Oleh Riko Raden

Hari ini usiamu bertambah satu tahun. Inilah waktunya lilin menyala membias di wajah manismu. Melangkah di usia yang baru, merupakan suatu gentar bagimu saat sebuah ritual dirayakan dengan lilin-lilin yang bercerita tentang kebahagianmu. Himpunan doa kusatukan untuk kebahagiaanmu. Semoga semua kebaikan serta keringanan menyertaimu di usia baru ini. Engkau bukan anak kecil lagi, pun bukan anak remaja. Engkau sudah dewasa dan perilakumu harus dewasa juga.

Harapku adalah untukmu cintaku. Dan cintamu adalah bara bagi harapanmu. Kemudian rindu tidak akan membelenggu dalam jarak yang begitu jauh. Di sini aku selalu memanggil namamu, diiringi lagu berteman bayangmu. Getaran hatiku kian membekas, karena namamu kian mendekat, sebab engkaulah tempat cintaku untuk berlabuh.

Di hari ulang tahunmu, biarkan aku menulis coretan kisah tentang semesta yang mempertemukan kita kala itu. Aku menulis narasi ringan ini, sambil mengingat kembali saat pertama kali aku berjumpa denganmu.

Maafkan aku kalau kisah ini membuatmu kecewa. Aku yakin engkau begitu marah apabila isi hati ini kucurahkan semuanya dalam kisah ini. Walau banyak orang belum tahu bahwa semesta sebenarnya sudah menyatukan kita sejak awal, tapi karena waktu belum berpihak kepada kita. Aku yakin waktu yang selalu menghalangi kita untuk berjumpa kembali merajut kisah seperti awal mula. Waktu membuat kita selalu berada jauh sehingga cinta tidak pernah dirajut bersama-sama.

Tapi soal hati, tak pernah lepas jauh. Raga kita memang jauh, tapi hati selalu dekat. Ah, padahal ini rahasia di antara kita saja. Tidak apa-apa, aku ingin mengatakan semuanya dalam kisah sederhana ini.


Aku mengenal dirinya pada masa putih abu-abu. Aku sangat kagum saat pertama kali melihatnya di depan ruangan kelas. Ia begitu cantik dan sopan. Di mataku sangat beda dengan teman-temannya. Ia tidak pandai bercerita tentang masa depan, juga tidak mahir berpacaran. Ia benar-benar sopan dan masih fokus dengan masa depan hidupnya. Sungguh, Ia begitu baik. Aku juga sangat segan apabila ingin mendekatinya.

Aku ragu apabila Ia menertawakan kedatanganku tanpa diundang. Aku selalu pendam apabila melihat kecantikannya. Sungguh, Ia begitu sempurna di mata hatiku. Mungkin satu bulan aku pendamkan rasa cinta itu padanya. Aku takut menceritakan kepada teman-teman. Takut apabila mereka menertawakan kalau aku jatuh cinta pada seseorang yang tidak sepadan dengan paras wajahku. Ia begitu cantik. Aku tidak sama seperti teman laki-laki lainnya. Mereka sungguh rupawan, pintar dan punya pacar yang cantik pula. Sedangkan aku hanya biasa-biasa saja dan tak punya pacar. Bukan karena aku malu untuk mengenal seorang perempuan, tapi aku sadar diri bahwa wajahku sangat jelek di antara mereka. Aku selalu diam seribu bahasa apabila teman-temanku bertanya perihal pacarku. Sungguh aku sangat malu.

Ketika dua bulan kulalui begitu saja dan berusaha untuk melupakan senyumnya, ternyata aku tidak bisa begitu saja melupakannya. Aku tidak bisa membohongi perasaan kalau aku benar-benar jatuh hati pada senyumnya. Aku telah tergoda oleh senyum manisnya. Setiap kali aku melihat senyumnya, aku bisa kehilangan penglihatan untuk benda-benda di depanku. Ingin selalu menatap senyum manisnya hingga waktu menjelma rindu. Sungguh aku sangat bahagia apabila melihat senyumnya. Cukup lama aku pendam rasa cinta ini padanya waktu itu. Aku ingin mengungkapkan secara langsung rasa cintaku padanya, tapi aku malu dan takut sok kenal. Ah, sungguh malu ingin mengenal wanita secantik dirinya.

Pada suatu hari di lorong ruangan kelas, aku berani mengungkapkan rasa itu melalui seorang teman dan kuanggap Dia sebagai jembatan yang baik. Waktu itu aku percaya diri melontarkan perasaan kepadanya yang kuanggap Dia bisa mengerti dengan perasaanku. Ia tidak menertawaiku. Dalam hati tumbuh seribu tanda tanya dan takut cintaku ditolak. Perjalanan hari itu aku lewati begitu saja tanpa menunggu hasil jawaban dari seorang teman tadi. Aku pulang sekolah dan langsung ke rumah. Keesokan harinya, seperti biasa aku kembali berdiri di depan ruangan kelas bersama teman-teman. Kami begitu asyik menceritakan pertandingan bola kaki semalam antara Real Madrid dan Barcelona. Dari setiap teman, selalu mempertahankan kebenaran masing-masing dan menganggap tim bola yang mereka kagumi selalu menang walaupun kalah. Mereka tidak ingin klub bola yang mereka kagumi menderita kekalahan. Lucunya, bahwa teman-teman yang suka cerita tentang klub bola, tidak bisa bermain bola kaki. Tapi soal buat narasi tentang klub bola sungguh menarik untuk didengar. Bersama mereka ini pun, aku bisa melatih diri untuk setia mendengar orang lain.

Ketika kami sedang asyik bercerita, tiba-tiba seorang teman memanggilku agar masuk ke dalam ruangan kelas. Aku pun masuk ke dalam dan seorang teman menceritakan bahwa perempuan yang kudambakan ternyata terima dan bisa meminang hatinya. Sungguh aku sangat bahagia. Aku memeluk teman ini dan berusaha untuk merahasiakannya. Mulai saat itu aku selalu melihat dirinya tersenyum malu-malu apabila berhadapan denganku.

Setiap hari aku sengaja berdiri di depan ruangan kelas sambil melihat dirinya. Di sini aku mengatakan bahwa Dia sebenarnya kakak kelas dan aku adik kelas. Akan tetapi soal cinta tidak memandang status. Siapa saja yang berani untuk meminang hati seorang wanita, maka hatinya bisa damai. Aku berani mengungkapkan perasaan padanya karena hatiku yakin bahwa Dia yang terbaik dalam hidupku. Aku tidak ingin mencintai siapa-siapa selain dirinya. Hatiku bisa tenang apabila melihat senyumnya.

Hatiku sungguh kecewa saat kami berpisah karena cita-cita. Kecewa dan masih terbayang di benakku. Awan pun meneteskan air matanya merundung asa duka di kalbu dan mengulang serpihan pilu kala itu. Aku tertunduk di hadapan waktu, tertunduk dalam nirwana cinta dan menelan sakit hati yang kutelan. Kami berpisah karena cita-cita dan aku bisa luka karena tidak bisa melihat senyum yang indah itu lagi. Dia mengatakan bahwa dirinya akan melanjutkan studi di kota Malang. Aku tidak bisa membantah keputusannya. Aku juga takut apabila cita-citanya tidak tercapai hanya karena aku memaksanya agar tidak boleh lanjut di kota pelajar itu. Aku rela dia pergi ke sana dan belajar untuk mencintai situasi dan orang-orang yang Dia jumpai. Aku ikhlas dengan perpisahan ini. Ada pertemuan tentu ada perpisahan. Yang kita ingat hanyalah kenangan. Dan kenangan itu selalu dibungkus dalam genggaman waktu. Sebuah takdir mempertemukan kita kala itu.

Dari sekian kata yang terucap, ada sebuah kata yang tak pernah terlontar dari bibir mungil ini. Sebuah kata yang sederhana, tetapi memiliki makna tersendiri, sebuah kata yang sepele, tetapi memiliki harapan panjang. Bahwa aku selalu rindu pada senyumnya. Itulah kata yang selalu kukenang saat ini. Sebelum berpisah kala itu, kami sempat bertukar foto. Siapa tahu kalau rindu masih ada, ingat saja pada selembar foto itu. Kalau mau melihat foto jangan lupa memberi senyum dan mencoba mengingat kembali kenangan-kenangan yang telah kita rajuti bersama.

Kini kurang lebih lima tahun kita telah berpisah. Selama lima tahun itu kita tidak pernah bertemu. Kita pernah buat janji agar secepatnya bertemu. Tapi janji hanyalah janji. Waktu tidak pernah berpihak kepada kita sehingga sampai saat ini aku masih rindu dengan senyummu. Aku berharap apabila kita bertemu nanti, semoga senyummu tidak akan pudar seperti kala itu. Aku ingin engkau seperti yang kukenal dulu.

*Cerpen ini kupersembahkan untuk Enu Jen Ningsih yang merayakan hari ulang tahun kelahiran hari ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here