Aku terkenang Mbero. Sebuah kampung kecil. Bagian dari wilayah Desa Bhamo, Kecamatan Kota, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di kampung kecil itulah, Mamaku, Theresia Djeok, dilahirkan. 72 Tahun lalu. Mamaku, anak seorang petani. Anak sulung dari, Opa Gaspar Bana dan Oma Martha Nggai. Opa Gaspar Bana, turunan Suku Nggeli dan, Oma Martha Nggai, dari Suku Motu. Seturut paham perkawinan patrilinial, Suku Nggeli ana fai. Sedangkan Suku Motu ana haki.

Belum genap lima tahun, Mamaku, hijrah ke Kampung Bonggi Kawa. Tempat Opaku berasal. Di kampung inilah, Mama, dibesarkan. Hingga dijodohkan, menikah dengan, Bapak Markus Bana. Ayahku. Kami tujuh bersaudara. Aku anak kedua.

Selepas sekolah dari Foa-Ngada, Bapak Markus, jadi guru agama di Kampung Bonggikawa. Mengajar agama. Latih doa-doa gerejani. Pimpin ibadah hari Minggu. Guru agama lantera. Selain itu, jadi juru tulis kampung hingga dipercayakan menjadi Kepala Desa Bonggi Kawa. Cukup lama memimpin desa itu. Bahkan sudah bergabung jadi Desa Watunggene, kini Kelurahan Watunggene, Bapakku masih berurusan dengan pemerintahan desa. Jadi hampir pasti, sebagian besar pengabdiannya urus yang rohani dan jasmani.

Bahkan di sisa-sisa napas yang ada, di usianya yang sudah uzur, usia bonus, Bapak masih urus dua kegiatan itu. Hanya porsinya berbeda. Urus gereja porsinya lebih besar. Jadi diakon awam, bantu pastor bagi komuni setiap hari minggu dan perayaan-perayaan besar gerejani lainnya. Tugas tersebut dijalani penuh kesadaran. Seperti telah menjadi bagian dari ibadahnya.

Sementara urusan desa sudah pelan-pelan Ia tinggalkan. Kecuali soal-soal sosial kemasyarakatan, pemerintah kelurahan masih membutuhkan keterangan sebagai referensi dalam menyelesaikan soal. Maklumlah, angkatan mereka, para peletak sejarah awal pembentukan Desa-Kelurahan Watunggene, tinggal Bapakku yang masih sehat walafiat. Yang lainya sudah pulang ke tempat mereka berasal.

Aku dekat dengan Opa-Oma. Aku ingat betul masa kecil hanya makan jagung. Umbi-umbian. Kami tinggal di kebun. Opa-Oma berpindah dari kebun yang satu ke kebun yang lain. Aneka tanaman penuh sesak di kebunnya.

Oma Martha, sangat rajin berkebun. Bahkan tergolong super rajin. Saban hari ada di kebun. Sejak pagi sudah berkebun. Kebun jadi tempatnya menyulam hidup, meraih nasib. Kebun jadi medium perjumpaan dengan kehidupan sesungguhnya.

Di lingkungan sosial sekitar, Oma Martha, cukup dikenal juga. Bukan hanya cerita isi kebunnya yang selalu mendatangkan hasil yang membanggakan, tetapi juga soal kemahirannya membantu Ibu-ibu melahirkan. Sentuhan tangannya mujarab. Jika, Oma Martha, sudah mendampingi Ibu bersalin, ia menjalankan penuh rasa tanggung jawab dan kemanusiaan. Ia akan pulang rumah setelah mendapat kepastian Ibu yang Ia tolong telah melahirkan dengan selamat.

Kemahiran membantu Ibu bersalin bukan karena kursus atau latihan dari tenaga terlatih. Tetapi keterampilan itu diperolehnya secara alamiah. Sangat boleh jadi ada gen dari leluhurnya yang memiliki kemampuan serupa itu. Ia mendapat ‘warisan’ itu untuk menolong banyak orang. Mengulurkan sejumput kasih, menyelamatkan banyak nyawa. Ketika pertarungan antara napas dan darah terasa begitu letih, tanganya terulur sehingga Ibu melahirkan bisa selamat. Membantu Ibu melahirkan Ia jalankan hingga sang Khalik memanggilnya.

Sedangkan, Opa Gaspar, beternak. Ada sapi, kerbau, kuda juga beberapa ekor babi. Ayam dan kambing jangan bilang lagi. Cukup banyak. Namun, konsentrasi utama urus ternak yang besar-besar. Yang kecil-kecil seperti ayam dan kambing urusan, Oma Martha.

Bila musim ‘pante tuak’ tiba, Opa Gaspar, menyadap tuak juga. Tidak banyak pohon lontar yang Ia manfaatkan. Hanya beberapa pohon saja. Cukup untuk mengisi waktu di sela-sela urus ternaknya. Bila malam tiba, mengiring kantuk sebelum lelap tidur, aku dibuai dengan dongeng-dongengnya. Berada bersama Opa-Oma membuatku tahu betul siklus kehidupan mereka. Meski itu, puluhan tahun silam, memoriku masih lekat ingat. Masih menyimpan semua pahatan sejarah perjalanan hidupnya.

Lantaran dekat dan ada bersama Opa-Oma, aku sering diajak ke Kampung Mbero. Kami mengunjungi keluarga di kampung itu. Perjalanan ke Mbero biasanya menggunakan jasa kuda. Melintasi savana, menyusuri belantara hutan. Perjalanannya menyita waktu dan energi, tetapi memiliki nuansa tersendiri. Asyik memang.

Kami berjalan pelan. Di beberapa titik kami rehat sejenak. Dan biasanya ketika rehat, Opa Gaspar, menceritakan lika-liku perjalanan hidupnya. Masa kecil yang sesak dengan penderitaan. Perjuangan mempertahankan hidup hingga menemukan jodoh di Mbero. Mbero menjadi tempat tautan cinta yang kuat dan lengket dengan segala peradabanya.

Di sela-sela ceritanya, Opa Gaspar, selalu mengingantkanku, “sekolah!”. “Kanis… kau harus sekolah,” tegasnya memberi motivasi. Meski saya tidak mengerti apa itu sekolah. Sebab sahabat akrab saya setiap hari di kampung hanya bantu urus ternak, cari kayu bakar. Sesekali menemani, Bapak Markus, mencari siput, kepiting, ikan, gurita di laut. Juga menemani Bapak ke padang mengurus ternak-ternaknya.

Ada dua jalur alternatif perjalanan menuju Mbero. Jalur pertama kami meninggalkan Jere Ute, tempat Nenekku berkebun. Melintasi Sengga Sulu, Jere Kota, Mausui, Woi Jo, Nunu Langgo, Kota Mbesi, Bhera Ngizu, Wae Ze’e hingga Nanga Rawa. Biasanya kami berhenti di rumah, Ema Ola, di Nanga Rawa. Kami menginap di rumahnya atau sekadar minum kopi. Lalu kami melanjutkan perjalanan melintasi Muting, menembus belantara Sambi Tei hingga masuk Kampung Mbero.

Bila melintasi jalur lain, kami akan menerobos Wolo Kole, Romba Ndora, Keka, mendaki melintasi lereng Wae Wika. Lalu menurun per-kampungan tua Meka Uwa hingga masuk Kampung Mbero.

Melintasi perjalanan di dua lintasan itu memiliki nuansanya tersendiri. Ada getar asa yang terus berkelana. Menyapa kedalaman hati, menukik bilik-bilik jiwa. Bahwa sesungguhnya perjalanan itu meletupkan kesadaran batiniah. Kami harus ke Mbero, kembali pulang ke tempat Mamaku berasal.

Rumah, Meka Ngale, di Mbero menjadi tujuan kedatangan kami. Maklumlah, Meka Ngale, saudara kandung dari, Oma Martha, dan tinggal di rumah adat Suku Motu. Kami diterima dengan santun penuh kekeluargaan. Rona gembira tergambar jelas pada garis-garis wajah, Meka Ngale, Mbutu Tay dan anak-anaknya.

Setiap perjumpaan dan kebersamaan di kampung itu selalu menyirat banyak makna. Meski tergurat letih karena perjalanan jauh, tautan cinta sungguh bertukar dan bercium-ciuman.

Hari-hari berada di Mbero adalah melukis citra, melumat rasa. Di tebing waktu yang amat terbatas itu, Opa Gaspar dan Meka Ngale, bercengkrama tentang hari-hari hidupnya. Menulis tentang impian hasil panen yang membanggakan. Bila malam tiba, Opa Gaspar dan Meka Ngale, bersama-sama menjaga kebun, mengawasi tanaman. Sebab pada malam hari, ancaman babi hutan dan hama lainnya tidak sedikit. Sedangkan siang hari, ancamannya hanya serangan monyet dan burung pipit.

Berada di Mbero menukilkan cerita terdalam. Mengantar aku mengerti arti sebuah perjuangan. Aku mendapat pelajaran berharga dari, Bapak Ngale, bagaimana membuat perangkap, menjerat babi hutan dan babi landak. Namanya mbedhi. Cara merakitnya sederhana tapi jitu. Babi hutan akan terjebak dalam perangkap apabila melintasi jalur yang sudah dipasang perangkap tersebut.

Aku juga mendapat pelajaran lain. Yakni, bagaimana membuat alat bantu mengusir burung pipit di siang hari dan babi hutan di malam hari. Alat bantu itu namanya viuw kua. Terbuat dari rotan. Rotan dianyam seperti ketapel tapi tanpa kayu. Alat ini membantu agar lemparan batu mengusir hama jarak yang jauh.

Bila, Opa Gaspar, sedang bercengkrama dengan, Bapak Ngale, aku bersahabat dengan, Om Simon Ngale, salah seorang anak, Bapak Ngale. Om Simon Ngale, waktu itu sudah memasuki usia tinggal landas. Sudah lewat fase pubertas. Hampir setiap hari jaga kebun. Bila ancaman monyet dan pipit tidak terlalu ganas, kami mencari udang, belut dan katak di Wae Mbo. Pada saat itu, aku baru kenal katak merah.

Ya… Mbero di masa kecilku telah membekaskan kesan dan jalinan pengetahuan yang luar biasa. Ada rona jenaka dan ayakan pemahaman yang berakar. Mbero mencuatkan asa terdalam, meliuk dalam jejak ziarah perjuanganku. Meski kini dan dulu, Kampung Mbero tetaplah sama. Masih seperti yang dulu.

Aku jadi nelangsa.

“Dimanakah nurani orang-orang yang pernah mendapat dukungan sesama keluargaku dari Mbero?”.

(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here