Warga dunia boleh jadi bersedih atas punahnya reptil raksasa purba ini. Namun Sang Pencipta, rupanya masih berbaik hati menyisahkan satu jenis marga dinosaurus dan membiarkannya hidup hingga memasuki abad modern. Sementara rekan-rekan sejenis lainnya telah memfosil dan cuma jadi pajangan di ruang-ruang museum. Dialah kadal purba Komodo, sisa-sisa keturunan dinosaurus yang masih hidup di Pulau Komodo, dalam bilangan Taman Nasional Komodo (TNK) Kabupaten Manggarai Barat, di Pulau Flores Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Komodo, nama itu dikenal luas hingga ke ujung bumi. Kemasyuran Komodo bukan hanya karena binatang purba nan langka itu hanya terdapat di wilayah itu, tapi lantaran banyak ceritra mitos yang beredar di sekitarnya. Sebenarnya Komodo itu nama salah satu pulau dari ratusan gugusan pulau kecil yang tersebar di kawasan konservasi TNK. Sementara oleh warga setempat, lebih mengenal hewan purba itu dengan sebutan Ora.

Ceritera tentang penduduk Komodo dan hewan purba Komodo seolah tak ada habis-habisnya. Semakin diceriterakan, semakin penasaran. Itulah the dragon princess atau putri naga dari Komodo. Berbagai varian ketika kita bicara tentang asal usul orang Komodo dan binatang Komodo. Ada nilai-nilai sejarah yang ditinggalkan. Ada kisah heroik diwarnai pertarungan, ada pula kisah pilu penuh darah dan air mata. Itulah sejarah panjang Komodo. Sejarah yang tak pernah lekang arus zaman hingga memasuki milenium baru abad ke-21 ini.

Memang, tidak mudah menelisik asal usul penduduk asli Komodo. Ada varian kisah seputar asal muasal penduduk Komodo itu. Satu versi menyebutkan, penduduk Komodo adalah para pendatang asal Suku Bajo yang dahulu kala singgah di pulau itu. Mereka datang mencari ikan dan lamban laun menetap di kawasan tersebut. Versi lain mengungkapkan, penduduk asli Komodo memang pernah ada, namun mereka tidak berkembang karena tidak punya keturunan.

Ishaka Mansyur, sesepuh Komodo punya ceritra. “Penduduk yang ada sekarang bukan asli penduduk Komodo tapi para pendatang. Penduduk asli Komodo tidak berkembang karena tidak ada keturunan,” demikian Ishaka mengawali percakapan kami di suatu siang awal tahun ini.

Menurut dia, kampung asli Komodo terletak di wilayah Najo sekitar 15 kilo meter bagian barat Pulau Komodo. Najo sendiri, nama seorang raja atau umpu yang gagah perkasa dan terkenal sakti. Umpu Najo sangat disegani musuh-musuhnya. Nama lain dari Kampung Najo yakni Keli Manga, tempat tinggal Umpu Najo bersama para hambanya. Umpu Najo sendiri dilukiskan Ishaka sebagai manusia ‘setengah dewa’ karena sampai sekarang tidak diketahui asal usulnya dan sejak kapan ia menetap di pulau angker itu.

Penulis bersama Ishaka Mansur, sesepuh Pulau Komodo. (Foto: Kornelius Rahalaka)

Larang Miliki Keturunan

Lebih lanjut Ishaka berkisah Umpu Najo kawin dengan Nuriah, seorang wanita cantik jelita yang kemudian hari diketahui merupakan penjelmaan dari ular naga (binatang komodo) yang dikenal sebagai putri naga dari komodo. Hasil perkawinan Umpu Najo dengan Nuriah alias putri naga tersebut melahirkan seorang putra yang diberi nama Sigenong. Dia anak laki-laki tunggal. Sigenong menikah dengan Naiman, seorang putri cantik asal Compang, wilayah Kempo Flores Barat.

Namun, kedua pasangan suami istri ini tidak miliki keturunan karena dilarang Ompu Najo. Larangan itu merupakan sumpah janji antara bapak dan anak. Alasan Ompu Najo melarang anaknya memiliki keturunan agar anak mereka tidak dimangsa komodo yang tidak lain adalah ibu kandung mereka.

“Kalian boleh menikah, tetapi tidak boleh punya anak. Karena jika kamu punya anak, maka anak-anakmu akan habis dimangsa sang putri naga,”demikian nasehat Umpu Najo.

Ishaka berceritra, jauh sebelum kawasan itu ditetapkan sebagai daerah konservasi, penduduk setempat setia menjalankan berbagai upacara adat untuk mengenang putri naga komodo sebagaimana dulu dilakukan Umpu Najo. Ritual adat itu selalu dilakukan orang Komodo karena mereka percaya adanya jalinan relasi yang erat dan tak terpisahkan antara orang Komodo dengan binatang komodo.

Mitos Binatang Purba Komodo

Ceritra mistis seputar asal usul binatang Komodo dituturkan sejumlah tetua adat lainnya seperti Haji Aksa, Haji Akbar dan Hermansyah. Legenda manusia Komodo dengan binatang Komodo menjadi salah satu ceritra rakyat setempat. Para tetua adat menuturkan, manusia Komodo dengan binatang Komodo, sesungguhnya, memiliki hubungan erat dan sulit dipisahkan. Namun hubungan tersebut bersifat sosiologis bukan genealogis sebagaimana dipahami orang kebanyakan.

”Tidak benar manusia Komodo dan binatang Komodo bersaudara kembar, seolah-olah satunya dilahirkan sebagai manusia dan lainnya binatang komodo. Ceritra seperti ini tidak benar dan hanya rekayasa pihak tertentu,” ujar Hermansyah pada suatu waktu.

Mitos Komodo diceritrakan para tetua adat setempat untuk mengenang sang putri naga, Umpu Najo saat memerintahkan hamba-hambanya untuk membawa sebutir telur ke wilayah Loang Ata Wine di lokasi Loho Gong, tidak jauh dari Kampung Keli Manga. Sang Umpu Najo berpesan agar telur itu diletakkan di lokasi itu dan memerintahkan hamba-hambanya untuk jaga telur tersebut hingga menetas. Bila telur itu menetas, para hamba segera memukul gong.

Maka pergilah para hamba saraya membawa sebutir telur ke lokasi yang telah ditentukan. Saat yang dinanti-nantikan tiba. Telur itu pun menetas. Para hamba segera memukul gong. Mendengar bunyian gong, sang Umpu Najo bersama anaknya, Sigenong segera datang ke tempat itu. Pada saat itu, muncul seekor anak ular naga. Maka kata Umpu Najo kepada Sigenong, “Inilah saudarimu. Jangan kau apa-apakan dia.” Sejak saat itu, berbagai larangan disampaikan Umpu Najo. Bentuk larangan antara lain warga tidak boleh berkebun, tidak boleh membuka hutan, tidak merusak hutan dan mengambil harta karun di wilayah itu. Berbagai larangan tersebut berlaku sampai sekarang.

Akhirnya, Umpu Najo meninggal dunia dan dikuburkan di wilayah Najo. Sedangkan ular naga (binatang komodo) tetap hidup dan berkembangbiak sampai sekarang. Pada masa-masa itu penduduk Keli Manga nyaris habis dimangsa dan dikajar-kejar sang ular naga. Untuk menghindari kepunahan, penduduk sekampung kemudian melarikan diri ke Gunung Raja di Pulau Rinca.

Namun, ular naga tetap mengejar dan memangsa mereka. Penduduk Komodo akhirnya melarikan diri ke Gili Motang dan sejumlah pulau kecil lainnya yang kini masuk dalam kawasan TNK. Itulah sebabnya, sampai sekarang binatang Komodo terdapat di Pulau Rinca, Pulau Komodo dan beberapa pulau kecil lainnya.

Kisah seputar manusia Komodo dan binatang Komodo menjadi melegenda hingga kini. Demikian pula menurut cerira para tetua adat di Najo, masih ditemukan bekas-bekas perkampungan tempat tinggal Umpu Najo. Di tempat itu pula masih ditemukan sejumlah benda peninggalan bersejarah seperti makam tua yang diyakini sebagai milik Umpu Najo, pria misterius yang pernah menjadi suami putri naga komodo.

Makam itu sangat keramat, setidak-tidaknya bagi Bapak Ishaka. Karenanya, setiap tahun Bapak Ishaka selalu datang ke tempat itu untuk bertapa, memohon petunjuk dan mohon keselamatan bagi semua warga kampung.

Bapak Ishaka dan para tetua adat Komodo percaya akan ceritera kuno ini. Mereka juga percaya dan yakin sang putri naga masih (tetap) hidup sampai sekarang. Mereka tetap berpegang teguh pada ‘wasiat’ luhur Umpu Najo agar wilayah mereka yang kaya akan sumber daya alam itu tetap dilestarikan, dirawat dan dilindungi agar terkenal ke seluruh dunia. Agar selalu dihargai oleh masyarakat dunia dari generasi ke generasi. *(Kornelius Rahalaka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here