Oleh Hilarius

“Engkau tega, Yasmi. Hatimu benar-benar tega. Aku tidak pernah menyangka hatimu seperti ini. Engkau benar-benar tidak menghargai cintaku yang tulus ini. Sudah bertahun-tahun aku menjaga cinta ini, tapi engkau mengakhirinya dengan sesaat saja” ungakapan penyesalan Rino sambil menatap foto seorang gadis yang sangat dicintai dalam handphone-nya.

Sebening dari pelupuk matanya pun jatuh pada layar HP yang sedari tadi ditatapnya. Ia merasa bahwa sekarang ‘janji’ sepertinya sudah tidak ada kekuatan lagi untuk mengikat setiap tindakan. Janji bukan lagi pedoman dalam menjalani hubungan percintaan yang pernah bertumbuh subur. Kini mimpi mereka telah hancur setelah Yasmi mengkhianati janji mansinya.

Rino, seorang laki-laki muda tampan. Ia telah menamatkan kuliahnya di salah satu sekolah tinggi swasta di Flores. Rino tercenung di atas kasur empuknya. Ia memikirkan nasibnya yang tidak beruntung itu.

Kini sang kekasihnya telah berada dalam pelukan orang lain, setelah kurang lebih empat tahun Ia setia menunggu kepulangan kekasihnya dari tempatnya mengejar mimpi. Rino setia pada janji yang telah terucap. Dulu mereka berjanji dan bermimpi untuk berbulan madu di atas awan biru. Tapi, kini semunya itu telah pupus ditelan janji palsu gadis belia itu.

Rino menggeser layar HP yang sedari tadi ditatapnya. Di dalam HP itu, banyak foto kemesraan mereka beberapa tahun lalu. Ia ingin menghapus foto-foto itu. Ia ingin buang jauh-jauh jejak gadis cantik itu.

Foto pertunangan yang terpajang di dinding ruang tamu pun diambilnya, foto itu terpajang sekitar empat tahun yang lalu.

“Cret..cret..cret”. Satu lembar foto itu tuntas dirobeknya di hadapan api yang berkobar menyala.

Air bening dari pelupuk mata menetes mengiringi setiap aksinya dalam upacara menghapus jejak kenangan percintaannya bersama gadis itu.

“Biarkanlah api ini yang menyimapan kenangan tentangmu. Abu-abu ini akan menjadi tanda bahwa aku tak mau mengenangmu selamanya. Semua kenangan di hatiku tentang kisah yang sudah kita lewati bersama akan kukuburkan dalam jejak api ini”. Sobekan foto itu pun hangus menjadi asap dan debu di tempat bakar sampah samping rumahnya sore itu.

Yasmi, seorang gadis belia yang sangat cantik dan menawan. Bodinya yang tinggi nan ramping membuat Ia terlihat semakin cantik, ditambah warna kulitnya putih merona membuat Ia mirip bidadari. Hitam panjang dan terurai membuat helai-helai rambutnya beterbangan dihempas angin. Pinggulnya yang sedikit seksi pun membuat laki-laki menelan liur. Ia sangat cantik dan memanjakan mata semua orang.

Yasmi baru menamatkan SMA-nya. Yasmi dan Rino menjalin hubungan asmara sejak setahun yang lalu. Waktu itu Yasmi masih duduk di kelas dua SMA, sedangkan Rino, kuliah semester enam di fakultas keguruan kampus swasata di Ruteng. Bodi Yasmi yang tidak kalah dengan mahasiswa, membuat Rino tak percaya bahwa Ia adalah gadis yang masih duduk di bangku SMA. Setelah Rino tahu bahwa Yasmi adalah siswi SMA, Ia pun tidak pedulikan status itu, apalagi pembawaan Yasmi yang begitu menenangkan hati Rino. Yasmi begitu cantik dan anggun. Rino pun jatuh hati padanya.

Ketika duduk bermesraan di bibir pantai sambil menyaksikan kepakan ombak, mereka berbicara tentang cita-cita bersama mereka.

Mereka berjanji untuk sehidup semati. Mereka menata mimpi masa depan mereka. Nama-nama lucu anak-anak mereka pun sudah mulai ditata bersama. Kemudian berdebat indah tentang jumlah ideal anak mereka nanti.

Kebahagiaan pun tercipta di antar mereka berdua. Semua hal yang tidak pasti di dunia ini tentang masa depan mereka pun dibicarakan. Sampai akhirnya, Yasmi ketiduran di pundak Rino. Kepakan ombak dan kicauan burung di pinggir pantai menjadi melodi indah mengirama cerita tentang mimpi. Cahaya jingga terbentang di laut yang luas mengindahkan suasana.


Rino membayangkan kembali. Setelah Yasmi menyelesaikan pendidikan SMA-nya, Rino sempat membujuknya untuk kuliah di kampus tempatnya kuliah. Tidak lain tujuannya agar keduanya tidak terpisah oleh jarak dan waktu. Rino memberi kebebasan agar Yasmi memilih jurusan apa saja, asalkan Ia kuliah di sana. Dan yang paling penting bagi Rino adalah mereka berdua tetap tinggal bersama dalam satu kota.

Permintaan dari hati yang paling dalam Rino pun ditolak Yasmi mengingat jurusan yang diminati gadis belia itu tidak ada di kota yang direkomendasikan Rino. Rino pun tidak memaksanya untuk menuruti permintaannya itu. Mimpi besar Yasmi untuk menjadi seorang pengacara hebat, membuat dirinya harus pergi ke luar Manggarai. Hanya di luar Manggarai lah Ia bisa mewujudkan cita-citanya yang setinggi langit biru itu. Bukan secara kebetulan, karena memang jurusan itu masih langka di Manggarai bahkan di daratan Flores sekalipun.

Akhirnya, Yasmi memutuskan untuk daftar kuliah di fakultas hukum di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Bali. Rino pun tidak keberatan dengan keputusan itu demi cita-cita besar dari sang kekasihnya.

Tepat hari kepergian Yasmi, di pelabuhan, mereka saling menatap. Rasa berat untuk meninggalkan dan melepas pergikan berhasil membuat tetesan bening dari bola mata mereka merembes di pipi.

“Yas, aku ingin menyampaikan satu hal untukmu. Dan sangat penting untuk kusampaikan saat ini, karena saat ini adalah kesempatan terakhirku berbicara empat mata denganmu sebelum engkau pergi ke tempatmu meraih mimpi” Rino mengatakan itu dari hati terdalam diiringi tetesan air bening dari bola matanya.

“Kaka, Jika memang itu sangat penting, katakanlah! Aku siap mendengar apa pun itu, dan biarkanlah bibir pelabuhan ini dan air laut yang tenang itu menjadi saksi ucapan kita saat ini!”

“Yas, sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa, aku akan setia menunggumu sampai kapan pun. Aku akan setia pada janjiku saat aku memasukan cincin itu di jari manismu saat acara pertunangan kita. Aku juga berharap, Yas, engkau bisa menjaga hatimu di sana” sambil menyeka air matanya.

“Kaka, aku juga sangat berharap demikian” Ia menyeka air mata di pipinya. “Berharap agar Kaka benar-benar menungguku hingga aku pulang pada waktunya. Dan aku akan selalu setia memupuk, menjaga, dan merawat rasa cintaku kepada Kaka” lanjut Yasmi. Keduannya pun meneteskan air mata dan berpelukan.

Kapal pesiar dan kapal-kapal ikan yang berada di sekitar bahu sandaran kapal besar itu meminggir. Peristiwa itu menandakan bahwa kapal penumpang akan tiba dalam waktu dekat. Tidak menunggu lama, samar-samar bunyi klakson pun terdengar. Disusul bayang-bayang yang mulai nampak menuju dermaga. Semua orang berjalan tumpah ruah mendekati bibir pelabuhan itu untuk menyambut kedatangannya.

Beberapa menit kemudian kapal penumpang itu sandar pada bahu dermaga yang setia menantinya dengan sabar. Dinding kapal dan bibir dermaga itu tampak seperti sepasang kekasih yang sedang bercumbu.

Penumpang-penumpang pun turun dari kapal.

Terik panas mentari siang itu membakar kota Labuan Bajo. Namun, tidak membatasi keramaian. Teriakan para sopir trevel yang mencari penumpang pun sangat membisingkan telinga. “Ruteng, Ruteng, Ruteng?” satu kata yang terucap sesering mungkin saat melihat orang yang menggendong ransel atau mendorong koper. Rino dan Yasmi pun disapa kesekian kalinya.

Segala macam ekspresi terpampang di setiap wajah yang ada. Penumpang yang baru turun dari kapal pun amburadul menjadi satu dengan yang akan segera berangkat. Ada yang berpelukan diiringi tangis pilu karena akan segera melangsungkan upacara perpisahan. Ada pula yang berpelukan karena melepas rindu yang tersimpan bertahun-tahun lamanya. Suasana ramai pun tercipta di bahu pelabuhan saat kedatangan kapal penumpang itu yang sebentar lagi akan pergi.

Rino dan Yasmi berpelukan. Rino mengecup kening kekasihnya yang terakhir kali sebelum kapal itu membawa kekasihnya. Dua orang anak kecil sedang asik makan es krim berada di dekat mereka, menjadi saksi bibir yang beraksi untuk membekas di kening Yasmi. Kedua anak itu kegirangan melihatnya.

Hubungan keduanya telah direstui oleh kedua belah keluarga. Orang tua Yasmi sering mempercayakan Rino untuk menjaga Yasmi apabila ada urusan ke luar atau kemana saja. Kedua belah keluarga berencana akan menikahkan Rino dan Yasmi setelah Yasmi selesai kuliah. Kalau diperkirakan, mungkin empat tahun lagi.

Pertunangan yang dilaksanakan beberapa hari lalu, menjadi kekuatan untuk mengikat janji mereka. Sebuah kebiasaan dalam budaya Manggarai, bahwa acara pertunangan akan menjadi kekuatan untuk mengikat sepasang insan yang saling mencintai dan tidak mencintai orang lain lagi. Pertunangan menjadi tahap pertama menuju tahap pernikahan.

Petugas kapal memberi pengumuman. Setengah jam lagi kapal akan berlayar. Bagi semua penumpang yang hendak berangkat, segera masuk ke dalam kapal. Bagi keluarga atau teman yang mengantar sampai ke dalam kapal untuk segera turun dari kapal. Rino yang sedari tadi mengantar kekasihnya di kapal, dengan berat hati, Ia melangkahkan kaki untuk segera meninggalkan kekasihnya di ruang kapal itu. Tangisan sedih tak rela melepaskan sang kekasih pun mengiringi langkahnya untuk turun dari kapal itu.

Dari bahu dermaga Ia melambai-lambaikan tangan sambil menyeka air mata. Pun sebaliknya, Yasmi melambaikan tangannya dari kapal. Air mata pun tak kunjung terbendung. Tali-temali dilepas. Bel panjang kapal berbunyi hendak berpamit pada bibir dermaga yang kian bercumbu dengan dinding kapal. Kapal itu pun segera berlayar. Pandangan Rino masih mengikuti pelayaran kapal itu.

Rino duduk pada sayap dermaga, pandangan Rino yang penuh perasaan masih enggan untuk berbalik. Kapal berlayar semakin ke dalam untuk mengarungi laut yang membentang luas. Meskipun bukan Yasmi lagi yang dapat dilihatnya, pandangan masih terarah pada kapal yang berlayar itu. Ia baru tersadar saat pandangannya yang terhalau oleh pulau kecil.

Mulai saat itu, hampir tiada saat tanpa saling merindukan. Tiada hari tanpa kabar. Akun WA dan Facebook menjadi media penyambung rindu antara Rino dan Yasmi.


“Dret..dret…dret..” HP yang diletakkan di atas meja samping tempat tidurnya bergetar. Buku yang sedari tadi dibacanya dilepaskan. Ia langsung membuka pesan yang masuk dalam HP-nya.

“Selamat malam, Kaka. Sebelumnya, dari lubuk hati yang paling dalam, aku meminta maaf kepada Kaka. Aku menyadari, kini aku telah mengingkar janji manisku yang dahulu pernah terucap. Aku telah mengecewakan Kaka. Aku sangat bersalah kepada Kaka. Aku benar-benar tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku mencintai seseorang yang sangat tulus mencintaiku. Kini aku telah jatuh ke pelukannya. Sekarang aku sedang mengandung seorang putera dari laki-laki yang kini kusebut ‘suamiku’. Sekali lagi, Maafkan aku, Kaka”.

Antara rasa percaya dan tidak percaya mengaluti hati Rino. Pesan dari nomor baru itu bagaikan tusukan panah tanpa tahu arah datangnya. Pesan yang benar-benar mengagetkan Rino.

Tidak menunggu lama setelah SMS masuk itu dibacanya, Ia langsung mencoba meneleponnya untuk memastikan dari siapa pesan itu. Begitu Ia ingin mengklik untuk memanggil, tiba-tiba ada panggilan masuk.

“Kring..kring…kring…”. Nomor yang baru mengirim pesan itu menelepon.

“Halo” suara dari seberang telepon itu, tetapi bukan suara perempuan.
“Iya, halo” jawab Rino sambil menyeka air matanya.

“Apakah ini dengan Kaka Rino?”
“Iya benar. Anda siapa?

“Kaka, saya Arman. Saya tahu kaka dari Yasmi. Yasmi sudah menceritakan semuanya tentang Kaka. Sekarang Yasmi dan saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada Kaka, karena Yasmi telah mengkhianati cinta Kaka. Sedangkan aku, aku telah merebut Yasmi dari Kaka. Sekali lagi, dari hati yang terdalam kami benar-benar minta maaf kepada Kaka”.

Suara laki-laki yang bisa disebut suami Yasmi itu tidak dijawab sekatapun oleh Rino. Dan Rino tidak tahu harus menjawabnya bagaiamana. Ia hanya bisa mematikan telepon itu. Tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya selain desahan tangis yang begitu berat keluar dari hatinya. Hatinya sangat perih, sugguh sangat sakit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here