Oleh Chan Setu*

Beberapa waktu sebelum Kuin pergi meninggalkan rumah. Ada cerita sedih di balik pundak-pundak kecilnya itu. setelah melewati tahun-tahun yang menyedihkan, hingga sulit di pahami. Kuin beranjak menjadi dewasa dan bertumbuh layaknya anak-anak lainnya di kompleks kami. Sayangnya, semua itu terasa berat dan beda. Ketika teman-temannya selalu diteriak, dicari, disuapi, digendong, diajak jalan-jalan dan hal-hal lain yang sering dilakukan Ayah dan Ibu terhadap anak-anak mereka. Tetapi Kuin, Ia sendiri, menangis tanpa benar-benar memahami beberapa tahun lalu, ketika Ayah dan Ibunya pergi saat-saat di mana Ia masih sempat tertawa riang, bermain ke sana ke mari, dikejar oleh Ibu dan Ayahnya, dimandikan setiap pagi dan sore. Saat itu, Kuin hanyalah seorang anak kecil yang sedang berusaha memahami apa artinya kepergian.

**
Risal, Kakak perempuan Kuin dan menjadi satu-satunya Kakak yang bisa menemani Kuin hingga saat ini. Layaknya, seperti anak laki-laki, Risal membanting tulang mencari kerja, demi memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan Kuin. Setiap hari, Risal harus bangun pagi, meninggalkan Kuin yang masih mendengkur di tempat tidur. Lalu menanak nasi dan menyiapkan teh hangat buat Adik semata wayangnya, yang masih berada di bangku Taman Kanak-kanak (TK). Sebelum embun dibawa pergi begitu jauh, Risal, biasanya sudah pergi menjajahkan pisang goreng, kue donat dan beberapa jenis kue yang telah disiapkan oleh Ibu Detha. Ibu yang telah lama memberikan kesempatan bagi Risal, untuk bekerja di kios kecilnya.

Ketika, subuh telah pergi begitu jauh. Risal kembali ke kios dengan barang jajahan yang terkadang laris manis, meskipun lebih sering rezeki tidak berpihak kepadanya. Ketika pagi telah pergi, Risal mulai menyewa tenaganya untuk mencuci pakaian milik tetangganya, terkadang Ia menyewa tenaganya untuk mengerjakan satu – dua petak sawah, sekadar untuk mengairi ataupun untuk memberi benih dan menanam.

Dan saat sore menjelang, Risal selalu duduk di tempat terakhir yang selalu menjadi tempat terindah baginya untuk menangis, tertawa, senyum, berbicara dan berbagai hal tumpah di tempat itu. Tempat yang suatu saat menjadi nostalgia paling tragis dalam seluruh hidup Kuin.

Di atas batu, dekat pondok Ayah dan Ibunya dulu, Risal selalu mengajak Adiknya, Kuin untuk duduk di sampingnya. Batu itu, terkenang dengan indah celotehan Ayahnya dan tawa Ibunya. Di batu itu, nisan Ayah dan Ibunya berada. Di batu itu, senja begitu indah merangsang mata untuk jatuh cinta. Di atas batu itu, bulan menjadi telanjang tepat dengan air mata bening Kakak-Adik itu.


Suatu sore, minggu kedua bulan Mei, Kuin menanti datangnya kue ulang tahun dengan pernak-pernik perayaan yang telah lama dimimpikannya. Seperti teman-teman sebayanya, yang setiap kali merayakan hari jadi selalu dengan perayaan yang meriah. Begitupun dengan tamu-tamu yang datang, riuh redah memenuhi pelataran teras rumah mereka masing-masing.

Sore itu, terasa begitu telanjang. Senja belum juga datang. Mentari dengan riaknya penuh merangsang kulit hingga legam. Satu atau dua orang berkeliaran hilir mudik. Ada yang baru pergi ke kebun di bagian utara, sekadar memastikan makanan dan minuman kerbau, sapi dan hewan-hewan ternaknya. Ada juga ke kebun, sekadar untuk mengecek air yang mengairi sawah, apakah telah mengalir dengan baik ke setiap pematang-pematang sawahnya.

Sedangkan yang lain, ada yang memapah satu atau dua karung hasil panenan mereka seperti kemiri, cokelat, padi dan sebagainya. Ada juga yang menenteng pisang, ubi dan beberapa batang kayu, barangkali untuk menghangatkan diri dari suhu udara kampung kami ini yang begitu dingin.

Suara-suara di dapur rumah tetangga telah lama berkeliaran lari keluar jendela. Begitupun dengan suara-suara anak-anak seusianya, yang telah lama menghadap mata kepada chanel-chanel televisi di ruang tamu mereka masing-masing. Yang lain, ada yang baru saja pulang bermain bola kaki di lapangan, bebas merdeka – melepaskan segala penat atas seluruh hari yang telah mereka lewati. Sebagiannya lagi, sedang dikejar, dicari oleh Ayah dan Ibu mereka, sekadar memaksa Anak-anaknya untuk segera pulang dan juga sekadar untuk memaksa mereka agar segera mandi. Sebab, sebentar lagi hari akan lelap.

Detuosoko, surga kecil penuh kedamaian. Kampung kecil yang terletak sekitar kurang lebih 33 KM dari Ibu Kota Kabupaten Ende itu, merupakan desa yang penuh dengan kekayaan lokal. Banyak hari yang telanjang dipetak-petak pematang sawah. Air yang melimpah. Dan dunia yang penuh dengan cerita nenek moyang. Kuat akan sejarah dan warisan luluhur.

Detusoko, bukan sekadar nama yang diberikan tanpa penggalan pengalaman. Di sana, terbaring mumi yang telah bertahun-tahun terjaga dalam pondok, dengan peti kaca yang telah berusia puluhan tahun lamanya. Di sana, ada rumah-rumah kolong yang bercecer begitu lama, tetap terjaga dan tetap terpelihara. Rumah yang telah melahirkan insan-insan penuh keramahan. Ada banyak yang datang, pun begitu dengan yang pergi. Antara kepergiaan dan kedatangan, keduanya hanyalah hal-hal dari sebuah kisah yang tak bisa dipertanyakan. Terkadang kepergiaan begitu damai di belakang pundak manusia. Kadang juga, kedatangan terlihat begitu damai dari bola mata yang telanjang, namun keduanya sama-sama pahit di balik pundak-pundak kecil anak-anak se-usia Kuin.

Di kampung itulah, Kuin seorang bocah yang telah lama ditinggalkan Ayah dan Ibunya. Hidup dengan menghafal hari-hari dari rutinitas Kakak perempuan semata wayangnya, Risal. Merasa damai dengan hari-hari penuh kenangan di atas batu nisan kedua orang tuanya. Merasa baik-baik saja, tanpa tahu apa artinya air mata di kedua bola mata Kakak perempuannya itu. Menatap telanjang udara yang berkeliaran bebas di depan matanya, tanpa tahu apa artinya kehidupan. Berlari di antara ruas-ruas pematang sawah, dengan wajah penuh senyum juga gembira, tanpa memahami apa artinya mencari makanan dan minuman.

Terkadang, hidup memang begitu tak adil. Ia memisahkan dan juga menyatukan. Ia menghangatkan, terkadang merisaukan. Seperti hari-hari kemarin, tawa dan canda masih saja bertamu di atas nipan tempat tidur keluarga. Seperti kemarin, kebahagiaan masih memapah kehidupan di atas meja dengan segelas kopi buatan Ibu, dan segelas teh yang selalu menemani Ayah menghisap cerutu-cerutunya. Seperti kemarin, hingar-bingar halaman sekolah, kampus dan fakultas masih terasa damai di atas meja-meja kantin, dengan tawa berbagai warna kulit. Seperti baru kemarin, amarah meluap, air mata jatuh terpelanting, tubuh diam dan membisu. Seperti baru saja kemarin, kami baru selesai merayakan euforia kelulusan pada jenjang sekolah menengah atas. Ketika baru mengetahui apa artinya ijazah, semuanya telah hilang dan lelap di balik gumpalan-gumpalan tanah yang saban hari jadi kisah Ayah dan Ibu, menceritakan Opa Segu dan Oma Sisi. Ya, baru kemarin cerita Opa dan Oma terasa nyata dan damai.

Kini, tinggal aku dan Kuin. Kedua manusia yang telah lama mencari tanpa mengerti apa artinya sendiri. Dan hari ini, pada usia yang baru memasuki angka 7 itu, Kuin menantikan dengan penuh harap ada kue ulang tahun dan hiasan pernak-pernik, di rumah kecil yang kini tempat tidurnya tinggal aku, Kuin dan juga pigura-pigura masa kecil kami yang telah lama dicuci oleh Ayah dan Ibu.

Aku masih di batu ini. Batu yang selalu akrab dan damai setiap kali ingin menangis dan tertawa. “Kuin, Adikku, maafkan Kakak untuk harimu ini, yang tak sempat Kakak berikan untukmu,” batin Risal.


Di rumah, sore semakin temaram, di bias cahaya merah di langit barat sana. Kuin, masih juga duduk menunggu Kakaknya di depan pintu rumah mereka. Dengan wajah polos, menghitung satu per satu anak-anak yang menghilang di antara gelapnya hari. Senyum polos tersungging di bibirnya, bermimpi dengan kejutan yang bisa diberikan oleh Kakak semata wayangnya itu. Belum juga sempat membasuh tubuhnya dan bahkan tidak sempat untuk membasuhkan tubuhnya lagi, Ia menghitung anak-anak tangga di depannya sambil menjingkrak di atasnya.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam dan pada hitungan ketujuh lampu rumah yang gelap itu mulai terang. Senyum lebar mulai tersungging di bibirnya. “Kakak…” teriak Kuin dari tangga terakhir ia berjingkrak.

Di dalam rumah, tak ada siapa-siapa selain lampu yang terang dan dengan diam yang kaku. Di dapur pun tidak ada api ataupun asap yang keluar, tanda kehidupan di dalam rumah itu hanyalah lampu dan dirinya sendiri. Kemudian, diam-diam kain pintu kamar Kuin dan Kakaknya itu terkipas oleh angin yang datang. Di susul suara sumbang Kakaknya dari balik kain pintu kamar itu, sambil menyanyikan lagu Zambrud “Selamat Ulang Tahun” dengan kue donat yang di bawah dari sisa jajahan pagi hingga siang harinya.

Hari ini, hari yang kau tunggu, bertambah satu tahun usiamu, bahagialah slalu. Yang kuberi, bukan jam dan cincin, bukan seikat bunga atau puisi juga kalung hati……… Reff: Smoga Tuhan, melindungi kamu serta tercapai semua angan dan cita-citamu. Mudah-mudahan diberi umur panjang, sehat selama-lamanya. Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun…. Selamat ulang tahun Adikku sayang.

Tangis pun pecah. Siapa yang mau larang. Apakah air mata patut menyalahi mata? Atau pantaskah hari memarahi bulan dan tanggal yang tahun ini rayakan? Mungkin, lampu neon di atas atap-atap kepala Kakak dan Adik itu berhak memarahi malam yang tak ramai itu. Jangan-jangan, di luar ada ratusan anak-anak yang menemani suara tangis Kakak-Adik itu. Malam itu, ulang tahun tepat ketika air mata semakin telanjang melumat mata Kakak-Adik.

“Kuin, Adikku sayang. Tiup lilinya. Maafkan Kakak. Kakak belum sempat menyediakan pernak-pernik ulang tahun. Beserta kue ulang tahun dengan namamu di atasnya. Maafkan Kakakmu ini.”

Seusai lilin itu ditiup. “Terima kasih, Kakakku,” ucap Kuin, menemani Kakaknya yang sedang menangis. “Kakak, kemarin Kakak pernah bilang, bahwa di hari ulang tahunku hari ini, kado yang ingin Kakak berikan adalah menghadirkan Ayah dan Ibu ke tengah-tengah kita. Apakah Ayah dan Ibu tidak mau merayakan ulang tahunku? Atau, Ayah dan Ibu, tak ingin melihat aku meniup lilin dan memberikan potongan kue donat pertama kepada mereka berdua? Kakak, bukankah Kakak pernah bilang kepadaku, Ayah dan Ibu hanya pergi berlibur ke kampung halaman Kakek dan Nenek kita di Congkasae. Dan bukankah Kakak pernah bilang, kalau-kalau Ayah dan Ibu akan datang di hari ulang tahunku? Di mana mereka Kak? Apakah mereka bersembunyi di dalam kamar atau mereka sedang duduk di atas batu pondok kita?”

“Tuhan, aku tak tahu bagaimana menjelaskan kepada Adikku, Kuin. Wajah polos dengan mata yang begitu telanjang itu, membuatku diam dalam kalut. Ayah dan Ibu, siapa yang berhak atas pertanyaannya ini?”

Senja itu, menjadi senja terakhir, ketika semua rentetan pertanyaan Kuin dijawab dalam seribu air mata yang menjadi bahasa dari duka dan kepergiaan. Kakak-Adik itu, saling peluk dan menangis. Detusoko, kampung kecil itu, jadi diam dengan penuh amarah.

“Tuhan, titip doa dan potongan kue ulang tahunku ini, buat Ayah dan Ibuku di atas sana,” itu doa terakhir Kuin, senja hari itu.

Bukit Sandar Matahari Ledalero, 2020

*Chan Setu, mahasiswa semester IV di STFK Ledalero. Menetap di Wisma Arnoldus Nitapleat, Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Maumere. Mencintai Kopi Pahit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here