Rindu Juga Manusia

oleh -71 views
Ilustrasi perayaan misa di gereja. (Foto: Ist)

Oleh Chan Setu*

“Bangun… bangun sudah jam 06.00,” teriak Ayah dari kamar kami. Seperti biasa, setiap pagi, ayah selalu membangunkan kami. Di rumah, setiap hari, Ayah selalu menjadi alarm bagi kami. Baik ketika bangun pagi, makan, mandi, belajar atau apa pun yang perlu kami kerjakan.

Hari itu, hari minggu pertama di bulan Juli tahun 2017. Detusoko, hari itu tidak seperti biasanya. Juli, selalu menjadi bulan yang terik sekali pun sejuk masih tinggal di bawa rindangnya pepohonan sekitar rumah. Namun, minggu itu, di luar gerimis sedang bertamasya, membiarkan rindu mengenang lalu pergi, barang kali sebentar siang atau sore.

Sedang, sekitar 300-an meter arah utara rumah kami, lonceng sedang riang menari ria menebar pesona kepada semesta dengan mesrahnya mengabari pagi telah kembali.

“Aris, Tus dan Dian cepat pergi mandi. Itu lonceng kedua dan kalian masih saja mengurung diri di dalam ragi dan lawo. Apalagi kau Aris, kau seorang frater, tidakkah kau harus lebih dahulu berada di atas, menyiapkan dan mengatur seluruh peralatan perayaan, dan bukankah seharusnya kau yang menggoyangkan lonceng. Kau juga Tus, anak seminari. Kalian berdua sebenarnya harus memberi contoh bagi adik kalian. Sana, cepat pergi mandi,” ucap Ayah dengan nada kesal.

Ayah dan Ibu, orang tua yang sangat disiplin. Hidup dalam prinsip membuat mereka selalu menekankan kedisiplinan bagi kami bertiga sebagai anak-anak mereka. Kedua orang tuaku memang bukanlah orang yang suci dan sempurna, namun kehidupan religius menjadi prioritas utama dalam keluarga kami. Selain itu, Ayah dan Ibuku selalu mengajarkan kami agar jangan sekali-kali melupakan atau meninggalkan doa sekali pun itu doa Bapa Kami. Kebiasaan yang dibangun kedua orang tua kami tidak saja membiasakan kami untuk bangun pagi dan mengikuti misa harian mau pun hari minggu. Di samping semuanya, kebiasaan Ayah dan Ibu yang kami lihat setiap harinya, kemudian menjadi contoh yang kami praktikkan setiap hari, ialah kebiasaan menandakan tanda kemenangan (tanda salib) di setiap kali hendak keluar dari rumah.

Akh, cerita tentang Ayah dan Ibu dalam kehidupan religius tentu membuatku secara pribadi terkadang bangga tapi di satu sisi cenderung bosan. Geger, maklum, di setiap situasi, Ayah dan Ibu selalu menekankan kami tentang doa dan doa.

Di rumah, memang kami bertiga menjadi anak mereka. Aku yang tertua dan sedang menjalani panggilan hidup sebagai seorang calon imam biarawan misionaris serikat sabda Allah (SVD). Tus, Dia saudara keduaku yang saat itu sedang duduk di bangku sekolah menengah atas kelas XI di Seminari St. Maria Bunda Segala Bangsa Maumere dan Dian adik bungsu kami, saat itu sedang berada di bangku sekolah menengah pertama kelas X SMP Frateran Ndao Ende.

Setiap kali pulang libur, kami bertiga selalu menjuluki Ayah kami sebagai preases dan Ibu sebagai prefek. Soalnya, kehidupan asrama yang kami jalani seolah hanya pindah tempat dengan situasi yang sedikit berbeda, sedang rutinitas kebiasaan di asrama, cenderung kami hidupi di rumah setiap kali kami libur.

Buktinya hari ini, ketika malam menjadi bunga mimpi yang mesrah tatkala air liur yang menempel di setiap sarung bantal menguap bersama embun yang jatuh basah diiringi gerimis-gerimis kecil dengan dingin yang semakin nikmat menghantar lelap lebih panjang.

“Rian, Tus dan Dian ini yang terakhir Ayah teriak, cepat mandi dan siap pergi misa. Rian, kau sebagai kakak dan statusmu frater. Tus, kau anak seminari macam apa kalau bangun jam begini. Dian, anak perempuan seharusnya bangun lebih awal, tidak ada yang malas-malasan. Ayah hitung sampai tiga, kalau kalian bertiga masih tidur maka kalian tahu apa yang akan Ayah buat. Sat……”. Hitung Ayah dengan nada yang semakin tinggi dan marah.

Belum usai Ayah menghitung satu, kami bertiga belepotan lari keluar dari kamar dan menuju kamar mandi sambil tak ingin mengantri dan berebutan untuk mandi.

“Aku duluan kak, soalnya aku kan anak perempuan. Anak perempuan biasanya mandi dan bersolek cukup lama, jadi aku duluan ya kakak-kakakku,” ucap, Dian adik kami.

“Ah, tidak… aku duluan. Aku anak seminari dan kalau terlambat nanti apa kata orang. Apalagi liburan begini, bentuk dari promosi panggilan juga. Jadi, aku duluan,” Ucap Tus dengan bangga.

“Baiklah. Kalian berdua rebutan saja. Kakak izin ambil sikat gigi, sabun mandi dan air satu ember. Kakak hanya baki ranga di luar,” ucapku tak ingin berdebat dengan keduanya.

Usai mencuci muka dan sikat gigi, Tus dan Dian masih saja gerutu merebut siapa yang ingin duluan. Sementara berdebat, teriak Ayah dari dalam rumah. “Tus, Dian… kalian berdua kalau masih rebutan dan ribut, maka sebentar setelah Ayah ganti pakaian, Ayah yang mandikan kalian berdua dengan kayu gamal.”

“Kakak, ini Tus tidak mau mengalah,” Gerutu Dian kepadaku.

“Kalau begitu, Tus, kamu sebagai kakak sebenarnya bisa mengalah sedikit dengan adikmu itu. Dan kau laki-laki, jangan model perempuan. Jadi, cukup cuci muka saja, siapa juga yang mau lihat ku sepanjang misa sebentar. Muka juga pas-pasaan dan baru anak seminari juga, mau sok-sok lagi,” umpatku mengejek adikku, Tus. Biar keduanya tidak dimarahi ayah.

Ya, berkaitan dengan mengejek dan ejek di antara kami bertiga, sudah jadi hal biasa. Toh, itu malah membuat kami sebagai kakak beradik lebih akrab dan dekat tidak canggung. Dan kalau ada orang yang bertamu di rumah, mereka akan senang melihat tingkah kami bertiga yang saling mengejek dan mengganggu satu sama lain. Tapi ingat, kalau Dian, adik bungsu kami sampai menangis, biasanya Ayah dan Ibu tidak segan-segan memarahi bahkan memukul kami. Mengerti saja, selain Dian sebagai anak bungsu di antara kami, Dia juga menjadi satu-satunya saudari kami.


Di Gereja, hening begitu damai. Setiap orang datang dengan intensi dan ujudnya masing-masing. Ketika di mimbar pengumuman, seorang Ibu berbalut lawo-lambu pakain adat Ende-Lio yang biasa dikenakan kaum hawa. Membaca beberapa intensi dari beberapa anggota keluarga pada hari minggu itu. Sedang, di depan pintu masuk, seorang imam telah anggun diapiti putera-puteri altar (PPA) yang menjadi malaikat dan pelayan sepanjang perayaan ekaristi hari itu.

Aku, Tus dan Dian, memiliki tempat duduk masing-masing yang memang tidak disiapkan secara langsung oleh gereja, apalagi dengan nama masing-masing, bukan itu maksudku. Keseringan dan kebiasaan menempati bangku di sudut kiri belakang itu menjadi milikku, menempati bangku kiri paling depan sebagai barisan terdepan itu miliki Dian, adikku. Sedangkan di deretan bangku paling belakang bagian kiri yang mendekati pintu masuk itu, kebiasaan adikku, Tus.

Dan minggu itu, kami menempati bangku kami masing-masing. Kadang aku tertawa dan tersenyum sendiri ketika bangku itu seperti akrab dengan tubuhku, lebih tepatnya pantatku. Namun hari itu, aku duduk berdampingan dengan beberapa Mama-mama dari lingkungan dan KBG kami. Kebetulan untuk satu barisan bangku yang panjang itu, bisa ditempati 5-7 orang. Menariknya, hari itu di samping kananku ditempati, Rindu, seorang Ibu paruh baya berusia sekitar 60-an tahun.

“Selamat pagi, nana,” Sapa Rindu, yang sering kami panggil, Bibi Rindu. Sambil menyodorkan tangan kepadaku untuk berjabat tangan.

“Selamat pagi kembali, Bibi,” balasku. Waktu itu, lagu Kemulian sedang girang dinyanyikan anggota kor lingkungan dua. Usai sapa, aku kembali hening dalam khusyuk bacaan-bacaan yang diperdengarkan kepada kami hingga homili singkat dari imam yang memimpin misa.

Bibi Rindu ini, menjadi wanita yang cukup disegani dan ditakuti umat di paroki kami. Sehingga, saat Ia menempati bangku di sampingku, ada Ibu-ibu yang mengusikku dari belakang. “Frater, jaga oo. Napa kai kumat walo gharu,” ucap seorang Ibu kepadaku.

Memang sewaktu kecil dulu, ketika melihat, Bibi Rindu, hanya ada dua pilihan, lari dan tertawa. Namun itu dulu. Dan hari itu, aku tetap diam dan tenang sambil tidak merespon apa yang diucapkan Ibu-ibu di belakangku. Sedang dari berbagai sudut tempat dudukku, ada mata yang mengintai sambil tersenyum dan tertawa. Entah tersenyum kepadaku atau Bibi Rindu, atau tertawa untukku atau untuk Bibi Rindu. Intinya, minggu itu, aku tetap dalam hening perayaan kudus itu.

Ketika menjelang lagu persiapan persembahan, usai doa umat. Bibi Rindu, meninggalkan tempat duduknya sambil permisi di depanku. Aku tak tahu ke mana Ia pergi. Semua mata memang tertuju kepadanya dan aku memilih untuk biasa-biasa saja.

Frater e, kai mbana emba gharu e,” ucap seorang Ibu dengan bahasa daerah Lio. Saya tersenyum sebagai bahasa isyarat untuk membalas pertanyaan Ibu itu.

Semuanya baik-baik saja. Ucap seorang Ibu lagi kepadaku, Frater, kai gharu eo bingu. Jadi, jaga kai kumat walo newelo,” ucap seorang pemudi di depanku sambil berusaha menoleh ke belakang tempat aku duduk.

Menjawab pernyataan tersebut, untuk kesekian kalinya, aku tersenyum sambil berkata dalam batin, “nona e, Bibi Rindu mungkin gila. Tapi aku yakin nona lebih gila karena berbicara tentang Dia. Sedangkan Bibi Rindu, Dia tidak pernah berbicara tentang nona”.

Seperti biasa, ketika lagu Anak Domba Allah dinyanyikan dengan begitu tenang., aku maju ke depan altar bersama beberapa suster yang menjadi pembantu imam dalam membagikan hosti di beberapa sudut bangunan gereja tua itu.

Usai menjalankan tugas, aku kembali ke tempat du. Usai lagu post komuni dinyanyikan, di depan deretan bangku paling kanan dekat anggota kor, gaduh dan ribut semakin terasa. Tertawa, cibir dan mencibir semakin riang di antara umat.

Miu ata Detusoko nah iwa latu mea. Menga garetei naja ata. Iwa so mbanah ngaji nah miu mala gosip naja ata. Iwa so ngere kami atas Wolofeo eo kinge no ata garetei. Miu mbanah ngaji so ngere mbanah one pasae. So gare, goti ngombi limbah iwa jelas. Lele sei miu ata Detusoko….. ” teriak Bibi Rindu di depan sana.

Tak ada yang gubris. Semua tertawa dalam barisan gigi yang putih dan ada yang ternoda merah bekas sirih pinang yang lupa dikumur dan disikat giginya.

Tertawa semakin jadi tren. “Frater, Dia kumat lagi kan, hehehe,” ucap seorang Ibu yang duduk di samping kanan”.

Kemudian hening kembali datang. Seorang Ibu berlambu lawo menyampaikan dan membacakan beberapa pengumuman untuk minggu ini. Bibi Rindu kembali datang dan duduk di sampingku sambil mengucapkan beberapa kata yang hampir tidak aku pahami. Di depan altar, doa penutup sedang didaraskan yang kemudian disusul dengan berkat agung sebagai berkat penutup dari imam yang memimpin misa.

Minggu itu, semuanya terasa begitu hambar meski pun tenang dan syahdu jadi hening selama perayaan ekaristi hari itu. Ketika pulang ke rumah, usai membereskan beberapa hal di dalam gereja bersama Tus, aku kemudian merenungkan tentang Bibi Rindu. Rindu juga manusia. Memang Dia tidak baik-baik saja. Namun seturut naluriku, Ia lebih baik dari diriku, kedua orang tuaku dan siapa saja yang mengenalnya. Dia mungkin gila bagi sebagian orang yang menganggap lebih waras dari Dia. Apakah tidak mungkin bahwa Bibi Rindu juga baik dan kita gila bagi beberapa orang yang telah diproyeksikan sebagai kurang waras?

Rindu, juga manusia yang terkadang baik dan terkadang sembarang, aku tidak mau mengatakan Ia buruk. Sebab, Dia baik pada dasarnya, toh Dia juga manusia.

Kata orang, Dia gila. Tapi bagi kami, Dia baik-baik saja. Tidak stress dan baik-baik saja. Mungkin Dia mengatakan kita gila. Karena Dia melihat dirinya baik-baik saja.

Dia sering berteriak bukan sedang bergosip. Dia sering berbicara tanpa objek dan subjek tapi Dia berbicara tentang realitas. Realitas yang Ia jalani dan mungkin yang kita jalani. Dia tidak tahu apa itu SPOK dalam berbahasa Indonesia yang baik tapi Ia paham bahwa bahasa Ibunya adalah bahasa Lio. Ucap Ibu mengakhiri permenunganku hari itu.

“Dialah Rindu, Rindu yang suatu saat kita akan kenang,” batinku.

Detusoko, 2019.
Sebuah kenangan di dalam diary.

baki ranga: Bahasa Manggarai yang berarti cuci muka.
lawo-lambu: Pakaian perempuan dalam adat dan budaya Ende-Lio yang biasa digunakan untuk perayaan-perayaan baik perayaan keagamaan atau pun adat dan atau budaya.
“frater, jaga oo. Napa kai kumat walo gharu”: artinya “frater, awas nanti Dia kumat lagi”.
“frater e, kai mbana emba gharu e”: artinya “frater, Dia pergi ke mana”
“frater, kai gharu eo bingu. Jadi jaga kai kumat walo newelo”: artinya “frater, Dia itu gila. Jadi, awas kalau Dia kumat lagi”.
“miu ata Detusoko nah iwa latu mea. Menga garetei naja ata. Iwa so mbanah ngaji nah miu mala gosip naja ata. Iwa so ngere kami atas Wolofeo eo kinge no ata garetei. Miu mbanah ngaji so ngere mbanah one pasar. So gare, goti ngombi limbah iwa jelas. Lele sei miu ata Detusoko….. : artinya “kamu orang Detusoko tidak ada perasaan malu. Hanya tahu omong atau berbicara nama orang. Pergi misa bukan untuk ikut misa tapi gosip nama orang. Tidak seperti kami orang Wolofeo (salah satu kampung di paroki Detusoko) yang dengar kalau orang omong/berbicara. Kamu kalau pergi misa seperti pergi ke pasar, omong banyak dan cerewet (gosip). Dengan sudah kamu orang Detusoko…”

*Penulis; Saat ini menetap di Wisma Arnoldus Nita Pleat, Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Maumere. Penulis buku Antologi Puisi dan Cerpen “Embun pada Sepasang Mata Lebam”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *