Oleh Nardianus Virgo*

Sebel hatiku! Penat pikiranku, jika aku kembali pada pelajaran tadi. Aneh ya, mengapa guru-guruku banyak menjelaskan hal yang salah kepadaku? Apakah mereka benci denganku? Eh bukan! Memangnya, aku salah apa? Bukan! Bukan! Itu tidak benar. Aku mencoba untuk mencari jawabannya, bila aku salah aku akan tanyakan pada kakekku di rumah.

Tok… tok… tok… (bunyi ketokan pintu). Kek… selamat siang. Aduh kakeknya lagi kemana ya? Aku mencoba lagi mengetuk pintunya. Tok… tok… tok… (bunyi ketokan pintu). Kakek Rapos… Pondik baru pulang sekolah. Tak lama kemudian, kakek membuka pintu. Eh kakek, Pondik telah mengetuk pintunya dua kali. Kakek kemana ya? Aduh… maaf ya cucuku, kakek lagi siapin makanan untukmu.

Huss! Aduh… mengapa aku kembali memikirkan penjelasan tadi ya? Oh ya, tadi aku telah sepakati kalau aku mencari jawabannya dengan kakek (sambil memukul dahinya). Pondik… ayolah kita makan. Ya kakek. Kakek menyuguhkan nasi merah dan sayur labu. Duh enak ya. Kata Pondik.
Pondik, kamu sepertinya kurang semangat ya? Ada apa denganmu? Katakan itu kepada kakek, mungkin kakek bisa mencari jalan keluarnya. Wajah Pondik sumringah. Oh ya kakek. Aku sudah pikirkan, jika masalahku akan kusampaikan pada kakek. Aku bingung kakek. Pondik tidak ingin melanjutkan sekolah. Biarkan aku putus di tengah jalan

Kakek terkejut. Apa? Kamu tidak ingin melanjutkan sekolah? Ingat cucuku yang manis. Tidak baik kalau kita sekolah hanya sampai pada persimpangan jalan. Kamu adalah harapan nenek dan keluarga untuk mengenyam pendidikan. Kamu masih SD, belum apa-apa cita-citamu Pondik. Kamu lanjutkan sekolahnya ya? Kata kakek dengan nada sedih.

Ceritakan pada kakek masalahmu Pondik. Pondik tunduk dan termenung, mengingat kembali penjelasan seorang guru. Ok. Aku katakan padamu kakek. Kakek senang dan siap mendengar penjelasan cucunya.

Begini kakek. Tiga hari yang lalu, guru Matematika aku, Pak Kear Walas menjelaskan tentang penambahan, pengurangan dan perkalian. Kakek menganggukkan kepala, karena bangga dengan cucunya. Kakek, mengertikan dengan materi-materi ini? Tanya Pondik. Ya, Pondik. Dulu kakek semasa sekolah dasar sama seperti kamu mendapatkan materi seperti ini. Ini gampang kok, sahut kakek.

Jawab si Pondik. Kalau ini gampang, bolehkah aku usulkan kepada kepala sekolah, agar kakek yang mengajarkan kami Matematika. Gantikan Pak Kear Walas. Jawab kakek, Pondik, tidak boleh mengatakan seperti itu. Guru adalah lilin untuk kamu. Ah! Apaan kata kakek ini? Kok guru sama dengan lilin? Kakek tersenyum. Luar biasa cucuku. Kamu adalah kebanggaan kakek. Tunggu… tunggu kakek! Mengapa kakek katakan guru adalah lilin untuk kamu? Bingung dan bingung! Kata Pondik. Begini cucuku, kamu pernah melihat lilin yang menyala? Dimanakah lilin biasa dipasang? Untuk apa lilin dipasang?

Pondik mulai tersenyum. Oh ya kakek, aku pernah melihat lilin. Di rumah, di kuburan, di gereja, di gua Maria. Lilin dipasang untuk menyinari yang gelap. Jelas Pondik. Ya benar kamu Pondik. Itulah jawabannya.

Lalu, bagaimana dengan materi Matematika kami tadi? Tanya Pondik. Aku jelaskan ya kakek. Hari pertama tentang materi penambahan. Pak Kear Walas menjelaskan, anak-anak 3+1=4 dan 1+3=4. Hari kedua, pak guru menjelaskan materi tentang pengurangan. Katanya, anak-anak 5-1=4. Dan pada hari ketiga, pak guru menjelaskan materi tentang perkalian. Katanya, anak-anak 2×2=4. Aku bingung penjelasannya. Guruku bodoh! Guruku tidak pandai! Guruku salah!

Hai cucuku, kata kakek sambil mengelus-eluskan rambutnya. Bersabarlah. Tidak ada yang salah kata pak gurumu. Semua itu benar. Gurumu pintar, gurumu cerdik, gurumu pandai dengan Matematika. Ah! Aku tidak percaya sama sekali. Tidak! Tidak! Kakek pun bingung dengan sifat agresif cucunya. Kakek siap dan setia untuk membujuk cucunya agar kembali pada masalah tadi. Sebelum melanjutkan membahas masalah yang dialami cucunya, kakek pun menyiapkan beberapa buah pisang masak.

Ayo… kita role play dulu. Mendengar itu, Pondik tersentak bangun dan mendekati kakeknya. Apa tadi kakek? Kakek mencubit pipi si Pondik, sambil mengatakan kamu hebat, kamu pintar, kamu pandai cucuku. Kakek tadi katakan ayo kita role play. Bahasa apa itu kakek? Kakek senyum saja. Itu Bahasa Inggris Pondik. Tersentak Pondik bersorak, hore… hore… hore…kakekku bisa berbahasa Inggris. Kakek pintar ya? Tanya si Pondik. Lalu Pondik kembali bertanya. Kakek, pisang ini untuk apa dan untuk siapa? Jawab kakek, pisang ini untuk bermain peran atau praktek menghitung Matematika. Suka kan? Tanya kakek. Ya aku suka, karena ada pisangnya kakek. Dan nanti pisangnya untukmu.

Ok cucuku. Kakek mencoba ya. Ini ada 3 buah pisang masak. Kalau kakek mengambil lagi 1 buah pisang, dan ditambahkan dengan 3 buah pisang ini, maka jumlahnya berapa? Jawab si Pondik, jumlahnya 4 buah. Benar, kata kakek. Berikutnya, kalau 5 buah pisang, kita ambil satunya, maka sisanya berapa? Sisanya 4, kata si Pondik. Kita lanjut ya? Ok kakek. Kalau dua buah pisang masak, lalu dikalikan dua lagi, maka hasilnya berapa? Sabar kakek, coba jelaskan kepadaku, bagaimana cara membuat perkalian. Oh ya baik cucuku. 2 x 2 maksudnya, 2 buah pisang ditambah lagi 2 buah pisang maka sama dengan? Oh ya, sama dengan 4.

Pondik pelan-pelan menganggukkan kepalanya. Dengan suara yang lembut, dia katakan benar juga guruku. Gimana Pondik, kamu pahamkan? Tanya kakek. Ya kakek, memang kakek sungguh hebat. Penjelasan kakek tentang materi Matematika kami, sama seperti yang Pak Kear Walas jelaskan kepada kami. Kakek, berarti Pak Kear Walas pintar ya? Kakek senyum. Sambil menepuk dadanya, Ia berkata, Pondik engkau kelak menjadi anak yang pintar. Kamu tidak ingin menerima begitu saja. Keberanianmu adalah kebenaranmu.

Tidak lama kemudian, munculah mekas Ripos. Kakek Rapos sedang menikmati secangkir kopi pahit ala Manus dengan sebatang rokok MR, yang orang sering mengartikan dengan Mose Ro’eng dalam bahasa Manggarai atau Molas Randang.

Mekas Ripos menyapa, kraeng Rapos, sepertinya ada yang sedang dibicarakan. Boleh saya tahu? Tahu mekas Ripos. Ya memang benar. Cucuku menanyakan aku soal materi matematika tentang penamban, pengurangan dan perkalian. Si Pondik bingung, mengapa 3+1=4, 5-1=4 dan 2×2=4.

Mekas Ripos menganggukan kepalanya serta menggeleng-gelengkan kepala. Bukan karena kebodohan si Pondik, namun lebih pada ketelitian cucunya. Luar biasa mekas Rapos, cucumu. Ya itulah dia. Tidak puas apa yang telah dijelaskan. Lalu bagaimana dengan kamu mekas Ripos, kalau seandainya anakmu atau cucumu mengalami hal seperti ini? Apa caramu?

Memang benar mekas Rapos. Kalau kita menjelaskan dengan logika berpikir matematis, mungkin anak belum mengerti. Kalau tidak dijelaskan, si anak tidak mau sekolah dan menuduh gurunya berbohong. Caranya adalah dengan melibatkan mereka mengambil beberapa benda lalu kita praktikkan sesuai materi tadi. Ide, itu telah saya lakukan tadi, sehingga si Pondik bisa menerima dan mengerti, kata mekas Rapos.

Eh, mekas Rapos. Kemarin saya bersama Pak Dosen Titong di rumahnya. Dia menceritakan pengalamannya, ketika ada mahasiswa yang praktik di sekolah dasar. Mahasiswa merasa aneh dan bingung dengan prilaku murid-muridnya. Apa yang bingung dan aneh? Jawab mekas Rapos. Begini, ceritanya. Mahasiswa itu membuat percobaan. Dia bertanya kepada anak-anak.

Mahasiswa: Anak-anak perhatikan! Apa ini?
Anak-anak: “Buku, Bu”
Mahasiswa: “Baik, coba perhatikan ini!”

Mahasiswa meletakkan buku tersebut di atas meja, kemudian perlahan mendorongnya ke arah tepi hingga buku tersebut jatuh ke lantai.

Mahasiswa: “Anak-anak, apa yang terjadi?’
Anak-anak: “Buku jatuh, Bu.” Jawab anak-anak dengan penuh keyakinan akan kebenaran jawaban mereka.
Mahasiswa: “Mengapa jatuh?” Tanya mahasiswa lebih lanjut.
Anak-anak: “Karena didorong Bu guru.” Jawab anak-anak serempak.

Mendengar itu, mahasiswa tadi tidak puas dengan jawaban anak-anak. Ia menunjukan wajah yang tidak bersahabat. Melihat hal itu, Pak dosen Titong, setelah selesai mengajar, Ia mendekati mahasiswanya dan bertanya. Mengapa wajah kamu tidak gembira di saat anak-anak memberikan jawaban? Dan jawaban apa yang kamu harapkan dari anak-anak tadi? Mahasiswa itu menjawab dengan rasa gugup. “Buku jatuh karena gravitasi, bukan karena saya dorong.” Mendengar itu Pak Titong memberikan masukan agar tetap sabar dan pandai membaca karakter anak-anak.

Beberapa hari kemudian, mahasiswa kembali memasuki kelas dan menuliskan pertanyaan di papan tulis.

Baik anak-anak, selamat pagi semua! “Selamat pagi, Bu…” Jawab anak-anak serempak. Hari ini Ibu menuliskan beberapa pertanyaan, dan kamu silakan menulis jawaban kamu di buku tugas.

Pertama, mengapa matahari tidak kelihatan di malam hari? Anak-anak menuliskan jawabannya, “karena Tuhan menyimpannya untuk besok.”

Kedua, mengapa mobil bisa berjalan? Mereka manjawab, “karena mobilnya hidup.”

Ketiga, mengapa air mengalirnya ke laut? Jawab mereka, “karena gunung mendorongnya ke laut.”

Dari beberapa cerita tadi, menunjukan bahwa pentingnya seorang guru menguasai strategi pembelajaran bagi anak-anak sekolah dasar maupun TK. Hal lain juga bahwa guru harus memahami karakteristik anak-anak, serta guru harus menguasai konsep-konsep bidang keilmuan, seperti matematika dan sains agar anak-anak mampu menerima apa yang telah diajarkan dengan pengertian dan pemahaman yang baik. Tabe!

*Penulis; Putra Manggarai Timur tinggal di Sampit, Kalimantan Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here