Cerpen: Hardy Sungkang

Belum setahun mereka pergi tanpa tanda. Tanpa pamit dan senyuman. Dunia tampak gelap. Harapan kosong dan rindu semakin mencekam. Sukma ragaku ditelan pupus dan asa. Sedih. Dunia ini tua. Setua umur ibu dan bapakku.

Hampir saja negeri ini pergi meninggalkan angin kebencian. Angin kedengkian. Lalu, ke manakah arah asa dan ragaku melayang dan bersandar? Kecewa. Aku kecewa sekali melihat murkanya alam. Kecewa melihat geliatnya akal dan nalar manusia hingga tidak takut membunuh manusia lain sebagai bagian dari dirinya.

Hampir saja enam bulan lamanya aku bersama adik kecilku hidup sendiri di bawah atap rumah kosong tanpa bapa dan mama. Kami hidup sebatang kara. Tanpa tanda asal segalanya ada dan tiada.

 Bapa mama pergi meninggalkan duka besar bagi kami. Aku bersama adikku ingin pergi mencari jejak mereka, namun pemerintahku melarang. Lantaran di manakah tempat mereka berdua beristirahat? Aku bingung. Lebih bingung memikirkan hari esok.

“Kaka. Bapa dan mama pergi ke mana?” tanya adikku Casello yang baru berusia enam tahun itu.

“Mereka pergi mencari sunyi. Pergi menemukan suka dan kegembiraan yang terdalam”, pintahku dengan sedih dan penuh kekecewaan.

Aku sengaja menjawab adikku yang baru berusia sangat belia itu dengan banyak analogi puitis, agar dia tidak perlu bertanya lebih jauh. Sebab, hati ini terluka. Luka lebih ngeri dari irisan pisau tajam yang ada di dapur rumahku. Luka menganga seperti robekan nyawa manusia karena Corona.

Suatu malam yang lengang. Sepi menghujam. Di depan teras rumah, aku bersama adik kecilku bercerita tentang hari esok setelah Corona pergi meninggalkan dunia. Adikku bernama Casello. Itu pun tidak bisa menceritakan seperti apa masa depan. Ia tampaknya menangis terus. Mendung di matanya belum habis melepaskan hujan. Merah matanya sungguh menyedihkan.

Aku seperti ingin berteriak yang panjang dan biarkan semesta tahu isi hatiku. Biarkan bapa dan mama tahu keadaan kami selama kepergian mereka. Rumah ini sepi. Bintang di langit tampak tak bisa terbit kembali. Dunia tampaknya gelap. Sedih. Kemanakah arah hidup ini?

Melihat kota suci ini sepi tanpa penghuni seperti ruang hati tanpa denyutan nadi.
“Kemanakah mereka pergi?”

“Di rumah? Sampai kapankah mereka berada dalam rumah? Tuhanku dan kamu di mana? Sedih. Aku sepi tanpa mereka”.

Meratap tangis negeriku. Pemerintahku lelah. Lelah memikirkan stabilitas negeri yang terus menerus dirundung wabah Virus Corona. Oh Corona. Belum pergikah engkau dari dunia manusia ini? Mengapa engkau tidak membunuh jagoanmu yang bisa menciptakanmu? Bukankah engkau tahu usiamu terus menerus sirna oleh ketakutan dan perlawanan bangsa manusia lain di dunia ini? Pergilah Engkau. Biar aku pergi menemui Tuhanku untuk kembalikan bapa dan mamaku.

Tidak tenang. Casello tampaknya ingin berteriak. Sesekali ia menoleh ke arah dapur tempat mama biasa memasak makanan yang enak buat kami, kini menjadi sepi bisu. Hanya lemari dapur yang tampak. sementara tempat lainnya sebagai tempat mama sering berpapas kini seolah-olah hilang.

Mereka ke mana? pintahku
Casello menangis. Casello berteriak. “Teriak saja adikku. Biar dunia tahu hatimu luka tanpa mereka. Biar corona tahu bangsa kita sudah punah. Teriak saja.” desahku.

“Kaka, di manakah bapa dan mama?”, tanyanya lagi.
“Casello tenang. Mereka sedang tersenyum melihatmu dari langit biru bisu itu”,
Tapi…tapi mereka pergi apa ke langit?” pintahnya lagi.

Aku hampir saja tidak bisa bendung lagi untuk menangis yang panjang dan berteriak kembali. Tetapi tampaknya Casello belum puas dengan jawabanku.

“Casello. Dengarlah. Bapa dan Mama sudah mati meninggalkan kita selamanya. Mereka meninggal ditelan Virus Corona. Mereka tidak bisa menafkahi kita lagi. Kini kita mulai hidup sendiri”, pintahku.

Casello menangis. Air matanya tidak bisa terbendung lagi. Mendengar kata mama dan bapa takkan kembali lagi, Casello tampaknya tidak bisa bersuara. Ia bisu. Bisu karena penyesalan dan sedih. Sedih ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.

Suasan semakin hening dan sepih. Tiba-tiba Casello berteriak. “

Corooooooonnaaaaaa anjing kau,.. pergi. Pergiiii. Kembalikan bapa dan mamaku.

Dunia kaget mendengar tangisan itu. Namun corona tidak pernah mendengarkan. Lantas siapa yang salah? Corona datang sepeti pagi yang ganas, seperti terikan matahari, lalu akan hilang seperti senja dari peraduannya.

Pemerintah telah lelah. lelang menghimbau warganya. jangan berpergian terlalu jauh. sebab di sanalah kalian akan temukan kematian dan kegelisahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here