Pelikmu, Pelukku

oleh -173 views
Foto: Ilustrasi (net)

Oleh Hedwig Randalinggi

Seseorang di sana, diam-diam sedang menyemai cinta untuk mu
Lalu kau yang tak diberi pilihan untuk tinggal atau pun pergi
Bersembunyi dibalik rasa agar tak memberi jarak pada nyaman yang mulai mekar
Ingin kembali tapi terlambat, melangkah jauh pun tak kuasa
Kau membungkus perih dengan jenaka, menjaga banyak hati agar terhindar luka
Semoga segala rasa menemukan jalan pulang, juga rumah yang sebenarnya

Apakah ada yang bisa menjelaskan bagaimana sebuah rasa kemudian membuat jiwa terkulai? Menjadikan dirimu tanya yang juga tak dapat kau beri jawab. Mengapa seperti ini? Mengapa harus terjadi? Mengapa harus Dia? Mengapa begitu cepat? Mengapa… dan mengapa lainnya yang tak akan pernah kau mengerti. Ya, perkara hati siapa bisa menduga. Begitu dahsyatnya rasa memporak-porandakan banyak aspek dalam dirimu. Lalu aku yang menjadi pelampiasan rasa itu, entah harus berterima kasih atau memaki. Sama halnya kau yang tersiksa rasa, aku di sini juga meredam perih yang tak ingin kuberi harap.

Pada titik ini, entah dari mana aku harus mengurai. Kau dan aku yang menjadi ‘kita’ dan kemudian menggelitik konsentrasiku, mencoba mencuri perhatianku. Tak menyangka hingga sejauh ini. Tak pernah kusengaja, bahkan memikirkannya pun tak sampai. Aku malah menjerumuskanmu dalam perkara pelik berlabel cinta. Hingga pada jeda ini, aku tak tahu bagaimana menetralkan gejolak rasamu, senyawa apa yang perlu kutambah agar kita tak sama-sama meledak di ujung jalan nanti.

Egoisnya dirimu. Tak perlu waktu lama. Hanya beberapa pekan selepas perjumpaan pertama itu. Akhirnya, kau mengaku kalah pada sebuah rasa. Dengan tanpa permisi, kau melibatkanku yang tak pernah ingin tahu ini masuk lebih dalam. Menarikku bahkan semakin jauh. Aku yang bersembunyi dibalik selimut bimbang ini, pernahkah kau bertanya bagaimana aku bergumul bersama semua hal menyesakkan dada ini? Pernahkah, sayang?

Kau adalah insan yang menemukan nyaman pada obrolan panjang hingga dini hari ketika yang lain mencumbu lelap. Yang lancang menyelipkan jemari pada rongga telapak tanganku. Dan diam-diam menitipkan doa yang tak ingin aku campuri. Sementara aku, kawan berkeluh kesahmu yang menghanyutkan diri lantaran tak bersahabat lelap. Yang membiarkan tangan hangatmu menggenggam dinginnya nadiku. Dan juga diam-diam menitipkan doa untuk segala pelikmu.

Alih-alih berpikir tak pantas, sialnya, kau malah memupuk nyaman yang telah lama hilang. Perlahan membangun ‘rumah’ yang kau rindukan. Dan serta merta merebahkan hati tanpa perlu tahu aku masih di sana atau tidak. Persetan, katamu. Kau memintaku membiarkannya. Dengan polosnya aku pasrah. Bukan, bukan berarti menarikmu lebih dalam. Aku yang memberi ruang ini, hanya ingin menjaga rasa agar tak ada yang tersakiti. Tapi sepertinya aku salah.

Di sudut hatiku, ada gunda yang begitu dahsyat. Perihal ‘rumah’ yang kau beri jarak semakin jauh dan perlahan menjadikanku tujuanmu ‘pulang’. Sungguh, adakah kau memikirkannya juga?

Sebelum ‘kita’, kau dan aku adalah asing yang dengan tanpa sengaja dipertemukan. Apa ini ulah semesta? Jika iya, mungkin kau akan berucap syukur. Tapi aku akan tetap berucap, sialan! Hahaha…

Aku tak ingin memaki. Walau sering kali aku mengataimu bodoh. Lebih dari itu, terlalu banyak syukur untuk waktu yang mambawaku terlibat pada benang kusut ini. Syukur untuk perjumpaan kita. Yang membuatku belajar banyak hal. Aku yang senantiasa menguatkan diri untuk segala lelahku, tak kusangka kau lebih dahsyat menelan begitu banyak pahit. Aku yang bersikap tak acuh ini, diam-diam memeluk lukamu dalam doa dan air mataku.

Hei, bodoh… Jangan mencintaiku! Kau pasti lebih mengerti jawabnya. Apapun itu, aku hanya tak ingin siapa pun terluka, terutama kau. Pulanglah pada ‘rumah’ yang terlanjur kau bangun itu. Jangan lagi mengutuknya sia-sia. Karena tak akan pernah ada rumah yang benar-benar adalah rumah jika tanpa penghuni di dalamnya.

Sayang, jangan memupuk rasamu begitu semangat. Bukan maksudku menghancurkan taman bungamu. Memang akan selalu ada titian yang tak bisa dilewati. Itu adalah menuju aku. Tapi aku ingin kau tahu, percayalah, aku menyayangimu lebih dari sikap tak acuh ku.

Ingat lagu yang aku kirimkan itu? Ya… akan selamanya seperti itu. Aku adalah peluk untuk segala pelikmu. Bahu tempat mu bersandar. Tangan yang dapat kau genggam. Senyum yang meredam amarahmu.

Semoga aku tetap berkawan kuatmu. Menjadi pendengar egomu. Lawan argumentasimu. Pendukung ambisimu. Menjadi bahagiamu, jika kau perlu. Semoga kau segera menemukan ‘pulang’. Berdamai dengan hatimu. Menemukan bahagiamu.

Aku yang mensyukuri setiap perjumpaan ini, semoga tak pernah kau anggap itu kesalahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *