Puisi-Puisi Nardianus Virgo

oleh -124 views
Foto: Ilustrasi (net)

Dengarlah

Andaikan Engkau memiliki bola mata
Engkau melihat deritaku
Matamu adalah saksi hidupku

Andaikan Engkau memiliki telinga
Engkau mendengar keluh kesahku
Telingamu adalah rekaman hidupku

Betapa tidak, deritaku silih berganti
Kesaksian hidupku tak dapat diteropong
Kebungkaman bergulir dibalut kesedihan

Lihatlah dan lihatlah
Wahai Engkau penguasa kursi empuk
Janganlah Engkau tidak melihatku seolah buta

Dengarlah dan dengarlah
Wahai Engkau penguasa rumah mewah
Janganlah Engkau tidak mendengarku seolah tuli

Kemanakah matamu melihat
Kemanakah telingamu mendengar
Wahai Engkau di kursi empuk

Sekali Engkau menari di atas kursimu
Penderitaanku bertambah usia
Kapankah Engkau sadar?

Pejuang

Aku berteriak di sudut kota
Aku menari menagih janjimu
Gula memang terasa manis
Tak sebanding dengan janji-janjimu
Dimanakah janji itu tersimpan?
Kemanakah janji itu menghilang?

Aku berteriak disiang bolong
Tak ku hiraukan panas teriknya matahari
Aku bernyanyi di bawah guyuran hujan
Tak ku hiraukan dinginnya es jatuh
Itu semua demi aku dan kamu
Itu semua demi mereka dan kita semua

Salahkah aku melangkah merawatnya
Salahkah kami berjuang merebutnya
Itulah semua kemauan kerasmu merasukiku
Aku berteriak menagih janji-janji manis
Aku dibilang penjilat nasi bungkus
Kami dibilang penjilat milenial

Aku bersuara Engkau tersenyum
Aku berteriak Engkau tertawa
Aku menari Engkau bersuara
Mengertikah kamu dengan suaramu?
Aku berteriak di sudut kota
Demi menyapa Dia di singgasana
Dengarkan kami

Janganlah menutup mata melihat derita
Bukalah mata saksikan nestapa
Janganlah menutup telinga mendengar keluh kesa
Bukalah telinga camkan itu
Ini hanyalah suara pinggir jalan
Jikalau penting camkan itu

Duka Kembang

Kembang layu aku pun kembali
Menapak jalan di lorong sempit
Menempuh tujuan berliku-liku
Andaikan ini bola bermain
Aku dapat menendangnya jauh

Layu kembang dunia berduka
Dunia cinta dunia asmara
Romantis terbang dibawa angin
Putuslah benang penyambung rasa
Nadi berdenyut di sebelah kamar

Membiarkan kembang layu seolah aku benci
Membiarkan kembang pergi seolah aku bosan
Mekarlah kembang mekarlah dalam duniamu
Embun penyejuk memberimu semangat
Sinar terpancar memberimu kehangatan

Layumu menyimpan sejuta rasa sedih
Layumu menyimpan sejuta pertanyaan
Kelopak mata tak mampu membendung
Air mata berlinang tak kunjung henti
Semua terjadi apakah salahmu?

Oh kembang…
Lepaskan layumu di alam bisu
Katakan dukamu pada rumput yang menari
Hiburlah hati bersama mereka
Hanyutkan itu bersama embun menghilang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *