08 Juli Cintaku Mengambang

oleh -64 views
Foto: Ilustrasi (net)

Oleh AK

Tak terasa perjalanan waktu mengitari matahari menghantarku kembali ke titik awal. Satu titik adanya Aku. Aku ada karena diadakan. Ada yang mengadakan itu adalah pemilik ada itu sendiri.

Aku kembali. Seperti takdir telah memutarkannya. Putaran setahun membutuhkan waktu 365 hari. Hari ini di hari lahirku, 8 Juli. Ya, Aku ingat karena Aku mengingatkannya. Di hari lahirku ini, hanya satu yang Aku tunggu, kado darimu. Ya kado, kau tahukan Aku suka kado, tapi tidak dengan kejutan. Kado yang Aku suka memang kau berikan, besertanya. Semalam, Aku menerimanya begitu saja, sebab itu darimu, meski tanpa kata terucap.

Entah mengapa, saat kadomu kugenggam, hati ini tiba-tiba hancur. Kehancuran menghampiri seolah-olah mengiringi kejutan. Semuanya bercecer seperti hujan, membasahi setiap inci tubuhku dan menyisakan duka yang dalam.

Jika diizinkan untuk mengucapkan doa permohonan, Aku akan meminta kepada Tuhan agar Kau selalu di dekat ku. Ada bersamaku dan selalu ada untuk ku. Hari ini, hari di mana Aku menerima kado darimu, selembar baju ukuran XL.

Belum lama, sejak kita bertemu, masih lekat dalam ingatanku, Juni 2020. Awal jumpa, tetapi Aku begitu menyukaimu. Sejujurnya, Kau adalah yang pertama, yang mampu menggetarkan hati dan seluruh jiwaku. Kau juga yang pertama, yang mampu membuat Aku terpana. Kau lah yang membuat tubuh dan kakiku menjadi lemah hingga tak mampu menopang dunia. Itu semua karena Kau, permulaan yang malu-malu, dan kemudian menjadi begitu akrab. Keakraban yang tidak nisbi, yang mengajarkan Aku tentang pengorbanan, kerja keras, pantang menyerah, menghargai dan mencintai. Semuanya mengalir dalam kedalaman karena energi kuat yang kutimba darimu.

Hingga akhirnya, Kau memutuskan memberikanku kado pelajaran yang terakhir. Kado yang menghancurkan jiwa ragaku hingga berkeping-keping, tetapi juga menyadarkanku bahwa yang bersama selama bertahun-tahun tidak selalu selangkah. Bersama, tapi jiwa tetap berbeda.

Juni adamu yang membuatku selalu ada. Izinkanlah ku abadikan dirimu dengan nama ini, Sincan. Nama yang pas untuk gadis secantik dirimu. Ya, Sincantik. Nama yang begitu misterius, seperti sikapmu yang tiba-tiba berubah hari itu.

Hari ketika aku menerima kado darimu. Nama Sincan yang aku sematkan itu merupakan warisan bagi dirimu, yang harus kau sematkan juga kepada keturunanmu suatu saat nanti. Lucu juga ketika pertama kali kudengar ceritamu tentang nama itu, baru setelah seminggu kita bersama, ku tahu Kau memiliki nama lain, nama yang begitu manis menurutku, Amelia.

Aku akui perjalanan ini bukanlah perjalanan yang mudah. Tawa, canda, marah, sesal, kesal dan benci sering menghantui kita. Aku ingat. Kau selalu berkata, “semua itu adalah cara agar kita bisa saling mengerti lebih dalam”. Lebih paham satu dengan yang lainnya. Harap ku saat mendengar itu, semuanya akan berakhir indah di meja altar. Mengucap janji suci. Menjadi satu atas nama cinta dan menyata dalam nada kerendahan hati saling menerima perbedaan di antara kita berdua hingga maut menjemput.

Masih hangat katamu saat itu, “cinta kita mesti terus diuji, biar nanti bisa peroleh dasar yang baik. Biar tidak mudah rapuh hingga patah semangat ketika rintangan mulai menghadang, kemudian pergi meninggalkan yang lain, sebab hidup tidak selalu tentang menjadi kuat dan bahagia. Hidup akan selalu berteman dengan sedih, supaya kita tahu rasanya bahagia, marah agar kita mengenal ramah, dengannya kita menghargai perbedaan dalam kebersamaan”.

Sekadar Kau tahu saja, Aku mencintai begitu dalam. Meski mungkin Kau menganggap berlebihan. Atau juga Kau anggap kekhilafan yang terencana. Sejujurnya tidak. Semua yang kukatakan mengalir dari kedalaman jiwa, dari keteduhan iman yang kuat dan akhlak kebajikan.

Maaf jika mulutku tak pernah mengatakan itu, karena bagiku mencintai itu bukan tentang kata-kata indah-jenaka yang bisa membuatmu terbang tinggi, melayang hingga menembus langit ke tujuh, kemudian menjadi ratu atas para bidadari.

Aku mencintaimu dalam diam. Mencintaimu dalam caraku yang sederhana. Diam dan sederhana sebagai kebajikan mencintai dan menyayangimu sebagaimana diriku, adanya Aku. Sekali lagi maaf, karena Aku tak pernah mengumbar dan menceritakan tentang dirimu kepada orang lain. Bukan karena Aku malu, tetapi karena demikianlah diriku. Semuanya kulakukan dalam diam. Aku ingin mencintaimu dengan caraku, mencintaimu dengan kebebasanku, hingga pada akhirnya menyerahkan kebebasan itu hanya kepadamu seorang.

Kau tahu Amelia, hari ini Aku ke laut. Di sana, Aku tumpahkan semuanya sambil berharap semoga saat itu tiba. Menghempaskan semua beban dari hati dan pikirku. Hanya itu caraku untuk lari dari kenyataan sambil berusaha menerima semua yang terjadi dan mulai mencoba untuk mengatur lagi hati ini. Aku berjalan mundur sambil berusaha sekuat mungkin untuk menemukan lagi potongan diriku yang sempat tercecer karena kadomu itu. Memulai menyusunnya kembali berharap utuh seperti sedia kala. Saat aku selesai menyiapkan rangkanya, malah di saat itu juga Aku luluh lantak.

Asal Kau tahu saja Amelia, awalnya itu bekerja dengan cepat, semuanya dibawa pergi oleh laut ke dasar samudera. Aku merasa lega dan bebas. Tetapi ternyata itu hanya sejenak. Laut menitipkannya kepada angin yang kemudian menyusup dan bersarang lagi di dalam jiwa ragaku.

Laut yang kucumbui sejak pagi hingga sore tadi ternyata tak mampu membawa luka yang Kau tanamkan dalam diriku. Laut tak mampu mengasinkan dan membekukan pedih ini. Aku kehilangan diriku, juga mereka. Mereka yang selalu di dekat kita. Mereka yang selau bercanda tentang hubungan kita berdua. Mereka yang juga merestui hubungan kita berdua. Mereka yang selalu berharap agar kita segera bersua. Hanya diriku yang masih hancur dan tidak tahu kapan semuanya bisa utuh kembali.

Amelia, namanya, selarik rindu selalu melingkup. Sejengkal cinta selalu mengatup. Karenamu Amelia, adaku menjadi sungguh berada.
Karenanya, jangan tanya lagi tentang hari ulang tahunku. 08 Juliku mengambang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *