Oleh Yohanes Sehandi*

Hari ini, Sabtu (4/7/2020), dari siang sampai sore, diselenggarakan perayaan Hari Sastra Indonesia oleh Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, dengan berbagai pihak yang terkait. Perayaan Hari Sastra Indonesia kali ini, dilaksanakan secara virtual, lewat aplikasi Zoom. Diikuti sekitar 300 orang sastrawan, pengamat, kritikus dan pencinta sastra di seluruh Indonesia.

Hari Sastra Indonesia sesungguhnya jatuh pada hari Jumat kemarin, 3 Juli. Hanya perayaannya diundur pada hari ini. Hari Sastra Indonesia mengacu pada hari lahir sastrawan Indonesia, Abdul Muis (1883-1959), lahir pada 3 Juli 1883.

Di samping perayaan Hari Sastra Indonesia, hari ini juga dirayakan 54 tahun majalah sastra Horison, 85 tahun Taufiq Ismail, 2 tahun Istana Peradaban yang didirikan Balai Pustaka dan mengenang 5 tokoh pendiri majalah sastra Horison yang telah meninggal dunia, yakni Mochtar Lubis, PK Ojong, HB Jassin, Zaini dan Arief Budiman.

Acara hari ini diisi dengan beberapa sambutan, pembacaan puisi, musikalisasi puisi dan testimoni. Sejumlah sastrawan, pengamat, kritikus sastra yang memberi testimoni, antara lain Putu Wijaya, Maman S. Mahayana, Gus Mus, Salim Said, Fadli Zon, LK Ara, Ati Ismail serta sejumlah anak dan cucu dari Abdul Muis dan Taufiq Ismail.

Majalah sastra Horison adalah majalah sastra yang paling lama terbit. Terbit berkala setiap bulan dalam bentuk cetakan sejak Juli 1966 – Juli 2016 (selama 50 tahun). Setelah Juli 2016, terbit sekali dalam 4 bulan. Ada pula yang terbit secara online.

Selama 50 tahun, majalah sastra Horison menjadi barometer seseorang menjadi sastrawan dan kritikus sastra Indonesia. Horison bagaikan sungai Yordan tempat pembaptisan para sastrawan dan kritikus sastra di Indonesia. Penjaga gawang Horison antara lain, lima tokoh kaliber sastra yang sudah almarhum, yang disebutkan di atas.

Sebelum majalah sastra Horison berhenti terbit Juli 2016, tulisan esai sastra saya terakhir, masih sempat diterbitkan Horison pada edisi April 2015, dengan judul “Sastra Indonesia Warna Daerah NTT.” Begitulah, kenangan masa lalu yang tak terlupakan.

*Penulis; Pengamat Sastra Indonesia dari Universitas Flores, Ende

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here