Aku dan Masa

oleh -338 views
Foto: Ilustrasi (net)

Oleh Maxi Mari

Aku di antara mereka dan menjadi bagian bersama mereka. Melakoni peran berbeda dalam tujuan yang sama. Membuahkan pencapaian garis akhir sempurna, menghasilkan mahakarya kemenangan bersama.

Buah dari hasil itu, seperti meleburkan air dan minyak dalam satu wadah, pada berat jenis yang berbeda. Seperti mematahkan kesempurnaan dari hasil utama. Bahkan jauh sampai mengorbankan sang raja yang di usung dengan darah, air mata dan keringat serta nyawa.

Aku kini bukan lagi siapa dan menjadi apa. Aku hanyalah tulang belulang kering kayu bakar lahan garapan hutan Kelisamba. Kisahku menyisahkan serpihan kertas dokumenter usang yang tak memiliki nilai, bahkan di buang di tong sampah tiga jenis ala lingkungan hidup.

Aku…
Aku bukan Marilonga pahlawan dengan perlawanan topo doga.
Aku juga bukan pejuang terdepan reformoasi yang reformis itu mengusung Indonesia keluar dari kebebasan yang terbelenggu.

Suaraku…
Aku bersuara lantang di stempel dengan materai Rp 6.000,- sebagai orang-orang terbuang karena sakit hati, aku di permandikan dengan air wae pana kecewa karena tidak dapat jatah.

Ketika suaraku pun hilang di telan deru ombak pantai selatan, tak luput aku di comel kalimat pedis bak sambal cobek. Suara tak bersuara ku di tutupi masker covid. Seperti malaikat pengintai dalam kegelapan jahat, bahkan aku dinobatkan sudah mendapatkan bagian dari keserakahan jaman.

Pikir ku…
Mereka berpikir aku sama seperti penjilat yang terobsesi seperti watu boo pengenyang perut. Apakah perutku adalah perut bumi penjaga keseimbangan? Oh, tidak… kamu terlalu labil memberikan stempel dalam analisis kegalauan idealisme semu mu.

Kini aku…
Di sisa suaraku yang parau dalam kecapean otak kritisku, suaraku bukanlah lagi remote control yang bisa mengatur sesuai selera. Biarkan saja suaraku berjalan dalam diam dan biarkan ku eja warna warni tiga dimensi gejolak hati, di bawah kibaran bendera kepiawaian mu dalam berkuasa, seperti pola menghafal imala tahun 1980.

Kini ku sadari, takdir seperti kamus matematika yang bisa diatur, seperti keperkasaanmu berskenario dalam kemunafikan. Kau sebut yang kritis itu pengkhianat laknat, karena sabdamu tak perlu ada bilangan ganjil biar tidak sumbing.

Memang untuk melakukan ini tak perlu sekolah khusus, karena dari negeri sampai swasta dan agama pun tak mengajarkan tentang trik-trik secanggih skenario sutradara kau kuasai, untuk menggembosi berapa banyak korban murkah dengan derita hati yang mendera.

Aku hanyalah aku yang pernah bersama dengan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *