Melodrama

oleh -456 views
Foto: Ilustrasi (net)

Oleh Chan Setu*

Barangkali, kita tak akan pernah searah dalam memahami apa artinya hidup. Bahkan dalam perihal mencintai dan dicintai, kita tak mungkin saling memaksa pemahaman mengenai artinya cinta. Sekalipun itu kematian, yang kelak menjadi rumah terakhir kehidupan kita. Mungkin juga yang akan menjadi tujuan pertama dan terakhir dari mengapa kita harus diciptakan serta menjadi hidup hingga saat ini.

Tidak itu saja, kita telah lama tak saling bertujuan. Kau melangkah selalu lebih dahulu ke depan dan aku selalu menyusurimu dari belakang. Itupun dengan tatih dan keringat yang tak sepadan denganmu. Kadang, kau tak pernah melihat bagaimana berharganya air mata ketika saat-saat tangis menjadi alasan dari semua kata yang pernah kau ucap. Atau tak ada yang tahu, beberapa kali tawa renyah tak begitu menyatu, Ia lepas tanpa membebaskan. Ia mengikat tanpa benar-benar mengekangnya. Ia terlalu menyedihkan tanpa benar-benar derita. Mungkin karena itu kau tak mau mengambil resiko dari semuanya itu, bahkan kau yang dahulu dan untuk beberapa tahun terakhir menjadi satu-satunya alasan dari mengapa jas, setelan, kameja lengan panjang, dasi, celana tisu yang tergerai hingga mata kaki, sepatu pantofel dan berbagai hal yang telah menjadi kerasan, sekalipun perlu beberapa waktu untuk merasa begitu familiar dengannya, begitu nyaman pada tubuh ini. Kau bahkan meninggalkan begitu banyak cerita dari hatiku dan kau memilikinya. Tapi mengapa, kau tak pernah mengatakan apa yang tak harus aku alami saat ini.

Jean, kau hadir dan begitu puitis dalam seluruh diari hidupku. Kau mengubah beberapa duniaku, bahkan kau hampir menjatuhkan aku berulang-ulang kali ke dalam lembah dan hidup bersama pepohonan cemara yang menjulang tinggi. Kau pernah kuanalogikan dengan kata dan tak bisa kuanalogikan dengan air mata. Bahkan untuk tahun-tahun yang begitu sulit ketika keluargamu meninggalkanmu saat melakukan perjalanan menuju villa di Bukit Kelimutu. Saat itu, aku jadi satu-satunya saksi air matamu tak pernah tumpah. Kau tegar dan aku menyukai itu. Dan untuk semuanya itu, hanya sampai di situ yang bisa kupahami secara utuh tentangmu. Sejak itu, kau tak seperti biasa. Hilang dalam pekat dunia buku dan penamu. Meninggalkan pesan dan teleponku berkali-kali begitu saja di atas meja kerjamu. Lalu, kau datang dan mengatakan kepadaku hidup, kematian dan cinta. Ketiga-tiganya itu tak ada satupun hal yang bisa kau dengarkan dariku. Kita benar-benar jauh dari waktu, bahkan kita benar-benar pisah dari jarak. Persis seperti puisi M. An. Mansyur yang dimainkan dalam film AADC2 saat Rangga membacanya “Antara Jakarta dan New York.” Jarak itu memisahkan kita antara bus kota dan terminal, bandara dan pesawat, pelabuhan dan laut bahkan antara mata dan tatapan, sampai pada tangan dan sentuhan. Terima kasih Jean.


Di luar, orang telah sibuk dengan berbagai pernak-pernik persiapan yang akan berlangsung esok hari. Kuingat hari itu, hari Kamis di bulan Juni dan tahun biarkan ia berlalu. Aku tak ingin mengenangnya. Sebab mengenangnya hanya menjadi satu rasa dari setiap kenyamanan yang hampir begitu sempurna kualami saat ini. Ya, baik-baik saja, mungkin hanya sebuah cara untuk melupakan semuanya itu.

“Juan, bagaimana dengan gambar untuk pemotretan selama upacaramu. Apakah perlu dipajangkan di depan pintu masuk dalam sebuah spanduk berdiri antara kau dan Jean? Atau cukup kita buat lukisan-lukisan kecil di sepanjang koridor masuk tempat utama dari seluruh rangkaian upacara itu? Mungkin juga kita buatkan spanduk berukuran tiga kali dua dan dilukiskan bersama dengan pernak-pernik lainnya di background panggung utama kalian berdua, ya itupun jika kau menyetujui pendapatku,” ucap Bertin, teman perempuan Juan yang menjadi pendekor seluruh upacara pernikahan Juan dan Jean.

“Bertin, sudah pernah kubilang sebelumnya bahwa bukankah semuanya itu menjadi urusanmu dan kru-krumu. Toh, saya dan Jean telah mempercayakan semuanya itu padamu, Bertin,” jawab Juan.

Banyak sanak keluarga yang telah datang. Hilir mudik di antara riuhnya persiapan acara untuk hari esok. Satu-satunya cara bagi Juan untuk menghindari semua pertanyaan dari rekan-rekan kerjanya pun dari sanak saudaranya adalah bermain playstation dengan Rian, salah satu keponakkannya dari Bajawa. Tak ada satu pun pikiran yang bisa menghilangkan ketegangan dari kebahagian yang Juan rasakan hari itu. Semuanya begitu sempurna. Bahkan tak ada lagi keragu-raguan yang seolah membuat suasana hati Juan begitu resah dibandingkan beberapa minggu sebelumnya.

“Juan,” panggil Tania. “Bukankah, malam ini keluarga besar semuanya berkumpul, baik yang datang dari luar Pulau Flores maupun yang datang dari kota-kota di daratan Pulau Flores? Dan apakah tidak baik jika kita manfaatkan makan malam bersama malam ini untuk memperkenalkan Jean di hadapan seluruh anggota keluarga kita? Ya, sekalian dihadapan keponakan-keponakanmu ini,” tanya Tania, kakak sulung Juan.

“Tapi kakak, malam ini, bukankah di antara saya dan Jean harus mempersiapkan diri untuk seluruh upacara itu. Dan tidakkah kakak lupa kalau-kalau malam ini betapa tegangnya saya dan Jean. Mengingat seluruh hari yang begitu berat sejak beberapa minggu lalu. Sekaligus menanti seluruh upacara yang akan berlangsung pada hari esok. Ada baiknya, biarkan saya dan Jean memiliki waktu untuk malam ini saling menyendiri hingga pagi esok pukul 09:30 WITA. Bukankah, semua anggota keluarga besar kita masih ada hingga satu atau dua hari setelah upacara pernikahan kami?” jawab Juan kepada kakak perempuannya itu.

“Baiklah Juan, yang terbaik buat kau dan Jean. Kakak hanya berpikir kalau-kalau malam ini, malam yang cukup baik untuk itu. Tapi, lupakan semuanya itu. Intinya, esok adalah hari kebahagiaanmu,” sambung Tania.

18/06/2019

Terkadang, waktu menjadi benar-benar begitu kejam. Kapan saja ia siap untuk mengkhianati nasib dari siapa saja. Ia datang, bahkan tak lupa pergi. Siapa saja tak pernah minta untuk mengundangnya apalagi menghantarnya. Semaunya ia datang entah menginap atau sekadar untuk bertamu. Seperti hari ini. Ia begitu romantis dalam bayangan. Begitu mesra dalam euforia hati yang telah bermekaran.

Tamu-tamu undangan telah datang. Di Gereja, begitu nikmat dekorasi Bertin selama beberapa hari terkahir. Karpet merah, terbentang dengan leluasa di koridor masuk pintu Gereja itu. Bunga-bunga kecil sepanjang bangku telah ramai padat. Mungkin saja ingin bersuka cita bersama hati yang telah lama kembang dan bermekaran. Ratna, Lian, Yuni dan Rein telah siap menjadi para malaikat untuk pengantin perempuan. Bahkan Fany, Reny, Yanti dan Tina telah siap menjadi penari untuk menghantar pengantin baru ini.

Waktu masih saja berdetik. Setiap menit yang berlalu bikin resah dan renyah dalam gemeletup barisan gigi dalam ronga mulutku. Jas hitam yang telah rapi di tubuh jadi begitu keruh dalam keringat. Dasi merah yang menjadi kupu-kupu dileherku semakin menjadi sesak dalam nafas-nafas tak sabaran. Sepatu pantofel yang telah lama menyatu di bawah tumit kaki semakin lama jadi gatal dan ganas dalam panas yang begitu bercampuk aduk.

Antara berdiri, duduk dan berjalan, satu hal yang sama dalam rutinitasku beberapa waktu itu. Tamu-tamu dan undangan hingga keluarga besarku semakin menjadi gaduh. Rumah Tuhan yang telah cantik sejak semula baik sebelum dan sesudah didekori Bertin, semakin menjadi gaduh yang menjadi-jadi.

Para ajudan hampir-hampir kaku dalam berdirinya yang begitu polos. Para Imam konselebran yang hadir turut resah sambil menatapku dengan pasti, kapan pengantin perempuannya datang.

“Sudahlah, batalkan saja. Mau sampai kapan kau dan yang lainnya menunggu,” ucap Tania, saudari perempuanku. Meski sejak tadi, resah mulai muncul ketika berpuluh-puluh chattingan-ku tak di-read bahkan telepon seluler berkali-kali pun tak ada respon baik dari Jean. Terhubung iya. Berdering pun iya. Namun, hanya jawaban wajib dari telkomsel yang selalu mengakhiri telepon yang berkali-kali itu.

“Baiklah, Kak. Kita batalkan saja pernikahan ini. Namun jangan batalkan makan dan minum yang telah disiapkan oleh ibu-ibu di dapur rumah kita. Biarkan aroma kopi, teh, daging, nasi dan segala hal yang tumpah di atas meja perjamuan itu dicicipi dan dirayakan oleh para tamu dan undangan kita.” Bukankah, itu cara terbaik bagi kita merayakannya, Kak?”

Berbagai ungkapan membanjiri diriku, baik secara langsung maupun dalam akun media sosialku. Ada yang menguatkan sambil memberi ruang tersendiri bagiku untuk menenangkan diri, dan ada pula yang seperti menyindir hingga sinis. Semuanya seolah begitu mudah terjadi. Segalanya seperti mimpi siang bolong yang selalu tak pernah nyata. Tuhan memang tidak salah dalam hal ini. Namun, Dialah yang tahu segalanya. Untuk itu, Jean wanita yang kukagumi dan hampir saja menjadi istriku, terima kasih untuk semua hal yang pernah kau berikan kepadaku. Dalam segala hal.

**
Benarlah bahwa kita tak pernah diciptakan untuk bersama. Nasib kita pun berbeda. Kau tetap selalu di depan dan aku tetap tertatih di belakangmu. Aku bukan siapa-siapa bagimu. Namun untukmu, kau adalah aku dari sekian banyak hal yang telah kulalui.

Jean, kau lebih pandai dari para pemazmur dalam Kitab Suci kita. Ucapanmu lebih bergairah dari semua pemazmur yang telah kubaca dan kita baca. Kau begitu puitis melebihi kalimat-kalimat dalam Kitab Mazmur. Namun sayangnya, ucapanmu yang semula bergairah bagiku tak lagi berarti.

Bukankah kau pernah bilang “aku ingin memeluk mimpi dalam anak-anak yang akan kita hadirkan,” bahkan kau pernah bilang kalau kau “hanya ingin mengandung anak dariku,” tapi semuanya hanya kisah dari dunia yang kau ilusikan dalam pikiranmu sendiri. Jujur, hari ini di dua bulan yang lalu ketika kau tak hadir dalam seluruh upacara yang telah disiapkan dengan rapi itu, kau bagiku tak sekadar melodrama yang kau mainkan dalam ucapan bibirmu sendiri, yang pernah kucumbu berkali-kali dalam beberapa tahun yang lalu.

Bukit Sandar Matahari Ledalero. 2020

*Penulis; Mahasiswa STFK Ledalero. Saat ini menetap di Wisma Arnoldus Nitapleat, Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *