Oleh Usman D. Ganggang*

Menulis pada dasarnya gampang. Tetapi karena orang selalu berpikir berat, akhirnya kalau mau menulis puisi, selalu berjam-jam memikirkannya. Pertanyaan mengganjal adalah, “Mengapa begitu?” Pasalnya, kita tidak memulainya, karena resep yang paling mudah adalah: MULAI! Ini disadari, bagaimana kita menilai baik atau tidak, rapi atau tidak rapi, dan atau indah serta tidak indahnya sebuah tulisan terkait puisi, kalau belum ditulis dalam bentuk wacana?

Sejatinya, menulis puisi, bisa diibaratkan dengan pekerjaan tukang masak. Seorang tukang masak harus pandai meracik menunya yang sudah tersedia di dapur. Tinggal kita memilih masakan mana yang perlu kita sajikan, baik untuk diri maupun untuk tamu yang sedang bertamu di rumah kita. Paling kurang, kita membuat tamu kita senang dan bangga terhadap hidangan kita. Iya, apakah masakan yang kita hidangkan itu, masakan ala Bima, masakan Labuan Bajo, masakan Ruteng, masakan Jakarta, masakan Padang, masakan Sidoarjo, masakan Lampung, atau masakan Tangerang dan masakan Papua, semua menunya sudah tersedia, sesuai salera kita.

Bertolak dari analogi di atas, maka kalau kita mau menulis sebuah tulisan sastra, khususnya puisi, maka perlu pemahaman berupa syarat minimal, antara lain: bait (jumlah baris); musikalitas berupa persajakan dan bunyi. Dan khusus tentang bunyi, dalam dunia sastra dikenal dua bunyi yang turut mendukung makna puisi. Bunyi yang dimaksud adalah bunyi efoni (bunyi yang menyarankan makna kebahagiaan, kebanggan, kesenangan, dan keceriaan seperti bunyi vocal a. Selanjunya ada bunyi kokofoni, yakni bunyi yang menyarankan makna (1) ketakutan seperti bunyi vocal u, o, seperti dalam kata lolongan anjing atau menyebut kubur, pasti ada yang merasa takut; dan au serta (2) bunyi yang meyarankan makna kesedihan seperti bunyi vocal i, e. Seperti kalau ada yang meninggal, selalu mengeluarkan bunyi e. Selain itu, butuh diksi (pemilihan kata); imajinasi (daya khayal; majas; dan amanat).

Menulis puisi itu penting karena dapat mengasah rasa setiap indivdu. Selain itu, puisi diakrabi karena dapat berfungsi sebagai pengasah nilai-nilai kemanusiaan pembacanya atau penikmatnya. Semisal kesadaran buat meningkatkan kualitas diri yang meliputi: kecendikiaan, keterampilan, kepekaan rasa serta batin.

Sementara menurut R. S. Pragolawati, puisi memiliki fungsi sebagai berikut: (a) medium kreasi (wadah untuk buat proses dan hasil cipta); (b) medium kreasi (sarana untuk berhubungan dengan khalayak; (c) medium ekspresi (alat untuk mengungkapkan diri); (d) meng-abadikan (memori, suasana, nilai, dan peristiwa); dan (e) meningkatkan akal – budi, dan mengembangkan daya cipta.

Tentu sebagai tukang masak, penulis puisi harus memahami nilai yang dikandung kata, seperti daya cetus (ekspresi); daya gandeng (valensi); daya sampai (komunikasi); daya terang (denotasi); daya kena (relevansi); daya khusus/bias/konotasi; sinonim; puitika (keindahan bahasa) musical (keindahan lagu) serta melodia (keindahan irama).

Unsur-unsur dan daya reaksi di atas, diurusi oleh kimia kata. Maksudnya, ilmu/seni yang meliputi pengolahan kata. Ramu makna, reaksi bunyi, rangkai istilah, susun kalimat dan bentuk irama.

Oleh karena itu, kita butuh sikap kreatif memakai kata, istilah atau ungkapan yang tertentu (sudah ada) membuat arti dan isi maksimal (sebanyak-banyaknya, sebesar-besarnya). Sikap kreatif mencapai tujuan, isi dan maksud tertentu (target yang sudah diambil) cukup memakai kata, ungkapan, istilah yang minimal (paling sedikit, paling kecil).

Maksudnya, menyampaikan sebanyak-banyaknya ide atau pesan, namun lewat sehemat-hemat kata. Konkretnya, memanfaatkan kata-kata minimal haruslah mencapai nilai, ideal, hasil maksimal. Yang terakhir ini diistilahkan sebagai ekonomi kata.

Lalu, seorang penulis puisi harus memperhatikan ekspresi, bagaimanapun ekspresi tulis puisi merupakan kegiatan yang memungkinkan kita mendapatkan pengalaman arstiktik dalam menulis puisi. Pada saat ini, misalnya, Anda menemukan peristiwa besar seperti pesawat tabrak sapi, gerhana matahari total, gelapnya siang hari karena letusan Gunung Ia di Ende, tahun 1969 atau Gunung Ranaka hingga muncul Ranaka kecil. Perasaan apa yang Anda ungkapkan? Yang jelas, pengalaman tersebut merupakan bahan berharga apabila diekspresikan melalui puisi.

Bersyukurlah kita, selama mengembara di bawah kolong langit ini, banyak pengalaman yang dialami orang lain. Namun sadar atau tidak, bila dibandingkan dengan umur kita yang begitu singkat, pasti kita kecewa karena hasil penelitian para pakar, umur kita orang Indonesia rata-rata 60 tahun. Iya terasa singkat sekali. Saya teringat Chairil Anwar sang pelopor Angkatan 45 itu, menggagas ekspresinya melalui puisi, “Aku mau hidup seribu tahun lagi.” Setelah kita lacak umurnya ternyata tidak sampai 30 tahun. Ia hanya optimis, mau mengetuk hati kita untuk selalu memberi makna ini hidup. “Hanya sekali, sesudah itu mati!” ujarnya.

*Penulis; Kelahiran Bambor Manggarai Barat, kini berdomisili di Kota Kesultanan Bima.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here