Cerita Kamu dan Kopi

oleh -129 views
Foto: Ilustrasi (net)

Oleh Chan Setu*

Namaku Sheila, biasa orang memanggilku She. Aku anak perempuan satu-satunya di dalam keluargaku, sekaligus menjadi anak semata wayang. Ayahku seorang pensiunan guru dan ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga. Kami tinggal di sebuah desa yang cukup asri di Kota Ende Sare – Lio Pawe.

Sebagai anak desa, aku kerap menjadi lebih diam dalam pembawaan diri. Maklum saja, aku begitu asing dengan segala tetek bengek kebiasaan orang-orang di kota.

Beberapa tahun lalu, aku datang sebagai seorang gadis lugu. Dengan penampilan sederhana. Bahkan hingga saat ini. Melihat ibu kota ini, seperti hal lain dari euforia kebahagiaan atau ketakutan. Kendaraan yang hilir mudik membelah ruas-ruas jalan begitu ramai. Sampai-sampai aku sendiri takut untuk mengendarai seorang diri sepeda motorku.

Beberapa tahun lalu, aku dihantar oleh sebuah prestasi sebagai siswa dengan nilai terbaik. Itulah, mengapa aku bisa menempuh pendidikan di universitas ini. Jika berharap dari uang kedua orang tua, barangkali aku tidak akan melihat bagaimana rutinitas ibu kota ini.

Itulah, beberapa jawaban Sheila saat Ia diwawancarai, Marno, tim redaksi majalah kampus mereka.


Sheila, menjadi sosok dalam majalah tri bulan kampus mereka.

Beberapa waktu lalu, Sheila, berhasil membawa juara satu bagi fakultas dan secara khusus jurusan mereka dalam ajang lomba menulis feature dalam tajuk “Cerita dari Desa” dalam ajang bergengsi di universitas itu, Sheila diminta beberapa temannya agar bisa mendaftarkan diri, “toh mungkin, kamu bisa jadi pemenangnya, She,” ucap Fara, teman se-kosnya.

Dari dalam hati yang paling dalam, sebenarnya Sheila ingin sekali mengikutinya. Namun, sifat pembawaannya yang malu dan selalu pesimis kerap memberi ruang agar Ia tak harus mencoba atau sekadar untuk mencoba.

Teman-temannya, dari sejurusan dengannya dan beberapa teman dari jurusan lain yang kebetulan se-kos dengannya mencoba untuk terus membujuk dan akhirnya menjadi satu-satunya alasan mengapa Ia harus ikut.

Sebagaimana anak FKIP jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Sheila begitu sering menghilang di dalam rutinitas buku dan menulis. Ketika teman-temannya asyik bercerita tentang kencan dan jalan-jalan bersama kekasih mereka, atau ketika teman-temannya asyik ngelamun memikirkan tetek bengek kehidupan di kos. Atau ketika teman-temannya asyik dengan chatting-an baik di Facebook, Instagram dan WhatsApp. Sheila lebih nyaman hidup dalam imajinasi semu dari tumpukan halaman per halaman yang selalu menjadi kekasih baginya di mana dan kapan pun.

Ketika menulis feature untuk diikutsertakan dalam lomba menulis yang diadakan Bandan Eksekutif Mahasiswa universitas di mana Sheila kuliah tersebut, dalam benak Sheila, hanya terkuras satu judul dalam tajuk besarnya “Cerita dari Desa”. Ia mulai memikirkan alur, mulai mengingat beberapa sumber yang berkaitan dengan analisis ceritanya. Hingga Ia menemukan sebuah judul seperti mengembalikan dirinya kepada suasana masa kecil hingga Ia harus pergi meninggalkan rumahnya.

Akh, ini tahun ketiga bagiku, ketika aku tak lagi tahu bagaimana suasana di kampung kelahiranku, Detusoko. Sebuah desa kecil yang berjarak 33 Km dari Ibu Kota Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Dulu sewaktu aku masih kecil, Detusoko hanyalah sebuah nama dengan gema sederhana. Hidup di dalam alur ikatan leluhur yang begitu ketat. Warisan nenek moyang masih menyatu dalam seluruh kebiasaan dan rutinitas hidup mereka. Kekayaan alam, budaya, adat dan berbagai hal tumpah di dalamnya. Orang akan menyebutnya surga ketika melihat suasana yang damai dengan kehidupan masyarakat yang begitu harmonis. Beberapa orang akan merasa asing ketika hidup dalam kebiasaan adat yang terlihat seperti biasa-biasa saja.

Para gadis muda hingga tua yang selalu dibalut lawo yang menenteng bakul, berbaris-baris saling bercerita yang dulu sewaktu aku masih kecil sering aku sebut kebiasaan wurumana.

Setiap kali terdengar ada acara syukuran, perkawinan, baptis, tahbisan, misa perdana hingga kematian selalu terlihat para wanita berjalan berbaris rapi sambil menjunjung bakul dalam adat dan kebiasaan. Namanya itu, wurumana.

Seturut cerita Nenekku, itu menjadi tradisi menghantar dan antar di dalam seluruh keluarga. Hantar dan menghantar seperti menjadi balasan antara eko dan kolo. Yang dihantar terkadang adalah eko wawi dan yang dibalas ialah kolo wawi.

Menariknya, kekayaan alam yang melimpah jatuh seperti surga kecil di kampungku. Hasil panenan seperti cengkih, kemiri, cokelat, vanili dan padi tumpah ruah setiap musimnya. Hingga kopi, kini ada cerita khas ketika orang ke kampung kelahiranku yakni cerita tentang kopi.

Kopi itu biasanya hitam, kental, pahit dan manis sesuai takaran setiap penikmatnya. Namun, di kampungku kini ada perkawinan kopi silang yang aku sendiri bingung perkawinan antara kopi apa dengan apa, barangkali perkawinan antara kopi arabika dan robusta yang kiranya menghasilkan kopi hitam terasa cokelat. Sungguh, ini bukan hal yang dibuat-buat. Ingat, ini ceritaku.

Jika tidak percaya, datanglah ke kampung kelahiranku dan carilah nama kemasan kopi “Kopi Kelimutu” dari kampung Golulada.

Selain itu, dingin kadang mencuri perkawinan kopi yang telah diseduh oleh ibu. Aku selalu bercerita kepada siapa saja mengenai filosifiku terhadap ibu yang menyeduhkan kopi kepada kami, termasuk kamu.

Begini filosofiku: ibuku selalu menyukai takaran kopi dua sendok kopi dan setengah sendok gula. Kekhasannya ialah tetang filosofiku. Ibu selalu menyeduhkan kopi dalam sebuah rasa cinta yang diwadahi oleh secangkir kemesraan, di aduk dalam kasih sayang dan dicecapi dalam pelukkan. Aromanya romantisme tentang seorang anak di dekap dalam pelukkan ibu. Persis seperti saat kita berada di dalam kandungannya.

Biasanya ketika sore menjelang, senja hampir jarang dinantikan kami anak-anak di kampung. Ketika lonceng gereja hampir berkumandang setiap pukul. 18:00 Wita, biasanya kami merindukan tungku ibu. Dan seperti biasa ketika menjelang waktu itu, di luar kabut mulai dapat mendekap dan menyelimuti anak-anak bumi. Tungku ibu menjadi pilihan satu-satunya bagi setiap keluarga untuk bercerita di waktu seperti itu. Aku rindu, suasana itu.

Sebagai kampung yang memiliki tradisi budaya yang masih cukup kental. Detusoko, juga memiliki kebiasaan yang disebut pire. Pire ini biasanya berlangsung paling lama satu minggu atau terkadang tiga hari saja. Seperti biasa ketika pire, setiap keluarga dilarang keras oleh adat agar jangan menyapu di luar rumah, jangan bekerja, jangan membakar, sampai jangan menjemur pakaian di luar rumah, pokoknya seluruh aktivitas di luar rumah digaris bawahi agar jangan dilanggar bahkan bunyi musik harus dikurangi volumenya. Pire ini memiliki denda bagi yang mencoba untuk melanggar dan biasa dendanya berupa satu ekor babi yang besar sesuai ukuran yang diminta mosalaki.

Ya, hidup dalam budaya dan kebiasaan adat yang kental kerap membentuk kepribadian kita sebagai seseorang yang selalu menghargai tradisi dan budaya leluhur.

“Aku bangga menceritakan kampung kelahiranku. Semoga kamu juga bangga mendengarnya.” Kenang Sheila di sela-sela wawancaranya.


Mengenang rutinitas kampung kelahiran, terkadang mengundang jatuhnya air mata. Sesekali basah menetes di antara kalimat-kalimat polos yang ditulis Sheila.

“She, kamu pulang libur kali ini?” tanya Shinta, adik parokinya yang kebetulan tinggal se-kos dengannya. “Kayaknya Shin, soalnya sudah tahun ketiga bagiku hanya mendengarkan suara ayah dan ibu via telepon seluler lalu terdengar jerit ayam berkokok yang disusul suara ibu kerrrrrr, kerrrrrr, kerrrrrr, suara memanggil ayam agar datang menyantap jagung yang di luruh ibu atau ayah,” ucap She, sambil ngelamun.

“Kalau kamu Shin, kamu juga pulang libur semester ini kan?” tanya Sheila.

“Sepertinya tidak She, soalnya bapa dan mama bilang mending saya libur di sini saja. Apalagi sekarang sedang corona. Kalau tidak salah saya dengar, di kampung, bagi kita mahasiswa/i yang datang berlibur dari zona merah harus di karantina di asrama pastoran kita. Jadinya, ayah dan ibu tidak izin saya pulang.” Jawab Shinta.

“Akh, kalau memang itu benar. Baiklah Shin, aku juga jadi ragu mau pulang sekarang. Apalagi kita juga tidak tahu bagaimana kita nanti dalam perjalanan, jangan-jangan terjangkit virus covid-19 lagi saat di dalam pesawat atau kapal.


Detusoko, semakin dikenang. Sejuta asa yang terus menyerbu mengamini untuk pulang. Setiap tawa yang pecah di dalam telepon seluler ketika ayah dan ibunya berebutan ingin berbicara dengan anak gadis satu-satunya. Sheila tertegun terus membisik dalam diam “Tuhan, jaga mereka selalu. Amin”.

Tahun keempat bagi Sheila. Tahun yang penuh rindu dan air mata kenangan. “Ayah, Ibu, kau rindu beranda rumah kita. Rindu yang tumpah ketika ibu mengunyah sirih pinang sambil tertawa, rindu ketika ayah bercerita dengan segala kisah nostalgia antara ibu dan ayah ketika pacaran, rindu pada kopi seduhan ibu dengan segala aroma yang begitu khas penuh kejutan dan kenikmatan. Rindu pada situasi alam yang begitu bebas, asri dan penuh hasrat untuk terus berpelukan mesra. Akh, Detusoko namamu kekal di dalam doa.”

Cerita tentang Detusoko telah tumpah dan beredar di seluruh pojok kampus. Sheila dan gema namanya mulai saling bertaut. Ada kecurigaan pun ada keraguan dari siapa saja yang telah membaca seluruh tulisan feature Sheila yang panjangnya sekitar tiga jalan kertas ukuran HVS A4 itu.

“Sheila, kok kopi di kampung kamu rasanya cokelat. Jangan-jangan kamu bohongi kami dengan batasi imajinasimu itu? Ucap Rian, kekasih Ria sahabat kosnya.

Sudah kubilang Rian, “jika tidak percaya, silahkan mampir dan cecaplah seluruh yang ada di kampung kelahiranku. Bukankah di dalam batasi feature-ku, sudah kutulis bahwa ini cerita dan di dalamnya tidak ada satu pun imajinasi yang kuusahakan untuk membumbuinya agar terlihat wisma atau apa saja seturut pemahaman kalian, Rian.” Jawab Sheila, sambil tersenyum.

Sheila terkadang begitu manis ketika sedang tersenyum dan satu-satunya laki-laki yang mengaguminya adalah kamu. Ketika banyak mata memandangnya sambil bertanya-tanya mengapa harus Dia yang juara, tidakkah ceritanya hanya fiktif belaka, yang diusahakan oleh imajinasinya untuk mempromosikan kampung kecil nun jauh dan udik di timur sana?

Namun hanya kamu. Kamu yang dengan sabar dan diam berusaha mengikutinya. Aroma kopinya kamu curi dari sebuah kisah yang telah kamu baca berulang kali, barang kali sekarang kamu sedang membacanya dan berusaha memahami Sheila, dalam seluruh deskriptif yang dibuat dalam narasinya ini.

Kamu menjadi satu-satunya lelaki yang mau setia menanti, mengikuti dan menjadi laki-laki satu-satunya tak ingin mengintai hanya membuntuti bukan untuk melukai tetapi untuk menjaga dan memahaminya.

Kamu ada di dalam cerita feature-nya. Dan teruntuk kamu, Sheila selalu menyebut dalam doa agar kamu terus menemaninya dan bisa meyakinkan Sheila bahwa Ia telah menulis dan memberikan yang terbaik tanpa harus jadi juara.

Kamu kekal dan abadi seperti kekal dan abadi dalam kenangannya ketika Ia memberi judul tulisan feature-nya “cerita kamu dan kopi. “

Kamu mau tahu kamu adalah Dia, mereka dan aku yang menjadi pembaca di dalamnya. Cerita kamu dan kopi, kekal tinggal, tetap dan abadi di dalam seluruh doaku.

Terima kasih, kampung kelahiranku, Detusoko dan itu kamu.

Nita Pleat, 2020

*Wurumana adalah sebuah tradisi menghantar beras, sarung dan apa saja. Terkadang bisa gula, kopi, kue dan sejenisnya.
*Lawo merupakan kain tenunan Ende-Lio yang digunakan oleh kaum perempuan saat acara atau perayaan apapun.
*Pire adalah pantangan atau larangan seperti puasa dalam adat.
*Mosalaki merupakan tuan tanah atau tua adat untuk satu wilayah rumah ada biasanya mencakupi satu kampung besar
*Eko Wawi secara harafiah diartikan sebagai Ekor Babi
*Kolo Wawi secara harafiah diartikan sebagai kepala babi.
*Bakul adalah sebuah anyaman lontar yang berbentuk segi empat. Ada yang berukuran kecil, sedang maupun besar dengan multifungsi yang dimilikinya.

*Penulis; Mahasiswa STFK Ledalero. Saat ini menetap di Wisma Arnoldus Nita Pleat, Seminari Tinggi St. Paulus Leladalero Maumere. Penulis buku antologi cerpen dan puisi “Embun pada Sepasang Mata Lebam”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *