Mengenang Mimpi

oleh -80 views
Foto: Ilustrasi (net)

Oleh Chan Setu*

Apakah kau lupa, hari ini kita merayakannya kembali. Kau tidak pernah lupa sebelum-sebelumnya, bukan. Ada yang lain dari setiap cecap lidah, dia tidak lagi manis, tidak pula pahit, tidak juga tawar, hambar, tidak juga. Dia berbeda seperti putus tapi dia tidak sakit. Lebih menyiksa dari luka. Bahkan lebih resah dari sekadar gunda.

Yuni, hari itu tampak bertanya-tanya. “Kok, hari ini hari Rabu, sedang di pasar tak ada, Mama Martha, yang berjualan. Pak Kobus, juga tak ada. Ibu-ibu yang berjualan sirih pinang pun tak ada,” Yuni sedang menenteng karung yang hendak digunakan untuk barang-barang belanjaannya. Sambil berdiam di tengah-tengah pasar, Yuni bersama Ram, anak laki-lakinya, yang ikut bersama menghitung jemari sambil mengenang bahwa kemarin hari Selasa, bukan?

Fanny, si perempuan malang yang selalu menempati emperan Toko Mas Arjun sebagai rumah tempat Ia beratap menertawai. Yuni dan anak laki-lakinya itu. Yuni, tak tahu jika ada orang lain selain Ia dan Ram putera semata wayangnya itu.

Lagi-lagi, Fanny, menertawai kebingungan Ibu dan anak itu, sambil menunjuk-nunjuk dengan jari tengah. Dengan mata julingnya, Fanny ,tak seperti menertawai, Yuni. Ia menertawai kekonyolan dirinya sendiri di udara terbuka dengan sampah-sampah yang berserakan ke sana ke mari.

Ketika asyik menertawai keganjilan ibu dan anak itu, Fanny, jadi semakin bingung dengan pemikiran ketidakwarasannya. Fanny, mencoba berjalan mendekati ibu dan anak itu. “Hei, dia datang ke arah kita. Mending kita lari. Jangan-jangan dia ada mau sesuatu atau jangan-jangan dia mau memukuli kita.” Kata seorang perempuan kepada teman-temannya.

Ria, anak perempuan yang memiliki kelakuan seperti orang kurang normal bukan “gila” asyik dengan dunianya. Berjalan dari tong-tong sampah yang satu ke tong-tong sampah yang lain. Sambil berbicara dengan mulut yang berseliweran kata-kata. Hampir-hampir tak ada satu pun kata yang jelas terdengar angin sekalipun bibirnya runcing menyerupai paru-paru burung elang, ah itu berlebihan gumam kamu bukan aku.

Yuni dan anak laki-lakinya itu masih saja tertegun. Pasar longar tak saling berepotan. Yuni, masih mengira Ia seorang diri. Anaknya masih dalam gengaman tangannya sambil menatap lekat wajah ibunya. Keringat ibunya jatuh membasahi wajahnya sambil membiarkan aromanya menyeka matanya yang bersinar. Ram, asyik menatap mata ibunya sambil terus menghitung jemari ibunya. Tak ada yang salah, seperti biasa jemarinya utuh tak ganjil dan tak ada yang lebih untuk kedua tangan ibunya jumlah jarinya tetap sepuluh. Hanya saja, Ram, masih berdebat dengan hitungannya. Ia tak mau menerima angka sepuluh untuk hitungannya, itu sebabnya, Ram, ngotot menyudahi dengan air liur jemari-jemari ibunya. Ram, dia tidak gila. Ibunya mungkin gila. Ram, normal tapi ibunya tak pernah menormalkan dia. Namun keduanya masih sama-sama normal. Lalu keduanya masih teka-teki.

Fanny, si perempuan malang itu semakin saja mendekat. Satu langkah ia selalu menyalahi dirinya di hadapan halar-halar bambu yang menjadi tempat bagi, Ibu Martha, dan anak perempuannya, Riani, duduk saling bertukar senyum menjajahkan barang-barang jualan mereka setiap Rabu. Di samping kiri sudah pasti, Pak Kobus, dengan istrinya, Tina, selalu duduk dengan mengeluh. “Bu, jualan kita sepertinya semakin menerik, tetap saja tak satu pun yang laku.” Samping kanan pasti ada, Kakek Thias, dan cucunya, Mirand,a yang senantiasa mengeja abjad. Ya, Kakek Thias, selalu bergumana kepada, Miranda, cucunya demikian, “kamu harus tahu membaca dan menghitung, jangan bodoh seperti kakek atau ayah dan ibumu yang sampai sekarang tidak pernah tahu cara terbaik untuk mengeja nama dan menulis nama mereka.” Ayahmu Markus, selalu dipanggil ibumu dengan sebutan, Marku, sedangkan ibumu, Mbejo, selalu dipanggil ayahmu, Mbeo, kedua-duanya tak pernah saling menyalahi malah sama-sama menertawai. Dan teruntuk itu, kamu, ibu dan ayahmu selalu memanggil kakek dengan panggilan, Thia. Kakek harap kamu tidak bodoh seperti ibu dan ayahmu. Oleh karena itu, Miranda, cucuku kamu harus tahu membaca, menulis dan menghitung. Ungkap, Kakek Thias, kepada cucunya.

Tinggal beberapa langkah lagi, Fanny, akan berpapasan langsung secara empat mata dengan, Yuni, bersama anaknya, Ram. Lagi-lagi di langkahnnya yang semakin mendekat itu, Fanny, semakin menyalahi dirinya di hadapan sampah-sampah yang berserakan ungkapnya, “dasar manusia, gilanya minta ampun. Semuanya sedang gila kecuali aku. Sampah-sampah ini benar-benar menjadi gila. Tak ada satu pun yang benar-benar membereskannya, dan aku tak ingin siapapun menyentuh sampah-sampah ini. Jika seorang datang dengan berani ingin mengangkut sampah ini, yakinlah orang itu akan dicabikku seperti manusia mencabik bulu ayam. Aku tetap ingin hidup di tengah sampah. Karena itulah aku selalu mendiami Toko Mas Arjun.”

Satu langkah semakin mendekat, Fanny, dipanggil, Mas Arjun, dari beranda tokonya. Untuk ketiga kalinya, Fanny, menyalahi suara panggilan, Mas Arjun, “akh, Arjun, kau mengira aku ingin direhabilitas oleh dirimu. Kau lupa, kita saling mencintai. Kau tak ingin mengakui dirimu pernah mencintaiku dan kau berkali-kali menulis surat cinta kepadaku. Hanya saja aku lupa bahwa kadang-kadang ilusiku membuatku begitu gila hingga tersenyum, kenang dengan tertawa kecilnya seperti tawanya kepada, Fanny dan Ram, anaknya itu.”

Mas Arjun, memanggil kembali, Fanny, katanya sebentar lagi jam makan siang dan telah kusiapkan hidangan mewah untuk perjamuanmu hari ini. Tadi kudengar kau akan kedatangan tamu, karena itu aku bergegas membeli seekorang ayam potong di rumah, Ibu Yunni, dan singgah sebentar di rumah, Pak Tinus, sekadar membeli anggur terbaik sebagai teman perjamuanmu.

Tapi ingat, Fan, semoga tamumu itu wanita dan masih bujang. Siapa tahu aku bisa mengamininya untuk menjalin hubungan berasamaku, sebab aku bosan mencitanimu dan ingin mengakhirinya karena ulah kegilaan dirimu sendiri.

Yuni dan Ram, anaknya masih saja terpekur-bengong dengan hampanya pasar itu. Sudah pukul 11.00 WITA saat itu, dan terik matahari semakin mendekat ubun-ubun kepala. Ibu dan anak itu masih saja mengira bahwa keduanya hanya seorang diri di alam pasar yang tak seharusnya untuk berlama-lamaan.

Di sudut paling sudut pasar itu, ada gerombolan wanita yang sedang asyik berceloteh sambil menatap nanar kepada ibu dan anak itu. Satu di antara para wanita itu seperti sedang mengintai dengan ekor matanya sambil bergumam, “hei teman-teman, kita usir saja, Mba Fanny, itu dari hadapan, Yunni dan Ram, anaknya itu. Dari pada sebentar kedua-duanya saling berbicara atau saling memukul tanpa tahu siapa yang mengelak.” Yang lainnya bergumam, “biarkan saja, intinya kita dapat tiket gratis untuk pertunjukan yang tidak biasa ini.” Satu wanita lain lagi berkata, “akh, jangan-jangan kedua-duanya dulu itu adalah sahabatan dan pernah mencintai, Mas Arjun.” Yang lain lagi berkata, “tidakkah kalian tahu bahwa kita sedang asyik menggosip diri mereka. Mending biarkan saja keduanya saling berpapasan. Intinya kita saling menjaga-jaga, jangan-jangan sebentar keduanya akan saling menyepakati untuk datang kemari di antara kita dan akhirnya kita yang harus lari, kalian paham maksudku pasti.”

Suara para wanita itu mengganggu teling, Yunni. Saat itulah, Yuni, sadar bahwa Ia tak seorang diri. Bersama Ram, anaknya Ia datang menghampiri para wanita itu. Fanny, yang hampir mendekati, Yunni, dan anaknya itu, semakin menyalahi dirinya yang terlalu santai berjalan. Pilihan terakhir ialah bersampingan dengan, Yunni. Fanny, justru tidak terlalu pusing dengan suara-suara para wanita yang berada di sudut pasar itu. Ia malah merasa terganggu dengan, Mas Arjun, yang justru membuntuti, Yunni dan Ram, anaknya itu dari belakang. Langkah kaki, Mas Arjun, pelan tapi pasti. Sedangkan, Fanny, masih tertinggal beberapa langkah di belakang samping tubuh, Mas Arjun. Fanny, dengan tekadnya yang ingin bersampingan dengan, Yunni, akhirnya terhenti. Ia malah memilih untuk menghadang, Mas Arjun, agar tak harus membuntuti, Yunni dan anaknya itu.

Untuk yang kedua kalinya ini, Fanny, kembali gagal. Ia malah sedang berada dalam lingkaran perkelahian dengan, Yunni. Keduanya saling beradu mulut tak ada yang saling mengalah. Siapa yang ingin melerai? Keduanya masih ramai beradu mulut. Beberapa wanita yang sedang berada di hadapan kedua wanita ini asyik menatap keduanya dengan mata berbinar dan hatinya yang berguman, “itu kan, keduanya pasti berantem. Toh keduanya sedang gila dan sama-sama gila.” Ram, meninggalkan pergelangan tangan ibunya, usai ibunya menghentakkan tangannya dari gengaman.

Satu demi satu mulai mengambil aba-aba untuk saling memukuli. Keduanya berkelahi bukan di antara mereka berdua. Kedua saling memukul tapi bukan di antara mereka berdua. Semuanya tetap demikian. Sedangkan yang lainnya telah hilang dan lari begitu jauh.

“Di mana, Mas Arjun? Tanya Fanny.” Tak ada yang menjawab. Ia menanyakan, Mas Arjun, sedang Ia tak tahu bahwa sudah sejak lima belas menit yang lalu, Mas Arjun, telah pergi membawa, Yunni dan Ram anaknya. Keduanya telah pulang kembali. Tinggalah, Fanny, seorang diri.
Pasar hari itu benar-benar longar. Kegilaan yang datang dibawa oleh terik matahari. Siang yang bolong terlalu panas untuk dapat terjaga begitu lama. Lelap yang lama paling mungkin untuk menjaga mimpi agar tetap berdiam.

Ternyata, Fanny, sudah bangun dan pasar hari itu telah berakhir lebih dini usai ambulans mengangkat mayat seorang ibu dan anak dari bawah kolong halar tempat jualan, Pak Kobus. Fanny, telah menyadarinya bahwa mimpinya telah usai. Semuanya bubar. Tak tahu siapa si wanita itu dan siapa anaknya itu. Pertanyaannya tak ada yang mau jawab. Semuanya lari dan ketakutan. Setiap mata mulai melototi dirinya, seperti menuduh tapi tak ingin menyalahi. Seperti menyalahi tapi tak ingin menawarkan. Seperti ingin menawarkan sayangnya semua orang takut. Tak ingin saling mencurigai seorang laki-laki tua menyadari bahwa semua mata jatuh mencurigai, Fanny, si aktor pembunuhan hari itu di pasar.

Sayangnya, Fanny, telah gila usai Ia kehilangan saudari semata wayangnya, Yunni dan keponakkan satu-satunya, Ram. Keduanya itulah alasan mengapa Ia gila dan sedang menunggu lelap di beranda Toko Mas Arjun. Seolah menempati beranda Toko Mas Arjun seperti rumahnya sendiri. Sedang semuanya adalah jawaban dari mata yang memelototi dirinya dan curigai si tua yang penuh hasrat. Dan mimpinya siang itu adalah sebuah kenang yang selalu hadir di saat dirinya terpekur lelap menanti, Mas Arjun, untuk datang dan melampiaskan kepelampiasannya.

Pertokoan Kota Maumere, 2020.

Catatan
Cerpen ini penuh teka teki dan sebenarnya banyak pertanyaan yang akan ditimbulkan dan pastinya jawaban selalu ada di balik cerita yang telah saya alurkan di dalamnya. Olehnya, saya ingin menyampaikan permohonan maaf atas dan untuk alur dan nama penokoan dalam cerpen saya kali ini. Ini juga merupakan cerpen kemanusiaan yang perlu kita simak dan sadari.

Penulis; Tinggal di Wisma Arnoldus Nita Pleat, Seminati Tinggi St. Paulus Ledalero. Penulis buku Antologi cerpen dan Puisi “Embun Pada Sepasang Mata Lebam”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *