Oleh: Riko Raden

“Kemarin malam, aku mengalami suatu peristiwa di jalan itu. Aku naik turun melalui jalan itu berapa kali,” kata Maria kepada Enjel.
“Di jalan mana Maria?” tanya Enjel.
“Di jalan dekat pos satpam di Ledalero.”
“Apa yang kau lihat di sana Maria?”
“Dari jauh tampak seorang wanita yang berjalan ke arahku. Tak seorang pun yang kelihatan, selain wanita itu. Sementara itu, lampu-lampu malam telah menyala, tapi nyalanya agak suram, sehingga wajah wanita itu tidak begitu jelas tampaknya. Aku berpikir, mungkin seorang anak yang lain akan berjalan di belakang membuntutinya. Tapi nyatanya tidak. Wanita itu seorang diri.” Jawab Maria sambil memikirkan wanita yang belum pasti identitasnya.

“Apakah engkau pergi menemuinya?” tanya Enjel lagi.
“Tidak. Aku pikir Dia datang menghampiriku. Aku menunggunya di bawah terang lampu malam, tapi Dia tidak datang juga. Kemudian Dia hilang begitu saja. Aku coba pergi mencarinya, tapi jejaknya tak dapat kutemui. Bersama gelapnya malam, Ia pergi begitu saja.”
“Mungkin itu bukan manusia,” kata Enjel.
“Terus itu siapa? Aku jelas melihatnya, Dia adalah seorang wanita,” sontak Maria.

“Entahlah Maria, aku juga tidak tahu apakah Dia seorang manusia atau bukan. Tetapi yang mengherankan, mengapa Dia hilang begitu saja. Atau mungkin Dia tidak ingin menemuimu. Barangkali demikian. Lupakan saja persitiwa itu. Baiklah Maria. Semoga wanita itu datang dalam mimpimu malam ini. Selamat beristirahat Maria. Jangan lupa berdoa sebelum tidur. Ingat bahwa Allah kita adalah Allah yang setia. Ia selalu melindungi orang yang berbuat baik.”

Kemudian mereka pergi tidur di kamar mereka masing-masing. Kebetulan jarak kamar keduanya tidak terlalu jauh. Terkadang juga, kalau Maria merasa takut tidur sendirian, bisa tidur bersama Enjel. Begitupun Enjel, kalau Dia takut tidur sendirian, bisa tidur bersama Maria.

Persahabatan mereka layaknya kopi dan gula dalam cangkir. Persahabatan di antara mereka sangat baik. Maria menganggap Enjel seperti saudara kandung, begitupun sebaliknya. Walau pun mereka datang dari daerah yang berbeda, dengan latar belakang budaya yang berbeda, tapi karena sama-sama merantau di tanah orang, membuat mereka bisa bersatu seperti keluarga sendiri. Tanah Maumere, membuat keduanya menjadi satu keluarga.

Malam semakin sunyi. Di langit nan kelam menyembul sebuah sabit sang bulan dalam setengah badannya. Teguh terdiam seakan menantikan takdir sang penguasanya. Tak tampak awan berjalan beriring mengawalnya, hanya sendiri dalam sunyi yang senyap, suara alam diterpa desiran angin melagukan khidmat yang dalam. Suara angin kembali berdesir lirih, menyentuh dedaunan muda yang tampak rapuh, tua sebelum waktunya dan berguguran jatuh ke tanah, tersapu lagi dan terus tersapu oleh si angin malam, kembali terulang dalam putaran waktu yang terasa semakin sedikit. Suara khas anjing malam mulai terdengar. Ada yang lembut dan ada yang kasar. Bunyian detik pada jam dinding sangat terasa dalam rumah ini.

Pada malam yang selarut ini, ternyata Maria masih terjaga seperti malam-malam sebelumnya. Ia selalu merindukan sosok wanita yang pernah Ia lihat di jalan itu. Setiap kali matanya ingin terpejam, bayangan wanita itu langsung datang dan memenuhi seluruh pikirannya.

“Sungguh, aku belum bisa melupakan wanita itu,” katanya dalam hati.

Saat itu juga hujan mulai turun. Bersamaan dengan hujan, angin malam sesekali mendesah di sela rintih hujan pada atap, dedaunan, rerumputan dan tanah. Maria mengangkat selimut karena dingin terasa sekali. Angin malam sesekali mendesah di sela jendela kamar tidurnya, sesekali Dia datang dengan suaranya, begitu menakutkan.

Ketika Maria pergi menutup jendela, sebuah bayangan nampak melintas begitu dekat pada jendela itu, membuat Ia takut dan dengan cepat-cepat menutup jendela. Terlintas dalam benaknya akan bayangan itu, seperti seorang wanita berambut panjang. Hanya ada beberapa jejak membekas pada jendela kamar tidurnya. Bulan mengambang sendirian tanpa ada sedikit celah yang menghambat perpaduannya. Ingatannya terus memikirkan akan bayangan sosok wanita di jendela kamar tidurnya.

“Jangan-jangan wanita yang pernah kulihat di jalan itu,” katanya dalam hati sambil terus memperhatikan wanita yang telah hilang dari jendela itu.

Rongga hatinya yang sepi dan sendirian, menciptakan ruang yang hampa pada malam yang terlampau panjang. Bayangan wanita di jendela kamar tidurnya, membuatnya banyak bertanya akan keadaan dalam rumah ini. Dari dalam kamar ini, Maria mendengar tangisan anak-anak anjing terus bergaung di malam yang kelam. Ia mulai merasa takut karena belum pernah merasakan malam seperti ini.

Maria ingin pergi tidur bersama Enjel, tapi Ia takut, jangan sampai wanita itu ada di depan pintu kamar tidurnya. Dalam ketakutan ini, Maria berdoa dalam hati, agar tidak terjadi apa-apa dengan dirinya. Dalam hatinya juga, terus memanggil Bapa dan Mamanya di kampung.

“Bapa, Mama, aku sangat takut. Bantulah aku.”

Air matanya pelan-pelan mulai jatuh. Air mata menjadi kering karena bersamaan dengan rasa takut. Maria yakin Tuhan ada bersamanya saat itu. Ketika Maria keluar melihat jendela itu, yang ada hanyalah sebatang kayu yang pernah dirasakan oleh seorang pencuri, ketika Dia mencuri isi hati seorang gadis di malam hari. Maria melihat kuburan di depan rumah ini, yang ada hanyalah sebatang lilin menyala, yang dipasang seorang Bapak pada sore tadi. Maria kembali ke dalam rumah untuk berdiam sejenak dan bertanya apa yang terjadi.

Suasana begitu sunyi. Sangat sunyi. Bahkan tak ada bunyi jangkrik, kodok, ataupun suara binatang malam atau suara khas anjing malam. Serasa berada di ruang kedap suara. Rasa penasaran Maria lebih kuat dibandingkan rasa takutnya. Ia menguatkan hati dan mengabaikan ketakutannya. Ia merapal doa agar Ia bisa kuat menghadapi rasa takut ini.

Maria pelan-pelan keluar dari kamar tidurnya dan berjalan menuju dapur. Lampu dapur yang terang mendadak berkedip-kedip. Jantungnya serasa mau copot. Ia sangat kaget. Lututnya sampai gemetaran. Tiba-tiba terdengar suara pintu berdecit. Nyali Maria ciut. Apalagi saat melihat pintu menutup dan mengunci dengan sendirinya.

“Ini tak bisa diterima nalar,” kata Maria dalam hati sambil melirik ke kiri dan kanan.

Agaknya, Maria sedang berhadapan dengan kekuatan supranatural, jin, setan, atau sejenisnya. Entahlah, Ia tak yakin. Maria terus berjalan menuju arah pintu. Ia tidak takut sedikitpun, setelah Ia merapal doa singkat agar Ia sendiri tidak takut. Lalu terdengar suara kekehan tawa. Maria coba membuka pintu dapur. Di sela pintu itu, Ia melihat seorang Nenek berdiri menghadapnya. Ekspresi Nenek ini sangat mengerikan. Wajahnya berlipat-lipat lebih tua. Nenek ini tertawa melihat Maria.

“Kau terperangkap di dapurku,” ujar sang nenek ini. Suaranya terdengar sangat parau. Kemudian, Maria mundur pelan. “Siapakah engkau?” tanya Maria dengan perasaan campur aduk. Nenek itu tertawa terbahak-bahak. “Aku pemilik rumah ini. Kamu telah merampas milikku. Aku sekarang tinggal di dapur karena di dalam tidak ada tempat lagi untukku,” kata si Nenek lagi. “Aku harap, besok kalian akan tinggalkan rumahku ini. Kalau tidak, hidup kalian tidak pernah akan aman,” lanjutnya.

Maria mundur sampai ke pintu dapur. Dalam hatinya, ada penyesalan dengan kenekatannya memasuki dapur ini. Tapi Maria merasa bersyukur, karena telah menemukan apa yang terjadi akhir-akhir ini dalam hidupnya. Ia telah menemukan titik terang atas segala yang terjadi dalam rumah ini.

Maria melihat si Nenek telah hilang. Ia tidak ada lagi di tempat di mana Nenek itu tadi berdiri. Hanya ada beberapa jejak membekas jelas di atas tanah berlumpur menuju dapur ini. Jejak-jejak itu begitu jelas tergambar di kedua bola matanya, membentuk sebuah cetakan yang tidak pernah luntur dari ingatan di kepalanya.

Kemudian, Maria kembali ke dalam kamar sembari merenung apa yang telah terjadi. Dalam hatinya, muncul seribu satu tanya tentang si Nenek itu. “Apakah dia pemilik rumah ini? Apakah si nenek itu yang kulihat pada jalan itu?” kata Maria dalam hati sambil mengangkat selimut menutupi lututnya.

Tiba-tiba suara petir terdengar pada gaung telinganya. Maria mulai cemas dan takut apabila si Nenek itu datang lagi dan masuk ke dalam kamarnya. Bunyi petir semakin keras dan cahayanya mulai menerangi gelapnya malam untuk beberapa detik. Dalam beberapa detik itulah, Maria melihat si Nenek datang lagi mengahampiri jendela kamar tidurnya. Si Nenek itu berambut panjang memakai gaun putih, sedang melihat ke arah Maria dari sisi jendela yang berhadapan langsung dengan jendela kamar tidurnya. Maria terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak bisa bergerak beberapa saat.

Akhirnya, Maria sadar dan berani untuk pergi menutup jendela itu. Di atas tempat tidurnya, Maria sangat ketakutan dan terus gemetar. Dia masih terbayang-bayang dengan kejadian yang barusan di alaminya.

*Penulis anggota unit St. Rafael Ledalero. Penggemar kopi pahit ala Manggarai. Kontributor untuk buku “Rindu di Ujung Senja” yang diterbitkan oleh Penerbit Aksara Makna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here