Konser Puitik Natur, “Mata Air Puisi Watololong”

oleh -290 views
Bara Pattyradja, penyair Indonesia kelahiran Lamahala, Flores Timur. (Foto: Ist)

Watololong, floreseditorial.com – “Boleh mabuk aksara, tapi tak boleh mabuk arak”. Begitulah sebuah frasa yang menjadi platform kawula muda Watololong yang terhimpun di bawah naungan Komunitas Baca Masdewa. Dan mereka pun bangkit, dari tanah tandus berbatu, dari jaring komunikasi yang ngadat minta ampun, dari kering cuaca dan dari keterpencilan mata air ilmu pengetahuan. Mereka bergerak maju. Dan maju.

Rabu (29/7/2020), bertempat di Auditorium Balai Desa Watololong, Komunitas Baca Masdewa menghelat sebuah agenda kultural yang bertajuk “Mata Air Puisi Watololong” menggandeng Penyair Indonesia, Bara Pattyradja dan Musisi Oi Adonara, Whency Tokan.

Agustinus Puru Bebe, founder Komunitas Baca Masdewa, menyatakan, agenda kultural ini merupakan bagian ekspresi jiwa anak-anak yang ingin melukis hidupnya dengan nubuat kebudayaan yang mengalir dari rahim peradabannya sendiri.

“Kami hidup sebagai manusia gunung batu tanah ketuban moyang sendiri. Watololong adalah rumah ramah penduduk,” tegasnya.

Sementara, Rudi Tokan, sebagai salah satu pemantik agenda ini, menegaskan, interaksi sosial di Watololong begitu teduh, saling menghormati dengan semangat gotong royong, budi pekerti dan kerja keras. Itulah manusia Watololong. Konser virtual Puitik Natur adalah manifestasi dari sebuah gerakan literasi yang konkrit untuk menjaga dan merawat nilai hidup manusia Watololong agar tidak tergerus dalam irama peradaban kontemporer.

“Acara ini akan diwarnai Art Performance dan dialog kebudayaan,” tandas Rudi Tokan, jurnalis pecinta bunga pepaya dan ubi jalar ini.

Dalam kesempatan terpisah, Bara Pattyradja dan Whency Oi, mengaku, gembira ikut andil meyebarkan energi positif kepada generasi muda.

“Manusia Adonara” adalah manusia puisi. Ini jelas terpancang dalam falsafah para leluhur, hidup bermula dari kata, berakhir pada kata,” pungkas Bara Pattyradja. (*)

One thought on “Konser Puitik Natur, “Mata Air Puisi Watololong”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *