Oleh Latrino Lele*

Kisah cinta yang berlangsung begitu sempurna. Antara aku dan engkau yang kemudian disematkan menjadi kita dalam ikrar suci. Kita menjadi sepasang kekasih yang bahagia. Bahagia ketika melihat senyum manja nan asri tersungging di bibir mungil yang lugu, kala kita berjumpa. Bahagia kala kita melihat bintang gemerlapan cahayanya dalam dekapan langit tengah menemani kita di malam minggu yang syahdu. Hari-hari terasa lebih berwarna bersamamu. Begitu romantis kala aku memainkan melodi pada gitar kesayanganku dan engkau melantunkan nyanyian yang merdu. Memecah kesunyian malam. Terkadang aku merasa sebagai manusia paling beruntung di dunia perihal mendapatkan cintamu. Cinta yang lahir dari rahim rindu yang membuncah. Cinta yang dibaluti harapan-harapan tulus. Bukan ilusi belaka. Dengan penuh kehangatan ia tumbuh dengan mesrahnya meresap pada kedalaman jiwa. Dan sangat piawai pesonanya merasukiku.

Sungguh, aku merasakan kelembutan cintamu mengalir dengan cermat ke seluruh sudut-sudut hatiku. Membersihkan semua bekas-bekas luka yang berseliweran dalam hati. Bahkan yang masih melekat erat dalam keseluruhan hidupku. Dengan sangat anggun engkau pun menabur benih-benih cinta perihal ketulusan mencintai. Sungguh adamu memberikanku gairah untuk hidup dan ingin selalu berada di sampingmu selamanya. Ingin bercanda dan bercerita tentang cinta kita yang terlampau indah untuk dikisahkan itu.

Engkaulah gadis yang aku maksud itu nama lengkapnya, Marina Sulistika Putri, dan sapaannya Sulistika. Ini sebuah nama yang lahir dari kasih sayang dan cinta yang besar orang tuamu. Nama itu sangat indah sesuai perangaimu yang menawan dan lembut itu. Sesuai wajah cantikmu dengan rambut panjang hitam yang terurai. Menebar pesonamu. Juga lesung pipimu yang membuat engkau tampak lebih cantik dan istimewa.

Engkaulah sosok yang mampu membawaku keluar dari luka yang mungkin tak tersembuhkan. Jika kita tidak ditakdirkan untuk berjumpa. Luka itu terlalu perih bagiku dan seperti pisau ia selalu menyayati hatiku. Luka yang ditoreh kekasihku yang kini menjadi mantanku. Aku pun sempat lumpuh dalam kebodohanku yang abadi oleh keegoisan kekasihku itu. Ia telah membunuh segala harapanku yang meluap-luap dalam dada. Bukan karena aku kurang mencintainya atau tidak menyayanginya. Sejujurnya aku sangat mencintainya. Dan sudah aku bayangkan indahnya hidup bersamanya selamanya. Namun realitas tak seindah ekspektasi karena tanpa alasan Ia pergi meninggalkanku. Setelah berhasil menyematkan luka di hatiku yang kian rapuh. Ia pergi kepada rangkulan yang mungkin lebih hangat dariku.

Dalam kerapuhan itu aku berjumpa dengan Dewi penolongku. Itu engkau, Sulistika. Engkau membangunkanku dari tidur lelap akan bayangan mantanku. Aku pun telah menyadari bahwa cintamulah yang mampu melenyapkan semua luka itu. Mungkin engkaulah perempuan yang dikirim Tuhan kepadaku. Perempuan yang selama ini aku harapkan di setiap ujudku. Kala sunyi senyap dengan khusyuk aku mengatup tangan dan merapalkan doa kepada Tuhan untuk mengirimi aku gadis sepertimu. Sekarang engkau sudah menjadi kekasihku. Perihal aku jatuh cinta kepadamu. Aku sangat optimis bahwa kehadiranmu adalah jawaban dari setiap nada doaku. Aku sangat bersyukur untuk kesempatan indah ini. Kesempatan yang diberikan Tuhan untuk kita bersama. Sungguh engkau begitu sempurna bagiku. Aku pun tak pandai menjelaskan seluruh keutuhanmu yang sempurna itu.


Awal kita berjumpa begitu istimewa. Kala itu mentari sangat cerah memancarkan sinarnya menerawang ibu bumi. Dengan perpaduan hembusan angin yang begitu manja menerpa wajah-wajah makhluk hidup yang menghuninya. Menciptakan suasana yang bersahabat. Namun tidak dengan hatiku. Saat itu di jam istirahat aku sempatkan diri untuk duduk di taman depan kantorku bekerja. Aku duduk pada bangku panjang di bawah naungan pohon mangga yang rindang dan menyejukkan jiwa. Hari itu aku tidak begitu semangat seperti karyawan yang lain. Iya.. karena memang hatiku tengah berada dalam zona kehancuran. Hatiku hancur berkeping-keping. Sebab aku baru saja menerima pesan dari Nina di WhatsApp bahwa Ia telah memutuskan hubungan kami tanpa memberikan alasan yang jelas dan akurat.

Sungguh ini peristiwa yang menyakitkan bagiku kala itu. Aku sendiri telah memimpikan suatu hal yang indah bersamanya di hari tua. Tapi semuanya terjadi begitu saja. Mungkin Dia bukan jodohku, sebuah pikiran yang sempat terlintas di benakku setelah membaca pesan darinya.

Namun aku disembuhkan dari rasa sakitku karena berjumpa denganmu, Sulistika. Engkau datang pada waktu yang tepat kala itu. Engkau menghampiriku di taman dengan membawa sebotol minuman sebagai pelumas tenggorokanku yang tengah kering melarat. Engkau duduk tepat di sampingku dengan memberikan tatapan yang teduh merayu. Engkau berusaha untuk mengetahui keadaanku saat itu yang tampak lemas tak berdaya. Tapi aku lebih pandai untuk mengalihkannya seolah tak terjadi sesuatu denganku. Aku mau terlihat kuat berada di depanmu. Sungguh aku akui hadirmu membawa ketenangan tersendiri bagiku. Aku begitu nyaman berada bersamamu. Kita berbincang banyak hal mulai dari perkenalan nama sampai pada pertukaran nomor handphone. Sebagai akhir perbincangan kita. Dan itu sangat menarik. Aku sedikit terhibur candamu yang sungguh manis. Secara perlahan luka yang disematkan Nina itu sirna dari hidupku.

Aku baru menyadari ternyata engkau adalah karyawan baru di kantorku bekerja. Sungguh ini kabar gembira bagiku. Kita jadi lebih banyak waktu untuk berjumpa dan bercerita. Adamu membuatku lebih semangat untuk bekerja. Jujur, terlalu sering berjumpa denganmu membuat aku telah jatuh hati padamu. Mungkin benar kata orang, cinta lahir karena keseringan berjumpa dan bercerita. Aku sendiri percaya akan hal itu. Karena memang itu terjadi denganku. Dan pada suatu momen indah di sebuah kafe, aku pun mengungkapkan rasa cintaku padamu. Dewi fortuna ternyata masih dipihakku. Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Kita akhirnya menjadi sepasang kekasih yang bahagia. Banyak momen indah yang kita nikmati sebagai kekasih. Tiada hari tanpa pesan juga video call sebagai pengobat rindu antara kita. Hari-hari selalu bersamamu membuat aku telah mengetahui banyak hal tentang kepribadianmu. Sebagai pribadi yang begitu tulus mencintai. Begitu pun denganmu mengetahui tentangku. Sampai akhirnya kita bersepakat untuk mengikrarkan janji sehidup semati selamanya di depan altar suci. Dengan ribuan pasang mata yang menjadi saksinya. Kita pun menjadi keluarga yang bahagia selamanya.

Susang, 10 Juli 2020

*Penulis; Asal Bokogo, Wolowea Timur. Sekarang kuliah di STFK Ledalero dan menetap di Biara Scalabrinian, Maumere.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here