Oleh Riko Raden*

Bapak Tus, seorang lelaki tua yang punya karisma tersendiri untuk menasehati orang-orang di kampungnya. Orang-orang di kampung sering memanggilnya Bapak yang baik. Ia sangat bijaksana dalam mengatur hidup dan keluarganya. Semua orang di kampungnya pada kagum dengan cara hidupnya.

Dia dan Istrinya tinggal di bawah rumah sederhana. Beratap alang-alang. Saban hari, Dia dan Istrinya saling membagi kasih dan menaruh rasa cinta di rumah ini. Mereka sangat bahagia. Mereka tidak membandingkan dengan kehidupan keluarga yang lain. Walau rumah mereka begitu sederhana ketimbang rumah tetangga, tapi mereka tidak pernah bertengkar. Hidup rukun dan damai. Bapak Tus dengan pendidikannya yang tinggi mengajarkan kepada Istrinya perihal hidup yang baik dan damai. Bukan hanya kepada Istrinya, tapi juga semua masyarakat yang ada di kampungnya.

Orang-orang di kampung sangat mengenal Bapak Tus sebagai pribadi yang mempunyai jiwa kepemimpinan. Mungkin karena latar belakang pendidikannya sehingga orang-orang di kampung begitu senang apabila berdiskusi dengannya. Segala masalah, entah masalah dalam keluarga atau masyarakat, Bapak Tus selalu menjadi hakim untuk menyelesaikan semua masalah itu. Warga kampung menyarankan kepada Bapak Tus agar Ia terjun ke dunia politik. Namun baginya, sudah cukup untuk menjadi orang yang baik di kampungnya sendiri.

Dunia politik, baginya sangat tidak etis. Dia mengatakan bahwa banyak orang tidak tahu cara berpolitik yang baik. Di sana antara hidup rakus dan sombong tidak bisa dibedakan. Apalagi politik zaman sekarang tidak lihat lagi cara beretika dalam politik itu sendiri.

Kalau Ia memegang uang banyak, berarti Dia raja dalam kelompok tersebut. Masyarakat terus dibohongi. Makanya Dia lebih baik memilih hidup rukun di kampungnya daripada hidup berfoya-foya di atas penderitaan masyakat. Tapi semua niatnya ini tidak pernah dibagikan kepada siapa-siapa perihal dirinya tidak terjun dalam dunia politik. Kepada Istrinya sendiri pun tidak pernah Ia ceritakan. Ia sendiri saja yang tahu tentang niatnya itu.

Rupanya Dia sangat menekankan politik yang baik itu seperti apa. Dia ingin politik itu seperti zaman Aristoteles. Bukan kepentingan kelompok atau pribadi yang ditekankan tapi kepentingan umum. Dan orang yang terlibat dalam dunia politik itu harus mempunyai rationalitas yang murni supaya Ia tidak terbelenggu dengan harta duniawi. Entahlah hanya Dia yang tahu politik yang baik itu. Apabila Dia sendiri mengajarkan kepada orang-orang di kampung tentang politik yang baik ala Aristoteles, tapi kalau orang-orang kampung belum tahu siapa itu Aristoteles. Tidak ada gunanya sama sekali.

Mereka tidak mempunyai pendidikan tinggi seperti Bapak Tus. Mereka hanya tahu bagiamana cara berkebun yang baik dan merawat hidup rukun dalam sebuah keluarga. Selebihnya mereka tidak tahu. Akhirnya Dia menyimpan niat ini dalam hatinya.

Bapak Tus seorang pribadi yang tidak pernah dibenci ataupun disakiti oleh orang lain. Orang-orang di kampung sangat kagum dengan pribadinya. Cara berpikirnya yang bijak membuat orang datang menimba ilmu darinya. Ia seperti hujan yang dirindukan oleh para petani pada musim kering. Membasahi tanah dan menumbuhkan akar-akar pohon.

Saban hari Ia tidak pernah absen membaca buku. Ia mencintai Istrinya seperti Ia mengartikan kata demi kata pada buku yang dibacanya. Dia dan Istrinya tidak pernah bertengkar. Mereka selalu hidup rukun dan damai. Cara hidup kelurga mereka menjadi panutan bagi keluarga yang lain di kampung ini.

Pada suatau hari,Bapak Tus sedang duduk santai di depan rumah sambil membaca buku. Ia terkejut dengan kedatangan seorang pemuda di depannya.

“Selamat siang Bapak.” Sapa pemuda itu.
“Selamat siang juga anak muda.” Jawab Bapak Tus. Mari silahkan duduk. Ia memberikan kursi kepada pemuda itu untuk duduk.
“Ada perlu apa pagi-pagi begini?” Tanya Bapak Tus.
“Baik terima kasih Bapak. Aku mendengar dari tua-tua adat di kampung ini bahwa kehidupan keluarga bapak sangat harmonis sekali. Mereka telah menyuruhku untuk datang ke sini. Mungkin ada resepnya supaya keluargaku juga bisa hidup rukun seperti Bapak.” Kata pemuda itu.

“Aku juga tidak tahu mengapa tua-tua adat di kampung kita selalu mempercayaiku. Padahal mereka (tua-tua adat) sebenarnya tahu dan bijak untuk mengurusi segala urusan kehidupan keluarga yang masih muda.” Kata bapak Tus sambil meletakan bukunya di atas meja. Tidak lama kemudian Istrinya membawa dua cangkir berisi kopi untuk mereka berdua. Kemudia Istrinya kembali ke dapur.

“Aku selalu memperhatikan kehidupan keluarga bapak juga. Entah di dalam keluarga Bapak sendiri ataupun relasi dengan orang-orang di kampung ini selalu ramah dan baik.” Kata pemuda ini lagi.

“Sebelum kita lanjutkan diskusi ini. Silahkan minum kopi buatan Istriku. Aku yakin Istriku pasti membuatnya dengan baik. Ayo, silahkan minum.”
“Terima kasih Bapak. Kopinya sangat enak sekali.” Jawab pemuda ini ketika Ia telah menegukkan kopi itu.

“Ketika engkau mengatakan bahwa rasa kopi itu sangat enak sekali itu karena seorang Istri tahu bahwa suaminya tidak pernah menyakiti hatinya. Coba kalau engkau setiap hari bertengkar denga Istrimu, aku yakin rasa kopi yang engkau minum buatan Istrimu pasti pahit dan tidak bisa menelan dengan penuh cinta. Artinya bahwa berbuat baiklah dengan Istrimu. Cintailah Istrimu seperti engkau mencintai dirimu sendiri. Aku yakin apabila kita memperlakukan Istri kita dengan baik, Dia pun memberikan yang terbaik dan tulus mencintai kita. Prinsip inilah yang kupakai dalam kehidupan keluargaku.” Kata bapak Tus.

Dia yakin pemuda yang ada di depannya malu karena selama ini Ia dan Istrinya tidak pernah hidup rukun dan damai. Hal ini Ia mendengar cerita dari tua-tua adat di kampung ini. Beruntunglah pada kesempatan ini Dia berguru pada Bapak Tus.

“Terima kasih Bapak. Aku sadar bahwa selama ini aku sangat egois. Suka memukul Istri. Aku akan berusaha untuk menuruti apa yang telah Bapak katakan tadi. Sekali lagi terima kasih banyak.” Katanya pelan. Kopi yang ada di dalam gelasnya pun pelan-pelan habis.

*Penulis; Asal Kampung Ndiwar, sekarang tinggal di unit St. Rafael Ledalero. Suka minum kopi pahit Manggarai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here