan aku. Jika suara dan goyangan tangan di pintu depan kamar tak mampu membangungkan mimpiku.”

Setiap pagi, embun kadang hilang dalam malu-malu yang jatuh cinta pada tempat ibu bercermin – merias alis juga pipihnya. Sungguh, tungku api telah lama menjadi tempat rias bagi ibu sejak ia mulai jatuh cinta dengan ayah.

Sedang ayahku seorang penikmat kopi. Ia tak tahu meracik atau sekadar menyeduhkan kopi ternikmat bagi siapa saja. Namun tetang rasa dalam cecap lidahnya, ia mahir untuk menentukan betapa kurang nikmatnya kopi yang diseduh di atas meja itu.

Saban hari, ayahku sempat bernostalgia bahwa ia pertama-tama jatuh cinta dengan ibuku karena kopi yang diseduh ibu saat ia bertamu di rumah ibu. Waktu itu, ia sedang bergelut dengan penelitiannya tentang perkawinana kopi antara kopi Robusta dan Arabica. Dan bukanlah kebetulan, bahwa ibuku juga sangat mengagumi seorang pria penikmat kopi. Ingat, tidak sekadar penikmat namun tentang cecap lidah yang bisa mentakar seberapa nikmatnya kopi yang diseduh di dalam gelas cangkir kecil di atas nipan pada meja kecil itu.

Ketika cinta itu jatuh di antara seduhan dan takaran yang nikmat pada cecap lidah dan mata yang mengamati satu per satu adukkan tangan pada gelas. Keduanya bersepakat untuk terus jatuh cinta dan berkali-kali jatuh cinta bahkan hingga telah berkeluarga dan memiliki aku sebagai anak mereka. Kemudian pada suatu pagi yang tidak biasa, ayahku sekadar membuang bahasa kepada ibuku “Maria, bagaimana kalau kita membuka sebuah café sederhana di dekat rumah kita. siapa tahu bisa menjadi penghasilan tambahan bagi kita?”

Ibuku selalu saja diam untuk mengamini apa yang dipikirkan oleh Ayahku. Waktu itu, kata ibuku “setiap apa yang dikatakan dan yang dibicarakan serta yang dipikirkan ayah bagi ibu tentu baik bagi kita.” karena itu ibuku selalu mengamininya.

Lain lagi bagi ayahku. Ayahku selalu memiliki pikiran yang lebih terbuka. Bagi ayah “setiap keputusan yang perlu diambil harus dipikirkan secara bersama dan harus mencapai kata sepakat jika ayah dan ibu sama-sama berpikir mengenai jalan keluar dan jalan mana yang terbaik untuk dan harus dibuat,” karena itu ayahku selalu melemparkan setiap pandangan dan pikirannya untuk didiskusikan terlebih dahulu dengan ibu.

Tahun-tahun berlalu. Café yang diimpikan ayah dan ibuku itu telah bertumbuh menjadi dewasa. Ia melebihi usia kelahiranku. Kemudian café itu terkenal dengan namanya “Café Kraeng.” Usianya yang telah beranjak dewasa membuatnya nyaman dan damai di tempati oleh siapapun yang ingin berceloteh dengan aroma kopi yang diseduh ibu.

Ketika ayah dan ibuku merayakan usianya yang ke-75 tahun waktu itu aku baru saja menginjak usaiku ke-22 tahun. Maklum ayah dan ibuku telah terlampau diberi keistimewaan yang teramat luar biasa dari dari Tuhan yang tidak biasa itu. “Bukankah, usai manusia hanya 60 tahun atau 70 tahun jika kuat?” sebagaimana yang dibahasakan oleh kitab suci. Lalu bagaimana dengan usia ayah dan ibu. Lupakan saja. Intinya ayah dan ibuku telah diberi kesempatan untuk hidup kedua kalinya dan merayakan usai café yang dicintai mereka itu.

Ada yang bedah diulang tahun cafe yang mereka dirikan itu. cara mereka merayakannya tidak seperti biasa pada tahun-tahun sebelumnya. Ketika senja mulai beranjak taka da satupun tamu yang berhamburan datang diberanda café itu. Tak ada juga sanak-saudara-kenalan dan anggota keluarga yang datang. Tentang persiapan semuanya telah diatur ayah dan ibuku sejak subuh. Mulai dari tepung kopi asli buah usaha ayah dan ibu mulai dari tungku api saat digoreng hingga pada alu dan lesung yang ditumbuk oleh ayah dan ibu hingga pada pengayak yang diayak halus oleh jemari-jemari tangan ibu hingga pada tepung kopi yang hitam pun tercium aroma khas yang keluar dari setiap pembalut toples bening di atas meja cafe itu.

Lain lagi, kursi-kursi dan meja-meja di seluruh café itu telah dihiasi dengan bunga-bunga mawar pun lampu-lampu jalan sepanjang jalan masuk café telah dipadati dengan cahayanya. Seluruhnya telah dipersiapkan dengan cinta oleh ayah dan ibuku.

Aku terkesan pada setiap perisapan ayah dan ibu. Namun masih ada yang janggal dalam benakku, mengapa tak ada tamu hari ini? Apakah ayah dan ibuku terlalu sibuk mempersiapkan sampai lupa untuk mengundang kenalan-sanak-saudara-sahabat dan anggota keluarga mereka? Malam semakin larut. Waktu terus bergulir dan tubuh masih saja bingung sedang ayah dan ibuku masih tetap ceria seperti biasanya. Benarlah kata Sapardi bahwa “Yang fana adalah waktu dan kita abadi.”


“Rian, mari duduk di sini. Ayah dan ibu telah menunggumu dari tadi. Sebentar lagi kita akan mulai acara ulang tahun café ini,” panggil ibuku. “kok, wajahmu murung. Apa ada yang salah dengan persiapan ayah dan ibumu,” tanya ayahku kemudian.
“tidak Yah. Hanya aku sedikit bingung kok, mala mini tidak seperti pada malam-malam ditahun-tahun sebelumnya. Mengapa tidak ada tamu dan para undangan yang hadir?” tanyaku.
“ya, karena itu, makanya ibu memanggilmu duduk di sini. Malam ini bukan tanpa sengaja ayah dan ibu tidak mengundang tamu. Namun karena itu, makanya mala mini ayah dan ibu ingin bercerita dengan itu dan café kraeng ini,” ucap ibuku.

Tujuhpuluh lima tahun yang lalu, ketika sanak-saudara, sahabat-kenalan, dan anggota keluarga kita meninggal, ditumbal darah tak bersalah. Pecah darah buah peperangan leluhurmu merebut merah putih dari jajahan para penguasa yang biadab. Kemudian, jauh diseberang samudera yang ganas itu, seseorang berani berdiri di hadapan para tua-tua dan muda-muda didorong semangat kebangsaan memproklamirkan kemerdekaan setelah ribuan tahun dijajah dan dijejal tak berdaya hingga sang saka merah putih berani dikibarkan dan dengan suara yang lantang di mikrofon serta dari setiap saluran radio diberitakan Indonesia Merdeka. Suara gemuruh pecah ke angkasa. Laut dan samudera yang luas membentang diikat menjadi satu dalam semangat nasionalisme dan patriotisme mencatat sejarah baru dan membuka lembaran baru kemerdekaan.

Saat itu, kau sedang diciptakan oleh ayah dan ibu dalam sebuah percintaan yang damai dan tenang tidak seperti malam-malam sebelum kemerdekaan, yang lebih akrab dengan ledakan di mana-mana, gemuruh peluru peperangan berjatuhan, darah membasahi tanah dan ibu semesta menanggisi kekejian yang amat kejam. Semuanya berlalu, ayah dan ibu lebih tenang bercinta di pelaminan dengan mengimpikan dirimu dalam kenyataan sekalipun untuk sekian tahun sebelumnya ayah dan ibu merasa nyaman memeluk mesra café ini, seolah-olah menjadi anak tunggal dari sesuatu yang bisa dihidupi dari perasaan-perasaan senang dan haru.

Hari ini, hari di mana ayah dan ibumu mendirikan café ini yang setelah kehadiranmu limahpuluh tiga tahun kemudian ia diberi nama oleh dirimu “cafe kraeng” nama itu mengenangmu akan darah ayah dan ibu dinadimu. Dan kini, kau telah mengibarkan bendera kemenangan diusia yang semakin menua dengan uban yang semakin padat. Tinggal kau sendiri di café itu. caramu membangun dan mensyukurinya adalah caramu mencatat sejarah di dalam benak dan nadimu.

Tujuhpuluh lima tahun yang lalu dan esok tujuhpuluh lima tahun ke depan hingga seribu tahun ke depan serta di hari ini kau bergumam “Indonesia Maju.”


“Rian, ingatlah bahwa perayaan ulang tahunmu kali ini sedikit berbeda sebab, Ibu pertiwimu ini sedang tidak baik-baik saja di tahun ini. Semua perayaan mengenang tujuhpuluh lima itu sepih sekalipun euforia teriakannya masih tetap bergema. Doakan ibumu itu biar lekas sembuh dari seluruh wabah penyakit dan egoism manusia yang lalim dan kejam.” Doakan semoga Ibu kita pulih seperti sediakala.

Mageria, 17 Agustus 2020.

RP. Ovan Setu, O.Carm adalah seorang imam Karmel. Saat ini menetap di Bukit Mageria. Ia juga adalah Kepala Sekolah pada SMPK Alvarez Paga-Maulo’o, Kabupaten Sikka.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here